Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

PEMIKIR ANTI HADITS

Biografi Ignaz Goldziher

Ignaz Goldziher seorang Yahudi yang lahir di Székesfehérvar, Hungaria pada tanggal 22 Juni 1850. Ia terlatih dalam bidang pemikiran sejak usia dini. Dalam usia lima tahun, ia mampu membaca teks Bibel "asli" dalam bahasa Ibrani. Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Talmud pada saat berusia delapan tahun. Dalam usianya yang ke dua belas, ia seorang siswa sekolah yang telah memulai membuat karya tulisnya yang pertama tentang nenek moyang Yahudi serta pengelompokannya. Pendidikan S1-nya bermula pada usia 15 tahun, Universitas Budapest menjadi pilihannya setelah ia lulus dari sekolah, untuk mempelajari sastra Yunani dan Romawi kuno, bahasa-bahasa Asia, temasuk bahasa Turki dan Persia. 
            Ia sangat terpengaruh oleh pemikiran dosennya, yaitu Arminius Vambery (1803-1913),seorang pakar tentang Turki. Arminius Vambery lah yang banyak mewarnai kehidupan intelektual awal Goldziher. Arminius Vambery adalah keturunan Yahudi yang mengenalkan Theodor Herz (1860-1904) pendiri Zionisme, untuk melobi Sultan Hamid II terkait pendirian Negara Israel di Palestina.
Setelah menyelesaikan studinya di Budapest, Goldziher melanjutkan studinya di Universitas Leipzig, Jerman. Ia meraih gelar doktor dari universitas tersebut ketika berusia 19 tahun. Gelar itu diperolehnya setelah dibimbing selama dua tahun oleh Heinrich Fleisher, orientalis Jerman terkemuka. Setelah dari Leipzig, Goldziher melanjutkan penelitiannya di Universitas Leiden, Belanda, selama setahun. Selanjutnya, pada usianya yang ke-21, ia pulang ke kampung halamannya dan menjadi dosen privat (Privatdozent) di Universitas Budapest, Hunagria. Dosen privat pada saat itu adalah sebuah jabatan yang dianugerahkan kepada para intelektual muda sebagai sebuah keistimewaan untuk mengajar di universitas, namun tanpa gaji. Saat yang sama, Goldziher juga dipilih sebagai anggota " Akademi Sains Hungaria," sebuah penghargaan yang diberikan pada dirinya.
Sebagai "adat" para orientalis untuk mengunjungi dan menetap di negara-negara Muslim supaya secara langsung dapat berinteraksi dengan para ulama, Goldziher juga berkunjung ke Syria dan Mesir pada 1873-1874. Di Mesir, ia dikenalkan oleh Dor Bey,seorang pejebat keturunan Swiss yang bekerja di Kementrian Pendidikan Mesir. Melalui Dor Bey,Goldziher diperkenalkan kepada Riyad Pasha, Menteri Pendidikan Mesir. Setelah berkenalan beberapa lama dengan menteri pendidikan Mesir, Goldziher mengemukakan hasratnya untuk belajar di Universitas al-Azhar. Atas rekomendasi Riyad Pasha lah, Syakhul al-Azhar, 'Abbasi,Mufti Masjid al-azhar terbujuk. Setelah bertemu dengan Goldziher yang saat itu mengaku bernama Ignaz al-Majari(Ignaz dari Hungaria) dan mengaku dirinya "Muslim" (namun dalam makna percaya kepada Tuhan yang satu, bukan seorang musyrik) , serta dengan kelihaiannya berdiplomasi, maka Goldziher bisa "menembus" al-Azhar. Ia menjadi murid beberapa masyayikh al-Azhar,seperti Syaikh al-Asmawi, Syaikh Mahfudz al-Maghribi, Syaikh Sakka dan beberapa syaikh al-Azhar lainnya.
Setelah sukses "bersandiwara," Goldziher kembali ke Budapest. Ia menjabat sebagai Sekretaris Zionis Hungaria. Bagaimanapun, kajian tentang Islam lebih mewarnai kehidupannya dibanding keterlibatannya di bidang politik. Goldziher menulis banyak karya tentang studi Islam. Ia menulis misalnya, Muhammedanisnche Studien (Studi Pengikut Muhammad, 2 jilid,1889-1890); Die Riechtungen der islamischen Koranauslegung (Mazhab-Mazhab Tafsir dalam Islam,Leiden,1920) dan masih banyak lagi karya lainnya.
Setelah kembali ke Eropa, oleh rekan-rekannya ia dinobatkan sebagai orientalis yang konon paling mengerti tentang Islam, meskipun dan justru karena tulisan-tulisannya mengenai Islam sangat negatif dan distortif, mengelirukan dan menyesatkan.
Menurut perkiraan Prof. Dr. M.M. Azami, Dia adalah sarjana Barat yang pertama kali melakukan kajian terntang hadits. Yang melambungkan namanya adalah karyanya yang  berjudul Muhammedanische Studien (Studi Islam) sebagai “kitab suci”nya para orientalis hingga kini.


Pemikiran Hadis Ignaz Goldziher
            Goldziher mengatakan sunnah adalah istilah animis yang kemudian dipakai oleh orang-orang islam. Hal ini dibantah oleh Prof. Azami, menurut beliau kata-kata sunnah sudah dipakai dalam sya’ir-sya’ir jahiliyah, Al-Quran, dan kitab-kitab hadis untuk menunjuk kepada arti tata cara, jalan, perilaku hidup, syari’ah, dan jalan hidup. Kalaupun orang – orang jahiliyah atau penganut animisme menggunakan sebuah kata dalam bahasa arab untuk arti yang etismologis, maka hal itu tidak menjadi istilah jahiliyah atau animis. Kalau hal ini dibenarkan, maka bahasa arab pun seluruhnya juga istilah jahiliyah dan ini tentunya tidak akan diterima oleh akal sehat.
Ignaz Goldziher menuduh bahwa penelitian hadits yang dilakukan oleh ulama klasik tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu dikarenakan para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan. Karenanya, Goldziher kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu kritik matan saja.
Sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode kritik matan. Hanya saja apa yang dimaksud metode kritik matan oleh Goldziher itu berbeda dengan metod kritik matan yang dipakai oleh para ulama. Menurutnya, kritik matan hadits itu mencakup berbagai aspek, seperti politik, sains, sosio kultural dan lain-lain. Ia mencontohkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari, dimana menurutnya, Bukhari hanya melakukan kritik sanad dan tidak melakukan kritik matan. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam kitab shahih Bukhari tersebut terdapat hadits-hadits palsu.

Dari berbagai penelusuran dan penelitian para ulama terhadap tuduhan Goldziher tersebut. Ternyata tuduhan Goldziher seringkali ahistoris, irasional dan miskin data serta minimnya pengetahuan. Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh para orientalis lainnya termasuk Joseph Schacht.
Beberapa contoh di antaranya :
1. Hadits “Tidak diperintahkan pergi kecuali menuju ketiga Masjid, Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha.” Menurut Goldziher hadits ini palsu karena buatan Ibnu Shihab al-Zuhri bukan ucapan Nabi Saw sekalipun terdapat dalam kitab shahih Bukhari. Ibnu Shihab al-Zuhri menurut Goldziher dipaksa oleh Abdul Malik Bin Marwan penguasa dinasti Umayyah waktu itu untuk membuat hadits tersebut karena khawatir Abdullah bin Zubair (yang memproklamirkan dirinya sebagai khalifah di Makkah) menyuruh warga Syam yang sedang beribadah haji untuk berbaiat kepadanya. Karenanya, Abdul Malik bin Marwan berusaha agar warga Syam tidak lagi pergi ke Makkah, tetapi cukup hanya pergi Masjid al-Aqsha yang pada saat itu menjadi wilayah Syam. Para ulama menyatakan, tidak ada bukti historis yang mendukung teori Goldziher, bahkan sebaliknya. Para ahli tarikh berbeda pendapat tentang kelahiran al-Zuhri, antara 50 sampai 58 H. Al-Zuhri juga belum pernah bertemu dengan Abdul Malik bin Marwan sebelum tahun 81 H. Pada tahun 68 H orang-orang dari Dinasti Umayyah berada di Makkah pada musim haji. Apabila demikian adanya, al-Zuhri pada saat itu masih berumur 10 sampai 18 tahun. Karenanya sangat tidak logis seorang anak yang baru berumur belasan tahun sudah populer sebagai intelektual dan memiliki reputasi ilmiah di luar daerahnya sendiri, dimana ia mampu mengubah pelaksanaan ibadah haji dari Makkah ke Jerusalem. Lagi pula di Syam pada saat itu masih banyak para sahabat dan tabi’in yang tidak mungkin diam saja melihat kejadian itu.
Sementara teks haditsnya sendiri tidak menunjukkan bahwa ibadah haji dapat dilakukan di Jerusalem. Yang ada hanyalah isyarat pengistimewaan kepada Masjidil Aqsha yang pernah dijadikan kiblat umat Islam. Di sisi lain, hadits tersebut diriwayatkan oleh delapan belas orang selain al-Zuhri. Lalu kenapa hanya al-Zuhri yang dituduh memalsukan hadits tersebut?
Dari sini nampaknya tidak terlalu sulit bahwa tujuan utama Goldziher adalah untuk meruntuhkan kredibilitas Imam Bukhari. Apabila umat Islam sudah tidak percaya lagi kepada shahih Bukhari, maka hadits-hadits Rasulullah Saw di dalamnya tidak akan dipakai lagi. Pada gilirannya kemudian Imam-Imam ahli hadits lainnya juga dikorbankan. Dengan demikian tamatlah sudah apa yang disebut hadits, dan robohlah satu pilar Islam.

2. Goldziher berpendapat bahwa hadits secara keseluruhan merupakan produk orang-orang yang hidup pada abad kedua atau awal abad ketiga hijriah dan bukan merupakan ucapan Nabi Saw., sebab hukum-hukum syariah tidak dikenal umat Islam pada kurun pertama hijriah. Sehingga para ulama Islam di abad ketiga banyak yang tidak mengetahui sejarah Rasul. Ia menukil tulisan al-Darimy, seorang Arab muslim dalam bukunya hayat al-hayawan (dunia hewan), dimana dinyatakan dalam tulisannya, bahwa Abu Hanifah tidak mengetahui secara pasti terjadinya perang Badar, apakah sebelum atau sesudah perang Uhud?
Tidak diragukan lagi, bagi orang yang sedikit penelaahannya terhadap sejarah akan menyatakan demikian. Abu Hanifah adalah ulama yang paling terkenal yang banyak berbicara tentang hukum peperangan dalam Islam, bisa dibuktikan melalui Fikihnya yang sangat fenomenal dan buku-buku karangan murid-muridnya seperti Abu Yusuf dan Muhammad.
Dari buku karangan Abu Yusuf Sirah Imam al-Auza’i dan buku karangan Muhammad Sirah Kabir, jelas menunjukkan penguasaan para murid Imam Abu Hanifah terhadap sejarah peperangan Islam yang menyiratkan keluasan pengetahuan gurunya, Imam Abu Hanifah.
Goldziher sebenarnya mengetahui kedua kitab itu yang menetapkan apakah Imam Abu Hanifah itu bodoh atau berpengetahuan tentang sejarah peperangan Islam, kecuali memang untuk merusak kredibilitas ulama besar tersebut. Goldziher bersandar kepada buku al-Darimy yang membahas dunia hewan, terlebih lagi bahwa buku itu bukan buku sejarah atau fikih. Dengan demikian membuktikan bahwa Goldziher keliru tanpa terlebih dahulu membuktikan kebenaran sumbernya.

3. Goldziher telah memfitnah Wakî‘ dengan mengubah pernyataan Wakî‘ tentang Ziyâd Ibn ‘Abdillah al-Bukkâ'î, هو أشرف أن يكذب "Beliau sangat jauh dari melakukan kebohongan"
Menjadi: إنه مع شرفه في الحديث كان كذوبا "Dia itu dibalik kemuliaannya dalam hadis adalah seorang pembohong"       
Sepintas saja, terlihat perbedaan makna yang sangat mencolok. Wakî‘ bermaksud meniadakan sifat bohong pada diri Ziyâd secara mutlak, bukan hanya kebohongan dalam hadis saja. Tetapi, Goldziher menyatakan yang sebaliknya bahwa Ziyad adalah seorang pembohong.

4. Goldziher menyatakan bahwa hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan dan anjuran penulisan hadis itu berstatus maudhu‘. Semua hadis ini telah dibuat-buat oleh kelompok muhaddits dan ahl al-ra'y (ahli fikih) untuk mendukung pendapatnya masing-masing. Hadis-hadis tersebut adalah
a.       Hadis tentang larangan menulis sabda Nabi Muhammad Saw dari Abu Sa‘îd al-Khudry: لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ...الحديث(رواه مسلم) "Jangan kalian tulis ucapan-ucapanku, dan barangsiapa menulis ucapanku selain al-Qur'an, hendaknya ia menghapusnya!"
2. Hadits tentang anjuran Nabi Saw untuk menulis sabdanya dari Abu Hurairah:
...اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ...الحديث (رواه الشيخان) "… Tuliskanlah untuk Abu Syah!...."
Menurutnya, hadis yang berisi tentang larangan Nabi Saw atas penulisan hadis telah dibuat oleh ahl al-Ra'y, sedangkan hadis yang kedua yang memperbolehkan bahkan menyuruh penulisan hadis dibuat oleh para muhaddits.
Al-A‘zhamy menjawab kritikan ini dengan pernyataannya bahwa jika melihat daftar nama orang-orang yang menentang dan memperbolehkan penulisan hadis, akan diketahui bahwa tuduhan tersebut tidak benar sama sekali. Sebab, orang yang terkenal keras dalam menentang penulisan hadis seperti Ubaidah dan Ibn Sirin adalah termasuk kelompok muhaddits. Sedangkan orang yang memperbolehkan dan mendorong penulisan hadis seperti Hammad Ibn Abu Sulaiman, al-Zuhri, al-A‘masy, Abu Hanifah, al-Tsaury, dan Malik adalah termasuk ahl al-ra'y.

5. Goldziher menuturkan bahwa "bimbingan resmi" dan kegiatan penguasa" untuk memalsukan hadis sudah ada sejak dini dalam sejarah Islam. Dampaknya tampak dalam pesan Mu‘awiyah kepada al-Mughirah agar ia mengucilkan ‘Ali dan pengikutnya, serta jangan menerima hadis-hadis mereka. Di pihak lain, Utsman dan dan para pengikutnya supaya disanjung-sanjung dan diterima hadisnya. Pesan ini merupakan "siaran resmi" yang melegalisir pemalsuan hadis untuk memojokkan ‘Ali demi membela kepentingan Utsman.
Glodziher menyimpulkan hal itu berdasarkan keterangan yang terdapat dalam tarîkh karangan al-Thabâry, di mana Mu‘awiyah berpesan kepada al-Mughirah, "Jangan segan-segan mencaci dan mengecam ‘Ali, dan jangan bosan menyayangi dan memohonkan ampunan untuk Usman. Aib berada pada pengikut-pengikut ‘Ali, karenaya kucilkanlah mereka dan jangan didengar ucapannya!"
Dr. Al-A‘zhamy menjawab, "Orang yang membaca teks-teks tersebut berikut kesimpulannya akan merasa heran. Sebab perang antara Sayyidina ‘Ali dan Mu‘awiyah sudah menjadi saksi sejarah. Memang merupakan suatu kewajaran, jika dalam suatu negara, pemerintah selalu mengangkat pegawai dan pejabat yang loyal kepadanya, bukan pembangkang. Inilah yang dilakukan Dinasti Umayyah pada saat itu.
Di samping itu, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka memalsukan hadis, baik secara resmi maupun tidak. Yang ada hanyalah ucapan Mu‘awiyah kepada al-Mughirah. Tidak ada kritikan atas Mu‘awiyah kecuali hanya karena ucapannya itu kalau benar ia mengucapkan demkian. Dan sejauh Itu, tidak ada tanda-tanda bahwa Mu‘awiyah sebagai seorang pemalsu hadis."


Diramu dari :
Hadis Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya, karangan Prof. Dr. MM. AZAMI
Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis, oleh Dr. Mahmud Ali Fayyad
Imam Bukhari Dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis, oleh H. Ali Mustafa Yaqub M.A
MM Azami Pembela Eksistensi Hadis, editor Nurul Huda Ma’arif

Selasa, 01 November 2011

Rahasia Pemurtadan Korban Gempa



Para misionaris tidak bisa dipisahkan dari korban bencana dan musibah. Di mana ada bencana, di situ misionaris beraksi. Para korban bencana yang sedang dirundung duka, sangat memerlukan uluran bantuan untuk meringankan beban deritanya. Sementara para misionaris yang mengamalkan prinsip cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16), memiliki modal untuk memberikan bantuan sembari mengusung misi penginjilan kepada segala makhluk (Markus 16:15).

Kegigihan para misionaris dalam menjala aqidah umat Islam, bisa kita lihat dalam teori penginjilan yang diajarkan Dr HL Senduk dari Gereja Bethel: “Kita harus memimpin jiwa itu sehingga ia mengambuil keputusan. Ada waktu menabur dan ada waktu menuai. Setelah sudah kita menginjili, maka kita akan menuai... yakinkan dia bahwa sekarang dia bisa jadi anak Allah, jika ia suka terima Tuhan Yesus di dalam hidupnya. Jangan lepaskan jiwa itu sebelum saudara mengajak dia menerima Kristus, sehingga ia berkata: “Saya terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.” (Penginjil yang Sukses, hal. 11).

Setelah diguncang gempa tektonik berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR), kaum muslimin di wilayah Sumatra Barat (Sumbar) menderita lahir-batin. Mereka sangat memerlukan bantuan dari pihak luar Sumbar. Meski pemerintah dan kaum muslimin sudah bahu-membahu meringankan beban ini, namun pihak misionaris tak mau ketinggalan. Mereka berduyun-duyun mendatangi Sumbar dengan bantuan materi di tangan kanan, dan segenggam misi salibis di tangan kiri.

Fakta gerakan kristenisasi terhadap korban gempa Sumbar ini, sebagian telah dilaporkan muslimdaily.net (28/10/2009), antara lain terjadi di daerah Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan Koto Timur, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Koto Tinggi terletak di kawasan pegunungan dan perbukitan yang cukup berat diakses dari darat mengingat lalu lintas jalan terputus total. Bangunan-bangunan yang ada hampir semua rubuh dan rusak parah.

Menurut keterangan warga setempat, upaya pemurtadan ini tidak dilakukan secara terang-terangan, tapi secara halus dan tersembunyi, oleh sebuah LSM Samaritan yang mendapat bantuan dari Amerika Serikat. Modus pemurtadan LSM Samaritan adalah indoktrinasi berkedok terapi mental terhadap anak-anak korban gempa. Di kamp pengungsian, anak-anak itu tidak hanya diterapi mental, tapi juga didoktrin dengan ajaran kekristenan. Seorang warga, sebut saja Asril, menirukan trik-trik indoktrinasi relawan sbb:

“Siapa tuhanmu?” tanya sang relawan.
“Alloh SWT,” jawab anak-anak itu.
“Bukan Alloh SWT, tetapi Allah,” kata sang relawan. Ia tidak mau anak-anak itu menyebut Alloh (sesuai dengan aksen lafzhul jalalah yang benar), dan merubah dengan Allah (yang dibaca “alah” seperti tradisi umat Kristiani.
“Kalian tahu Isa? Siapakah beliau?” tanya sang relawan lagi.
“Isa adalah Rasul utusan Allah,” jawab anak-anak.
“Bukan, Isa adalah Anak Allah yang suci,” tukas sang relawan.

Demikian cuplikan terapi mental yang disampaikan kepada anak-anak Muslim di kamp pengungsian. Terapi mental ini sama sekali tidak efektif untuk memulihkan mental-spiritual anak-anak korban gempa, justru menambah beban mental anak-anak itu.

Sementara mental mereka belum pulih dari kesedihan, putus asa dan trauma, malah diberi beban mental baru oleh para misionaris untuk mempercayai doktrin yang bertolak belakang dengan keyakinan Islam yang mereka imani.

Modus pemurtadan lainnya adalah iming-iming bantuan logistik selama tiga tahun penuh dengan kehadiran 5 helikopter setiap hari non stop, minimal 2 helikopter kepada warga setempat. Tentunya, tawaran ini sungguh sangat menggiurkan di tengah badai musibah gempa.

Sayangnya, kata warga, persyaratan yang diajukan LSM itu terlalu berat: warga harus berganti agama Kristen, wajib menghadiri acara-acara kerohanian Kristen, dilarang lagi pergi ke masjid dan menghadiri acara-acara keislaman. Warga pun menolak proposal bantuan LSM ini dengan alasan keimanan. Warga mau menerima bantuan itu jika diberikan secara tulus dan cuma-cuma tanpa ada embel-embel keharusan pindah iman. Ratusan warga sepakat menandatangani nota bersama untuk mengusir paksa LSM itu karena dianggap memaksakan keyakinan dan melanggar hukum.

Penyebaran Kristen berkedok bantuan kemanusiaan itu bukanlah membantu orang susah, tapi malah membuat suasana semakin resah. Seharusnya para misionaris bisa membedakan antara bantuan tulus dengan misi akal bulus. Bantulah sesama manusia setulus hati, sesuai wasiat Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). Misi kemanusiaan di Sumbar adalah keterpujian, tapi jika disusupi dengan misi pengkristenan, maka itu adalah pelanggaran terhadap amanat Yesus: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6).

Upaya pemurtadan atas korban gempa sumbar bukan isapan jempol, urang awak harus waspada. Cukuplah penderitaan gempa itu, jangan ditambah dengan bencana kemurtadan. Waspadai misi salibis dan seluruh iming-imingnya. Dalam petuah Minang, misi kristenisasi dengan iming-iming materi itu disebut “muncuang disuoki jo pisang ikua dikaik jo duri.” Lahiriahnya tampak menolong, padahal sebenarnya menodong.

Kaum Muslimin harus membuktikan ukhuwahnya. Bila umat Islam enggan membantu saudaranya yang tertimpa musibah, berarti mereka telah memuluskan orang di luar Islam untuk datang membantu sambil menyebarkan misi agamanya. Bantulah sesama muslim yang tertimpa musibah dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Karena kekuatan umat Islam ada pada kebersamaan, saling sedekah, saling meringankan beban orang lain. Kata orang tua, setiap orang wajib melindungi negerinya. Adat banagari mamaga nagari.

Yesus itu Anak Allah ataukah Allah Anak?

Misionaris Samaritan ingin menjebol akidah anak-anak korban gempa Sumbar yang sudah mapan. Meski iman kepada Isa alaihissalam sebagai Nabi utusan Allah adalah akidah yang shahih, tapi para misionaris ingin menukarnya dengan keyakinan batil bahwa Isa adalah Anak Allah.

Doktrin bahwa Yesus adalah Anak Allah ini mengacu kepada pernyataan Iman Rasuli: “Aku percaya kepada Allah Bapa... dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal.”

Dalam dogmatika tentang Kristus (Kristologi), oknum Yesus diyakini memiliki fungsional sebagai anak Allah yang tunggal sekaligus Allah Anak yang menjadi satu dengan manusia. Dr R Soedarmo dalam “Ikhtisar Dogmatika” menjelaskan: “Allah Anak menjadi satu dengan manusia. Dengan demikian Kitab Suci menyatakan bahwa Anak Allah menjadi satu dengan manusia.” (hlm. 163).

Dalam kacamata Al-Qur’an, Nabi Isa bukanlah anak Tuhan, baik secara biologis maupun secara rohani. “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia...” (Qs Maryam 35). “Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (Qs Maryam 92).

Sedangkan dalam kacamata Alkitab (Bibel), keyakinan terhadap Yesus sebagai Anak Allah agaknya bisa dimaklumi karena istilah “anak Allah” memang banyak disebutkan dalam Alkitab. Namun perlu diketahui bahwa istilah ini harus dipahami secara kontekstual, bukan secara biologis. Sebab menurut Alkitab, pengertian “anak Allah” adalah predikat keshalehan, antara lain: semua orang yang dipimpin oleh roh Allah disebut anak Allah (Roma 8:14); semua orang yang membawa perdamaian disebut sebagai anak Allah (Matius 5:9); orang yang mengasihi dan berbuat baik kepada musuh juga disebut sebagai anak Allah (Lukas 6:35). Kenyataannya, sebutan anak Allah dalam Alkitab itu bukan monopoli Yesus saja. Banyak sekali orang yang disebut anak Allah dalam Bibel, di antaranya: Nabi Adam (Lukas 3:38), Israel (Keluaran 4:22), Efraim (Yeremia 31:9), dll.

Problem teologi justru akan muncul jika Yesus diyakini sebagai Allah Anak, karena istilah “Allah Anak” sama sekali tidak pernah disebutkan dalam kitab suci, baik Al-Qur’an maupun Bibel. Istilah  “Allah Anak” hanya bisa dijumpai dalam pernyataan doktrin Trinitas. Meyakini Yesus sebagai Allah Anak adalah keanehan, karena tidak didukung satu ayat pun dalam kitab suci. Lebih membingungkan lagi adalah keyakinan bahwa Anak Allah sama dengan Allah Anak. Sebab menyamakan istilah “Anak Allah” dengan “Allah Anak” sama anehnya dengan orang yang menyamakan antara “Anak Dokter” dengan “Dokter Anak.”

Oleh : A. AHMAD HIZBULLAH MAG  [www.ahmad-hizbullah.co.cc]

Senin, 31 Oktober 2011

Lenyapnya Iman Tauhid Dalam Kristen


LENYAPNYA IMAN TAUHID DALAM KRISTEN

Dr. Muhammad Ataur Rahim, menyatakan bahwa pada abad pertama sepeninggal Yesus, murid-murid Yesus masih tetap mempertahankan ketauhidan secara murni. “Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah The Shepherd (Gembala) karya Hermas, yang ditulis sekitar tahun 90 Masehi. Menurut Gereja, naskah itu termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci). Di antara isi dari naskah tersebut berbunyi, ‘Pertama, percayalah bahwa Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan  dan  mengatur  segalanya.  Dia  menciptakan  sesuatu dari tiada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi dia ti-dak diliputi oleh apa pun…’” Bahkan menurut Theodore Zahn, sebagaiman dikutip EJ. Goodspeed di dalam Apostolic Fathers, sampai dengan sekitar 250 Masehi, kalimat ke-imanan umat Kristen masih berbunyi, “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa.”[1]
Agama Kristen pada awalnya menganut ajaran monoteisme, kepercayaan kepada satu Allah yang benar, seperti yang diajarkan oleh agama Yahudi. Sebab Yesus tidak membawa syariat baru. Dia datang ke dunia untuk menegakkan hukum Taurat.
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Sesungguhnya selama belum  lenyap  langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Matius 4:17-18
E. F. Scott dalam Encyclopedia of Religion (Frem, 1964:170) mengungkapkan bahwa Gereja Kristen purba meniru tradisi Yudaisme dalam hampir semua segi. Mereka menganggap diri mereka sebagai “Israel baru” dan mengenakan nama ecclesia, salah satu nama yang dipakai dalam kitab-kitab Perjanjian Lama untuk menyebut himpunan orang Israel. Angota-anggota gereja Kristen purba mayoritas, bahkan mungkin seluruhnya, orang Yahudi.
Yesus sendiri menyatakan dirinya diutus Allah hanya kepada bangsa Israel, bukan kepada seluruh umat manusia.
“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Matius 15 : 24
Bahkan ketika mengutus dua belas muridnya untuk mewartakan Injil di tanah Palestina, Yesus bersabda:
”Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Matius 10 : 5-6
Yesus secara khusus memerintahkan murid-muridnya untuk tidak mewartakan injilnya kepada orang-orang non-Yahudi, tetapi membatasi ajarannya untuk ”domba-domba yang tersesat dari tanah Israel”. Lebih jauh, Yesus juga memerintahkan murid-murid itu untuk tidak memasuki kota-kota kaum Samaritan, yaitu, orang-orang campuran Assiria dan keturunan Israel, yang melaksanakan jenis agama Yahudi mereka sendiri, lengkap dengan versi Taurat mereka. Dengan pembatasan ini, Yesus konon membatasi misinya dan misi murid-muridnya, bukan hanya untuk ”domba-domba yang tersesat dari tanah Israel”, tetapi juga hanya untuk salah satu segmen dari ”domba-domba yang tersesat itu”, yaitu mereka yang nenek-moyangnya tidak ”tercemar” dengan darah Assiria.[2]
Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena ketika abad ke-2 M pekabaran Injil semakin meluas dan menjangkau bangsa non-Yahudi, yakni bangsa Yunani yang ber-kebudayaan Hellenistik. Tokoh kuncinya adalah Paulus. Paulus menganggap bahwa arti Yesus tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi, tetapi  bersifat universal, sehingga dengan giat ia membawa risalah Yesus kepada bangsa non-Yahudi. Keputusan ini mungkin sebab utama keretakan yang pertama di kalangan pengikut Yesus.
Apakah keputusan Paulus itu benar atau tidak? telah diputuskan oleh para pendeta Kristen  pada  konsili di Jerusalem, di mana mereka setuju bahwa keputusan Paulus adalah benar. Pertimbangan dari keputusan itu tercatat dalam Kisah Rasul 15. Maka, gerakan Kristen berubah dari sekelompok kecil yang berakar pada agama Yahudi menjadi sekelompok besar dengan risalah yang bersifat universal.[3]
Konsili Yerusalem 49 M juga membebaskan umat Kristen non-Yahudi dari ritual  sunat  (khitan)  dan  upacara-upacara Yahudi. Banyak orang Yudeo-Christian yang menentang perlakuan khusus ini. Kelompok ini memisahkan diri dari Paulus karena menganggap Paulus telah berkhianat dan menyimpang dari ajaran Yesus.
Hingga 70 M, kelompok Yudeo-Christian merupakan mayoritas dalam gereja. Ketua kelompok Yudeo-Christian  adalah Jacques seorang kerabat Yesus. Ia didampingi oleh Pe-trus dan Yohanes. Keluarga Yesus memegang peranan penting dalam kelompok Yudeo-Christian. Namun sejak pemberontakan Yahudi terhadap Romawi dan jatuhnya Yerusalem pada 70 M, keadaan menjadi terbalik. Aliran Yudeo-Christian dimusuhi dan dijauhi di seluruh wilayah kekuasaan Romawi. Sebaliknya, ajaran Paulus makin populer. Ajaran ini makin lama makin jauh dari sumber aslinya dan cenderung merupakan agama baru. Bahkan bentuk pemberitaan Injil pun mengalami pergeseran dari alam pikir Yahudi ke Yunani.
Ketika dalam abad ke-2 M titik berat gereja dan begitu juga teologinya  bergeser  secara  definitif  dari  lingkungan Palestina ke dunia pemikiran Yunani, maka gereja menghadapi  keperluan  mendesak  untuk  mengungkapkan imannya dalam suatu  bentuk  yang  dapat  dipahami  secara  atau mengikuti cara berpikir Yunani. Akibatnya adalah masuknya cara berpikir metafisik menggantikan bentuk-bentuk berbicara AlKitab yang bersifat konkret. Sebagaimana kita ketahui, pemikiran Yunani berbeda dari pemikiran AlKitab terutama dalam hal ini yaitu, bahwa bagi AlKitab Allah menyatakan diri-Nya dalam sejarah, sedangkan bagi pemikiran Yunani Allah dilihat sebagai yang didasarkan atas keberadaan yang metafisika. (Lohse, 1994:51)
AlKitab mengajarkan bahwa Allah itu adalah suatu Roh, kekal, tidak terikat, tidak terbatas dan tidak berubah. Allah itu transenden, sangat jauh, tetapi Dia imanen, hadir. Dia sangat berkuasa dan hadir di mana-mana, yang melihat segala sesuatu dan memerintah alam semesta. Karena Ia adalah suatu intelegensia yang mahatinggi, yang tidak memiliki tubuh, atau bentuk, atau warna, dan yang tidak dapat ditangkap panca indera.  Hanya ada satu Allah yang hidup dan benar, kekal, tanpa tubuh atau anggota badan, dengan kekuatan, kebijaksanaan dan kebaikan yang tak terbatas, pencipta dan pelindung segala sesuatu. Karena itu, bangsa Yahudi yang taat pada hukum Taurat Musa menyakini bahwa keberadaan Allah sudah tidak perlu dipertanyakan, apalagi dibuktikan, sebab Ia sudah nyata-nyata berkarya menciptakan alam semesta.
Yahweh selalu merupakan allah yang transenden, yang mengarahkan umat manusia dari atas dan dari luar… Doktrin resmi apa pun akan membatasi misteri terdalam Allah. Para Rabi menunjukkan bahwa Dia sama sekali tak terpahami. Bahkan Musa pun tidak mampu menembus misteri Allah. Setelah pencarian panjang, Raja Daud telah mengaku bahwa sia-sia belaka mencoba untuk memahami-Nya, karena Dia terlalu tinggi untuk pikiran manusia. Orang-orang Yahudi bahkan dilarang untuk menyebut nama-Nya, sebuah amaran yang keras bahwa setiap upaya untuk mengungkapkan Dia tidaklah memadai: nama ilahi itu dituliskan YHWH dan tidak diujarkan dalam pembacaan kitab suci yang manapun. (Armstrong, 1993:73-74)
Dzat Allah SWT lebih besar dari apa yang dikuasai oleh akal manusia, dari apa yang terjangkau oleh pikiran-pikiran manusia atau yang mungkin diduga oleh akal dan pikiran manusia. Akal dan pikiran manusia terbatas; Allah SWT menguasai segala batas yang membatasi akal pikiran manusia. Karena itu, akal pikiran manusia tidak akan pernah mampu mengetahui Dzat Allah SWT.
Ajaran agama melarang manusia untuk memikirkan Dzat Allah, tetapi lebih baik memikirkan ciptaan-Nya. Sikap tersebut sama sekali bukan pengekangan terhadap kebebasan berpikir atau dukungan bagi kebekuan wawasan, melainkan sikap yang menyadari keterbatasan diri manusia, yang akan menolong manusia agar tidak terperosok dan tersesat oleh pemaksaan di luar batas kemampuannya. Akal pikiran dilindungi dari usaha mencoba-coba yang tidak mempunyai kelengkapan sarana. Mengenai hal ini, Allah berfirman:
“Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Qs. An-Nahl (16) ayat 60
Sikap seperti itu sama sekali tidak mengurangi wujud-Nya. Wujud-Nya nyata bersemayam di dalam setiap jiwa, tercermin dengan jelas pada keajaiban dan keindahan segenap ciptaan serta keagungan tanda-tanda-Nya. Bahkan, orang-orang kafir pun bila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka tentu akan menjawab: “Allah.”
Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). Dan jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi yang sudah mati?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti. Qs. Al Ankabut (29) : 61, 63
Pencipta alam tidak berwujud fisikal, karena wujud fisikal, dapat disentuh dan dirasa, dan memerlukan tempat dan ruang. Seperti matahari, bulan, planet-planet, pohon, laut, manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Dzat Tuhan tidak terbatas. Dia bukan fisik, tidak berbentuk dan tidak akan memerlukan tempat dan ruang. Dia menguasai dan memerintah di semua tempat.
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Milik-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Qs. Asy Syuura (42) : 11-12
Tapi alam pikir Yunani jelas tidak puas dengan keimanan bangsa Yahudi yang menyakini bahwa keberadaan Allah tidak perlu dipertanyakan lagi. Yunani sudah terkenal sebagai tempat lahirnya para filsuf purba: Thales, Socrates, Heraklitos, Parmenides, juga dua filsuf besar Plato dan Aristoteles. Metafisika adalah jantung dari filsafat karena metafisika menyediakan dasar yang terakhir dan prinsip-prinsip yang tertinggi bagi masing-masing bidang tertentu dari penelitian filosofis (Bagus, 2000:630). Pendek kata, alam pikir Yunani senang berpikir abstrak dan berspekulasi, membuat teori tentang hakikat (yang tak terlihat) dari kenyataan yang terlihat (Kristi, 2009:77).
Ketika orang-orang Yunani menjadi Kristen, mereka mencerna AlKitab dalam alam pikir mereka. Mereka mencoba untuk menciptakan gagasannya sendiri tentang keberadaan Allah sehingga banyak bermunculan berbagai aliran teologis. Zaman itu dikenal sebagai zaman patristik (abad pertama hingga abad keempat Masehi). Disebut zaman patristik karena pada zaman ini, umat kristiani terbelah dalam berbagai aliran teologis yang dianut oleh para patris (imam atau pendeta tinggi).
Basilides (90-150 M) menjelaskan bahwa Tuhan Perjanjian Baru yang digambarkan Paulus adalah Tuhan Bapak Yang Tertinggi yang menjadi sumber cinta kasih. Kristus adalah Anak dari Tuhan Bapak. Kristus dikirim oleh Tuhan Bapak untuk menolong manusia dari cengkeraman hukum keadilan Tuhan versi Perjanjian Lama.
Markion (100-160 M), sepaham dengan Basilides tentang adanya dua macam Tuhan. Markion berpendapat Yesus bertubuh maya bukan sebagai manusia kongkret. Namun, aliran ini hanya mengakui injil Lukas dan 10 surat kiriman Paulus. Aliran ini juga sangat membenci Tuhan versi Perjanjian Lama, yang dianggap berperan dalam penyaliban Yesus.
Ireneus (150-202 M). Patris ini tidak menerima konsep dua Tuhan. Menurutnya, Tuhan Perjanjian Baru dan Tuhan Perjanjian Lama adalah satu. Ireneus juga menolak konsep Yesus bertubuh maya. Menurutnya, Yesus adalah benar-benar jelmaan Tuhan.
Tertullianus (155-220 M). Aliran ini sejalan dengan ajar-an Paulus, terutama tentang dosa warisan. Ia mencoba menyempurnakan konsep dosa warisan secara filosofis menurut hukum sebab akibat. Tentang ketuhanan Yesus, Tertullianus menganggap Yesus sebagai Tuhan yang lebih rendah daripada Tuhan Yang Tertinggi.
Arius (270-350 M) adalah seorang pendeta dari Alexandria yang teguh memegang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Konsep Arius tentang Ketuhanan menimbulkan kontroversi besar. Karena berbeda dengan kebanyakan patris, Arius menolak konsep ketuhanan Yesus.
Menurut Arius, Yesus itu makhluk, tak sehakikat dengan Allah. Sifat-sifat ketuhanan pada Yesus bukan sifat yang hakiki, melainkan anugerah dari Allah. Ketika pertama kali melontarkan konsepnya, Arius adalah seorang prebister (imam kecil). Karena ajarannya, Arius diusir dari Alexandria. Namun pendapatnya mendapat dukungan dari uskup-uskup Nicomedia, Maradonia, Palestina, Assiut, dan bahkan Konstantinopel. Faham Arius itu dengan cepat mendapat pengaruh di Mesir, Palestina, dan Konstantinopel.
Arius ingin menekankan perbedaan esensial antara Allah yang unik dengan semua ciptaan-Nya. Pengakuan iman Arius berbunyi: “Kami mengaku satu Allah yang satu-satunya tidak diperanakkan, yang satu-satunya kekal, yang satu-satunya tanpa awal, yang satu-satunya benar, yang satu-satunya tidak dapat mati, yang satu-satunya bijaksana, yang satu-satunya baik, yang satu-satunya Tuhan, yang satu-satunya hakim bagi semua”. (Armstrong, 1993:109)
Ajaran Arius sesuai dengan sabda Yesus, “…mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yohanes 17:3
Athanasius (uskup Alexandria) adalah patris yang paling keras menentang Arius. Athanasius[4] (298-373 M) sangat teguh berpendapat bahwa Yesus itu satu hakikat (homo ousius) dengan Allah. Ia mengajarkan bahwa Anak (Yesus) bukan makhluk dan setengah Tuhan atau Tuhan yang kedua. Dia satu zat dengan Tuhan Bapak dalam segala-galanya. Ketika Anak itu datang ke dunia, itu berarti Tuhan sendiri yang datang menyelamatkan manusia.
Menurut Athanasius, Anak mempunyai hakikat, sifat, dan kekekalan esensi yang sama dengan Bapa. Di antara keduanya tak ada  pemisahan  yang esensial. Hal ini tak berarti bahwa Anak satu pribadi dengan Bapa, karena mereka itu benar-benar “dua”.
[Athanasius] secara teguh berpegang pada pendapat bahwa Bapa dan Anak adalah “dua”. Ia menulis, “Kalau dikatakan bahwa Bapa dan Anak adalah satu,  tidak  dalam arti sebagai satu hal yang dibagi atas dua bagian, dan kedua-duanya ini tidak lain hanya satu, juga bukan sebagai sesuatu yang disebut dua kali, sehingga Yang Sama itu pada satu saat jadi Bapa, dan pada  saat  yang lain jadi  Anak-Nya sendiri. Justru karena berpegang pada pandangan inilah maka Sabelius dipersalahkan sebagai bidat. Tetapi Mereka adalah dua, oleh karena Bapa adalah Bapa, dan sebagai  Bapa Ia juga bukan Anak; dan Anak adalah Anak, dan sebagai Anak Ia tidak  juga dapat dilihat sebagai Bapa; tetapi hakikat adalah satu…” (Lohse, 1994:73)
Konflik antara Arius dan Athanasius seakan tiada akhir. Banyak orang di wilayah Yunani Timur menerima ajaran Arius, banyak juga yang menolaknya. Sebagian setuju dengan Athanasius, tetapi banyak juga yang tidak setuju. Gereja sendiri juga masih bingung, belum menentukan sikap, apakah menentang atau membela ajaran Arius?
Hari ini Arius adalah pemeo untuk bidat, tetapi ketika konflik ini pecah, belum ada posisi ortodoks yang resmi, dan sama sekali tidak ada kepastian mengapa atau bah-kan apakah Arius itu salah. Tidak ada hal yang baru dalam ajarannya: Origen, yang kedua belah pihak sangat hormati, telah mengajarkan doktrin yang serupa. Namun iklim intelektual di Aleksandria sudah berubah sejak masa Origen, dan masyarakat kini tidak lagi yakin bahwa Allahnya Plato dapat dikawinkan secara berhasil dengan Allahnya AlKitab. (Armstrong, 1993 : 108)



Agama Tauhid Yang Diubah Menjadi Agama Pagan
Perselisihan antara Arius dan Athanasius membuat kaisar Konstantin khawatir. Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus adalah kaisar Romawi yang memerintah dari tanggal 27 Februari 272 hingga 22 Mei 337 M. Ia sangat ambisius. Ia mampu membunuh anak kandungnya, Cisprus, hanya karena sang putra mahkota lebih termashyur di mata bangsa Romawi dibandingkan dengan dirinya. Kejadian ini ke-mudian menjadi salah satu sebab mengapa ibukota kerajaan Romawi dipindahkan ke Byzantium (Konstantinopel), Turki.
Kaisar Konstantin juga dikenal dengan Dekrit Milannya (tahun 313 M), yang meresmikan secara penuh kristianitas di dalam kerajaan untuk pertama kalinya. Tercatat di dalam sejarah, bahwa ia sendiri sebelum meninggal telah menjadi pemeluk agama Kristen Unitarian. Ia dibaptis oleh Eusibius dari Nicomedia. Kaisar Konstantin meninggal dalam keimanan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, seperti keimanan orang-orang yang pernah dimusuhi dan dibunuhinya.[5]
Di masa kaisar Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari – kelompok  pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi – dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Celaka baginya,  sebuah  guncangan  religius  tumbuh dan men-cengkeram Roma. Dia dapat melihat bahwa  agama Kristen sedang bangkit, dan tiga abad setelah ‘penyaliban Yesus Kristus’, para pengikut Kristus tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua.
Di sisi lain, Konstantin khawatir percekcokan tiada akhir dalam agama Kristen antara pengikut Arius dan Athanasius akan menjadi potensi perpecahan kerajaannya. Konstantin memutuskan bahwa sesuatu harus dilakukan, maka dikumpulkannya para Patriarch dan Uskup di seluruh negeri sebanyak 2.018 orang untuk bersidang di Nicea pada tahun 325 M.  Ini adalah konsili Oikumenis pertama dalam sejarah kekristenan, untuk membicarakan Yesus itu Tuhan atau bukan.
Apa yang akan terjadi ketika penguasa memutuskan turun tangan untuk menyelesaikan konflik teologis? Lohse (1994:64) mengungkapkan:
“Agar dapat mengikuti arah diskusi pada Konsili  Nicea itu, maka  perlulah  diingat  situasi yang sama sekali baru, di mana gereja hidup pada titik ini dalam sejarahnya. Sesudah dihambat selama 300 tahun, maka gereja sekarang tatap muka dengan seorang Kaisar yang mengakui iman Kristen.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Kekristenan di Kerajaan Romawi tidak lagi menjadi agama yang dihambat, tetapi secara resmi ditolerir dan diakui, bahkan dalam hal-hal tertentu perkembangannya dibantu oleh kekaisaran. Dari titik pandangan yang murni lahiriah, perubahan dalam situasi ini juga jelas pada uskup-uskup, yaitu bahwa mereka sejak itu tidak perlu lagi bergerak ke sana ke mari secara rahasia. Sekarang mereka mempunyai hak istimewa untuk datang ke konsili dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan negara, yang juga biasa dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi negara.
Di Nicea, Kaisar menyediakan tempat penginapan bagi para uskup dalam istananya. Di sanalah diskusi-diskusi berlangsung, dan dihadiri pula oleh Kaisar. Sebagai orang yang baru saja ditobatkan, pengetahuan teologis Kaisar Konstantin tidak mendalam, tapi ia tetap berminat dalam pembahasan konsili. Perubahan situasi itu telah menyebabkan para uskup berlomba-lomba memperlihatkan ketaatan mereka kepada Kaisar.”
Ketika uskup berkumpul di Nicea pada tanggal 20 Mei 325 untuk menuntaskan krisis itu, sangat sedikit yang berpandangan sama dengan Athanasius soal Yesus. Kebanyakan berposisi di antara Athanasius dan Arius.
Dalam konsili Nicea, perdebatan berlangsung sengit, tanpa ada keputusan. 1.700 uskup sepaham dengan Arius. Sisanya sejalan dengan Athanasius. Namun Kaisar mengumpulkan para uskup yang dianggap sepaham dengan Athanasius. Melalui pemungutan suara, Kaisar Konstantin menyatakan ajaran Athanasius yang benar dan menjadi ajaran resmi di kekaisaran Romawi. Kemudian Konsili Nicea merumuskan bahwa Yesus Kristus itu satu hakikat (homo ousius) dengan Allah Bapa (Dwinitas). Bahkan Kaisar Konstantin mengusul-kan kata penting yang nantinya diabadikan dalam pengakuan iman Nicea. Isi pengakuan iman Nicea secara lengkap:
“Kami percaya dalam satu Allah, Bapa yang Maha-kuasa, Pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; dan di dalam satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, dilahirkan dari Bapa, hanya diperanakkan, yaitu, dari substansi Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, dila-hirkan bukan diciptakan, berasal dari satu substansi dengan Bapa, melalui Siapa segala sesuatu ada, segala sesuatu baik yang di surga maupun yang di bumi, yang oleh sebab kita menjadi manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjelma menjadi manusia, menderita, dan bangkit lagi pada hari yang ketiga, naik ke surga, dan akan datang lagi untuk meng-hakimi yang hidup dan yang mati; dan di dalam Roh Kudus.” (Lohse, 1994:65)
Dalam Konsili Nicea itulah Yesus diangkat dan ditetapkan sebagai ‘Putra Tuhan’ secara resmi melalui voting. Dalam voting itu, kelompok Athanasius unggul dengan perbandingan 315 lawan 3. Sedangkan Arius dan dua sahabatnya yang menolak menandatangi Kredo Nicea dikucilkan. Sejak saat itu ajaran-ajaran yang bertentangan dengan iman Nicea, khususnya ajaran Arianisme yang dipelopori oleh Arius, dianggap sebagai ajaran-ajaran sesat. Tidak cukup sampai di situ, untuk menguatkan Kredo Nicea, maka dirumuskan kutukan-kutukan terhadap ajaran-ajaran yang dianggap sesat. Bunyi kutukan tersebut adalah:
“…Mereka yang berkata bahwa ada saatnya [Kristus] tidak ada, dan sebelum Ia dilahirkan Ia tidak ada, dan bahwa Ia ada (sebagai yang berasal dari tidak ada), atau yang berkata bahwa Anak Allah berasal dari hypostasis atau substansi yang berbeda, atau diciptakan, atau tunduk kepada perubahan (semuanya) ini. Gereja Katolik mengutuknya.” (Lohse, 1994:66)
Namun konsili Nicea tidak mengakhiri kontroversi Arius. Malah dengan Konsili Nicea itu kontroversi mulai mencapai keseriusannya. Memang kebanyakan uskup yang hadir dalam Konsili Nicea itu menandatangi pengakuan iman yang dihasilkan. Tetapi terdapat perbedaan yang meluas di antara mereka mengenai cara memahaminya. (Lohse, 1994:70) Dari segi doktrin pun, persoalannya belum selesai. Umat Kristen masih bingung: jika hanya ada satu Allah, bagaimana mungkin Logos juga Allah?
Tahun 381 diselenggarakan konsili Konstantinopel. Sebagian besar isi pengakuan iman Nicea dirumuskan kembali dalam pengakuan iman Konstantinopel. Bunyinya mengakui Roh Kudus sebagai Allah. Karena dirasa belum cukup, tahun 382 diadakan konsili lagi di Konstantinopel. Di sini keilahian penuh Roh Kudus diteguhkan dengan rumusan: “Ada satu Ke-allahan, Kuasa, dan Substansi dari Bapa dan dari Anak dan dari Roh Kudus; martabat mereka adalah sama, dan kemulia-an mereka sama dalam tiga esensi yang sempurna (hypos-tasis) dan tiga pribadi yang sempurna.” (Lohse 1994:82)
Namun perdebatan di antara para teolog masih tetap bermunculan. Perdebatan paling serius, apakah Yesus itu sepenuhnya manusia atau sepenuhnya Allah? Perdebatan seputar pribadi Yesus muncul dikarenakan dogma Trinitas selalu berkaitan dengan dogma Kristologi (ilmu tentang Kristus).
Perdebatan seputar pribadi Yesus didominasi oleh pertentangan antara Kubu Antiokhia dengan Kubu Aleksandria. Kubu Antiokhia menekankan perhatian pada “tabiat (haki-kat) kemanusiaan Yesus yang penuh, yang tidak dikurangi”. Itu sebabnya, Nestorius – teolog Antiokhia – menolak me-nyebut Maria sebagai “yang melahirkan Allah” (Theotokos), karena Maria mestinya juga disebut “yang melahirkan manusia”  (Anthropotokos).
Kubu Aleksandria yang digawangi oleh Cyrillus bertentangan dengan Kristologi Nestorius. Cyrillus berkali-kali menekankan bahwa Logos ilahi itu sendiri yang menjadi manusia dalam Yesus. Yesus adalah “campuran” antara yang ilahi dan yang insani. Jadi, tidak mungkin memisahkan tabiat keallahan dan tabiat kemanusiaan Logos yang berinkarnasi itu (Lohse, 1994:112-114).
Perselisihan ini pada akhirnya diputuskan dalam Konsili Khalkedon tahun 451 M. Sebelum konsili dimulai, Paus Leo sudah menulis surat yang mendorong ditegaskannya kesatuan dari dua tabiat Yesus. Surat itu “mempersiapkan jalan ke arah keputusan Chalcedon” (Lohse, 1994:116). Kredo Khalkedon secara resmi menetapkan doktrin “Yesus Kristus 100% Allah dan 100% manusia” sebagai ajaran resmi gereja. Bunyi yang lebih lengkap, sebagai berikut:
“…sesuai dengan (pandangan) bapa-bapa suci, kami sepakat untuk mengajarkan bahwa kami mengakui Tuhan kita, Yesus Kristus, sebagai Putera yang satu dan sama, yang sama sempurnanya dalam Keallahan dan yang sama sempurnanya dalam kemanusiaan, Allah yang sejati dan manusia yang sejati, yang mempunyai jiwa dan tubuh rasional yang sama (dengan manusia), berkonsubstansi dengan Bapa dalam Keilahian, dan ber-konsubstansi dengan kita dalam kemanusiaan, sama seperti kita dalam segala sesuatu kecuali dosa; dilahirkan dari Bapa sebelum (ada) segala zaman (apabila itu) menyangkut Keilahian-Nya, dan pada hari-hari yang terakhir, Ia dilahirkan dari perawan Maria, Theotokos, oleh karena kita dan demi keselamatan kita, (apabila itu dipandang dari) kemanusiaan-Nya; Kristus yang satu dan yang sama, Putera, Tuhan, yang hanya dilahirkan, dikenal dalam dua tabiat tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pemisahan, tanpa pembagian (di antara kedua tabiat itu), perbedaan di antara dua tabiat itu sama sekali tidak ditiadakan oleh adanya kesatuan, tetapi sifat dari masing-masing tabiat itu dipeliharakan dan digabungkan dalam satu prosopon dan satu hyposprosopa, tetapi Putera yang sama dan satu-satunya, yang hanya dilahirkan, Kalam ilahi, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana nabi-nabi Perjanjian Lama dan Yesus Kristus sendiri mengajarkannya kepada kita mengenai Dia dan pengakuan iman bapa-bapa (suci) diturunkan (kepada kita). (Lohse, 1994:117)
Tahun 335 M diadakan lagi Konsili di Tyre (sekarang masuk Lebanon). Di sini terjadi anti-klimaks. Athanasius dikutuk, dan kemudian disingkirkan ke Gaul. Arius bahkan diangkat menjadi Uskup Konstantinopel. Dua tahun setelah Konsili Tyre, Konstantin meninggal. Sepeninggal Konstantin, dua konsili lagi diselenggarakan: Konsili Antiokia di tahun 351 M dan Konsili Sirmium tahun 359 M. Kedua konsili ini menetapkan bahwa keesaan Tuhan merupakan dasar kekristenan dan tak mengakui konsep trinitas. Walau demikian, Gereja Paulus (Katolik Roma) sudah berkembang dengan cepat di Eropa sehingga rakyatnya tidak menghiraukan hasil dua konsili ini.[6]
Kaisar Konstantin berhasil menyelamatkan kerajaannya dari jurang kehancuran. Dia telah berhasil mengakhiri konflik tiada akhir di antara umat Kristen tentang pribadi Yesus. Tetapi Konstantin merasa keberhasilannya dalam ‘memprakarsai’ penetapan Yesus sebagai Putra Tuhan dan perumusan doktrin Tritunggal belumlah cukup. Dia melangkah lebih jauh lagi. Konstantin memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama tunggal, Kristen. Caranya, mengalihkan para penganut pagan pemuja  matahari  menjadi Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh. Melalui Konsili Nicaea, Konstantin berhasil menciptakan agama hybrid yang dapat diterima kedua belah pihak, yakni agama Kristen yang berbudaya paganisme, bukan agama Kristen yang mewarisi monoteisme dari tradisi Yudaisme – seperti yang diajarkan dan dijalani oleh Yesus dan murid-muridnya.
Kaisar Konstantin dalam Konsili Nicea mengeluarkan empat keputusan resmi. Keputusan itu adalah:
1.   Menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Sebenarnya hari kelahiran Yesus sampai sekarang tidak diketahui dengan pasti. Yesus dilahirkan antara tahun 7-2 SM di Betlehem dan dibesarkan di Nazareth. Namun, oleh kalangan di Barat, Yesus dinyatakan dilahir-kan pada tahun 1 Masehi. Oleh karena itu, tahun sebelum kelahiran Yesus pun kemudian dikatakan sebagai tahun Sebelum Masehi (Before Christ). Padahal dia tidak dilahirkan pada tahun 1 Masehi! Tanggal 25 Desember itu sendiri sebenarnya adalah tanggal untuk memperingati hari kelahiran anak dewa matahari bangsa Yunani (Romawi) yang bernama Apollo, Dionysus, atau dewa Mithra.  Dewa-dewa  tersebut meskipun mempuyai nama-nama yang  berbeda, tetapi sebenarnya sama saja. Dewa tersebut merupakan dewa yang dipercayai juga sebagai dewa penebus dosa (juru selamat) umat manusia.
2.   Hari Matahari Roma menjadi hari Sabbath bagi umat Kristen, dengan nama Sun-Day, Hari Matahari (Sunday).
3.   Mengadopsi lambang silang cahaya yang kebetulan berbentuk salib menjadi lambang kekristenan, dan
4.   Mengambil semua ritual ajaran paganisme Roma ke dalam ritual atau upacara-upacara kekristenan.
Dan Brown mengungkapkan proses transmogrifikasi dari Kristen ke agama pagan tersebut, dalam novelnya The Da Vinci Code, melalui percakapan tokoh-tokohnya:
“Transmogrifikasi,” ujar Langdon. “Jejak-jejak agama pagan dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang sedang menyusui putranya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik – mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan “makan Tuhan”- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal.”
Teabing mengerang. “Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara tentang ikon-ikon Kristen. Tak ada yang asli dalam Kristen. Mithra, Tuhan pra-Kristen-disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia-lahir dan mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan dalam tiga hari. Omong-omong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Adonis, dan Dionysus. Krishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan orang Kristen dicuri dari kaum pagan.”
“Aslinya,” kata Langdon, “Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan me-muliakan matahari.” Dia mengambil jeda, menyeringai. “Hingga hari ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan pada dewa matahari kaum pagan – Sun-day, hari matahari.” (Dan Brown The Da Vinci Code, 2003)
Uraian di atas bukanlah suatu tuduhan yang tak berdasar. Gereja Katolik sendiri secara terus terang telah mengaku ‘mengubah waktu’ peribadatan agama Kristen dari Sabtu (Sabat) ke Minggu di konsili Laodekia (336 M). James Cardinal Gibbons, pendidik dan uskup Katolik di Baltimore pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, mengaku pada dasarnya penyucian hari Minggu tidak punya dasar Alkitabiah yang memadai, dia bersaksi:
“Anda bisa membaca AlKitab dari Kejadian sampai Wahyu, dan Anda tidak akan menemukan satu baris pun yang memerintahkan penyucian hari Minggu. AlKitab menyuruh peribadatan agama di hari Sabtu, hari yang tidak pernah kita kuduskan.” Tetapi bagi Gibbons kurangnya dasar AlKitabiah ini bukan masalah besar karena memang Gereja Katolik Roma tidak bergantung semata-mata kepada pendapat AlKitab. Lanjutnya, “Gereja Katolik dengan tepat mengajarkan bahwa Tuhan kita dan para rasulnya berulang-ulang mengajarkan kewajiban-kewajiban agama tertentu yang penting yang tidak tercatat oleh para penulis (AlKitab) terilham… dengan demikian, kita harus menyimpulkan bahwa AlKitab saja tidak bisa menjadi petunjuk dan aturan iman yang memadai.” (The Faith of Our Father, John Murphy Company, Baltimore, 1917, p. 89).
Gereja Katolik Roma menganggap wewenang tertinggi tidak terletak pada AlKitab, melainkan pada paus dan gereja sebagai wakil Allah di bumi[7]. Dalam kedudukan itu, gereja dianggap punya kekuasaan untuk memindahkan kekudusan Sabat dari hari Sabtu ke Minggu, meskipun pemindahan hari kudus tersebut melanggar hukum Taurat dan Injil (AlKitab).

[1]  Rizki Ridyasmara, Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005; hlm. 340.
[2] Jerald F. Dirks. Salib Di Bulan Sabit: Dialog Antariman Islam – Kristen. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, cet. 2, Maret 2004. hlm.156.
[3] Hugh Goddard. Menepis Standar Ganda: Membangun Saling Pengertian Muslim-Kristen. Yogyakarta: ADIPURA. Cet. 1, Nopember 2000. hlm. 32.
[4] Kisah yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa Athanasius sendiri sebenarnya juga  meragukan konsep Trinitas. Ia dengan tegas menyatakan, “Setiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep ketuhanan Yesus, saya merasa keberatan dan sia-sia. Hingga makin banyak menulis untuk mengungkapkan hal itu, ternyata hal ini tidak mampu dilakukan. Saya sampai pada kata akhir, Tuhan itu bukanlah tiga oknum melainkan satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukan suatu keyakinan, tetapi hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan penyesuaian keadaan di waktu itu.” Rizki  Ridyasmara, Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005; hlm. 342.
[5] Alexander Edbert C. Show Us The Straight Path: Menemukan Kebenaran Iman Yang Sejati. Jakarta: Pustaka Intermasa. Cet.1, Oktober 2008.   hlm. 39
[6] Rizki Ridyasmara, Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005; hlm. 342-343.
[7] Dalam ajaran Katolik Roma dikenal istilah infallibilitas, yaitu suatu ajaran yang menyatakan bahwa pemimpin gereja Roma (Paus) apabila sedang berpendapat mengenai iman dan moral Kristen Katolik, ia tidak mungkin salah karena mendapat perlindungan Tuhan. Itu sebabnya, pendapatnya tersebut harus dipercayai dan diikuti oleh seluruh gereja. Ajaran ini mulai ditetapkan saat Konsili Vatikan I pada tahun 1870. Alexander Edbert C. Show Us The Straight Path: Menemukan Kebenaran Iman Yang Sejati. Jakarta: Pustaka Intermasa. Cet.1, Oktober 2008.   hlm. 124.

PLURALISME HANYA ‘mempermainkan’ AGAMA


Oleh: Muhammad Sulthon Abdullah
Film ‘?’ (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo menyebarkan paham Pluralisme Agama.Penyebaran paham Pluralisme ini telah dicermati oleh KH A. Cholil Ridwan, Ketua MUI Pusat Bidang Budaya. ”Film ini jelas menyebarkan paham Pluralisme Agama yang telah difatwakan sebagai faham yang salah dan haram untuk umat Islam untuk memeluknya,” ujar Cholil. Indikasi faham pluralisme ini, jelas Cholil, terlihat dalam narasi di bagian awal, “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” ( http:/ / www.voa-islam.com). Narasi yang kedengarannya sangat indah, tapi sesat dan menyesatkan, serta memiliki makna yang dangkal.
Paham pluralisme pada hakikatnya mengarahkan manusia untuk bersikap netral terhadap agama. Konsep netral agama tak mengenal konsep Tauhid dan Syirik, atau Mukmin dan kafir. Semua agama dipandang sama-sama merupakan jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. Karena itu, paham pluralisme mendorong umat manusia untuk berpikir lintas agama dan tidak berpikiran sempit dengan meyakini kebenaran agamanya sendiri.
Menurut pemahaman pluralisme, masalah beriman atau kafir, benar atau sesat, adalah urusan Allah dan serahkan saja kepada Allah. Sebab Allah adalah Yang Maha Mutlak, sedangkan manusia adalah makhluk yang relatif. Setiap pendapat manusia adalah relatif sehingga tidak bisa memutlakkan pendapatnya. Manusia tidak tahu dengan pasti suatu kebenaran sehingga tidak bisa merasa benar sendiri dan menghakimi orang lain sebagai sesat atau kafir. Hanya Allah yang mengetahui kebenaran hakiki, sehingga tidaklah patut manusia menempatkan diri sebagai Tuhan dan menghakimi sesama manusia.
Lebih lanjut, paham pluralisme justru mendorong pembauran (sinkretisme) seluruh agama. Penganut pluralisme tak hanya beriman dan menjalankan syariat satu agama saja, melainkan cenderung menerapkan dan memadukan semua ajaran agama dalam suatu gaya hidup keagamaan baru. Salah satunya adalah konsep Islam Hanif.
Setelah tiga tahun bersama sejumlah pendeta Kristen Advent meneliti AlKitab dan AlQur’an, Pendeta Robert P. Walean memfatwakan bahwa Islam Hanif adalah ajaran yang diterima Allah. Konsep Islam Hanif ini dicetuskannya setelah membaca surat An Nahl ayat 123, “Kemudian Kami wahyukan kepada (Muhammad):” Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif “dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
Ibrahim (Abraham) memiliki arti yang sangat penting untuk semua agama  samawi  yaitu Yahudi  ,  Kristen  dan  Islam . Umat ​​Islam menganggap nabi Ibrahim sebagai bapaknya orang-orang mu’min. Ia adalah contoh ideal dari seorang yang disebut mu’min. Agama Yahudi memandang Abraham sebagai salah satu leluhur mereka. Sedangkan umat Kristen meyakini bahwa Abraham adalah bapak orang percaya. Imannya menjadi teladan untuk semua orang. Dengan demikian, Abraham adalah  bapak  yang sama untuk ketiga agama ini, sekaligus mengingatkan bahwa ketiga-tiganya memiliki akar yang sama, yaitu monoteisme  . Untuk itu, nabi Ibrahim disebut juga sebagai  Bapak Monoteisme Dunia .
Berdasarkan firman dalam Yesaya 60: 7, Pendeta Robert menyakini bahwa umat Islam adalah kaum yang diterima Tuhan. Sebab, dalam pandangan Kristen, orang Kedar dan Nebayot adalah keturunan nabi Ibrahim dari garis Ismail yang menganut Islam. Dia juga mengakui nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Bahkan dia meyakini semua perilaku Nabi Ibrahim dan Muhammad saw adalah Islam Hanif. Tapi, itu tak berarti sama persis seperti Islam, sebab hari suci dalam Islam Hanif versi Robert bukanlah Jum’at, melainkan Sabtu alias Sabath, sebagaimana juga dalam Kristen Advent.
Gampang diduga, konsep Islam Hanif merupakan salah satu gerakan Kristenisasi Berkedok Islam. Yakni, menyebarkan kekristenan secara terselubung yang dikemas dalam gaya dan kultur Islam. Tak heran, jika Pendeta Robert memperbarui doktrin Kristen dalam wajah Islam yang dilengkapi dengan kutipan ayat-ayat AlQur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, kebanyakan kaum Muslim justru lengah terhadap ancaman pemurtadan terselubung tersebut.
Ketidaktahuan mayoritas Muslim terhadap metode pemurtadan berkedok Islam tersebut seringkali merugikan umat Islam sendiri. Bahkan banyak kaum Muslim yang bersimpati terhadap Pendeta Robert, dan mengharapkannya mendapatkan hidayah. Padahal, bisa jadi orang-orang seperti Pendeta Robert ini adalah orang-orang yang diisyaratkan oleh AlQur’an, sebagai berikut:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?Mereka ingin berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan berarti menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Bila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. ( Qs. An Nisaa ‘: 60-61 )
Orang-orang seperti pendeta Robert hanya ingin merusakkan aqidah umat Islam. Frans Donald dari Kristen Unitarian, misalnya, memiliki pemahaman unik tentang agama yang dianutnya. Dalam bukunya ‘ALLAH Dalam AlKitab dan AlQur’an: Sesembahan Yang Sama atau Berbeda?’, Frans Donald menulis, “Ada orang yang karena melihat saya percaya bahwa AlQur’an adalah wahyu dari Allah dan Muhammad adalah nabi-Nya (juru bicara Allah ), lalu menyebut saya Islam. Tentu saja saya tidak menolak, karena bukankah arti dari Islam atau Muslim adalah “lurus mengharap pahala”? Jadi kalau saya dinilai sebagai seorang Muslim (mengharap pahala), ya … alhamdulillah! Terima kasih. Suatu kehormatan bagi saya … Tapi ada juga yang karena melihat saya percaya pada Taurat dan Injil, dan menerima Yesus Kristus, lalu menyebut saya Kristen. Silakan saja karena bukankah arti dari Kristen sebenarnya bukan sekedar ber-KTP Kristen, tetapi pengikut Yesus yang penuh iman dan kasih? Jadi, kalau ada yang mengatakan saya Kristen, ya … Haleluya! Terpujilah Yahweh, terima kasih. Namun, perlu saya jelaskan bahwa kalaupun saya disebut Kristen, Kristen saya adalah ‘Kristen Tauhid’. “
Tujuan utama orang-orang seperti pendeta Robert P. Walean dan Frans Donald hanya mendangkalkan aqidah umat Islam. Mereka hanya membuat agama sebagai permainan saja, sehingga layak untuk kita untuk meninggalkannya. Sebab Allah berfirman, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain Allah “( Qs. Al An’aam: 70 ). (Dari berbagai sumber)

Rabu, 26 Oktober 2011

BIOGRAFI ST PAUL,oleh Michael H. Hart,


http://saintpetersbasilica.org/Exterior/StPaulStatue/StPaul-sp-a.jpg

ST. PAUL (4 M - 64 M)
.............................................
"Rasul" Paul, sejaman tapi lebih muda sedikit dari Nabi Isa, tak syak lagi penyebar Agama Nasrani yang paling terkemuka. Pengaruhnya dalam teologi Kristen jelas menunjukkan yang paling mantap, paling berjangkau jauh dibanding semua penulis dan pemikir Kristen lainnya.
Paul, juga terkenal dengan panggilan Saul, dilahirkan di Tarsus, sebuah kota di Cilicia (kini Turki), beberapa tahun sebelum tiba era Kristen. Biarpun seorang warga Romawi, dia lahir sebagai Yahudi, pendalam bahasa Ibrani di masa muda dan memperoleh pendidikan mendalam perihal ke-Yahudian, dia juga belajar dagang dan bikin kemah. Selaku pria remaja dia berangkat ke Darussalam bekerja di bawah bimbingan pendeta Gamaliel, seorang guru Yahudi kenamaan. Walaupun Paul dan Isa berbarengan ada di Darussalam saat itu, tapi amat diragukan keduanya pernah bertemu muka.
Sesudah "mangkat"-nya Isa, orang-orang Kristen dianggap selaku pembangkang dan karenanya digasak habis-habisan. Mula-mula Paul ikut menghantam, tapi dalam perjalanan menuju Damsyik di matanya seakan terbayang Isa berbicara dengannya dan segera Paul masuk Nasrani. Ini merupakan titik balik penting dalam kehidupan pribadinya. Jika dulunya jadi ]awan dan tukang gebuk orang Kristen, kini dia berubah menjadi penyebar dan penganjur paling gigih dan paling berpengaruh untuk kepentingan Agama Nasrani.
Paul menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis dan memperdalam ke-Kristenan. dan meraih banyak pemeluk berbondong-bondong memasuki Agama Nasrani. Selama kegiatan dakwahnya dia melakukan perjalanan kian-kemari secara kerap, baik ke Asia Kecil, Yunani, Suriah dan Palestina. Menghadapi orang-orang Yahudi Paul tidak keliwat sukses, bahkan lebih sering menimbulkan pertentangan dan dalam banyak peritiwa jiwanya sering terancam. Khotbah menghadapi orang non-Yahudi, Paul teramatlah menonjolnya dan peroleh sukses besar sehingga sering dia diberi julukan "Rasul orang-orang non-Yahudi." Tak seorang pun bisa mengungguli kehebatan Paul dalam penyebaran Agama Nasrani.
Sesudah menyelesaikan tiga kali perjalanan panjang menyebar agama di dalam wilayah bagian timur Kekaisaran Romawi, Paul kembali ke Darussalam. Apa lacur, begitu sampai begitu diamankan, dan diboyong ke Roma ke depan pengadilan. Sejarah tak begitu jelas mencatat bagaimana ujung pengadilan itu, bahkan tak jelas pula apakah sejak itu dia pernah dapat meninggalkan Roma. Akhirnya, diperkirakan tahun 64 M Paul dibunuh dekat kota Roma.
Pengaruh Paul dalam perkembangan Agama Nasrani dapat diukur dari tiga hal. Pertama, sukses besarnya dalam penyebaran agama. Kedua, tulisan-tulisannya yang menyusun bagian-bagian penting Perjanjian Baru. Ketiga, peranannya dalam hal pengembangan teologi Kristen.
Dari 27 buku Perjanjian Baru, tak kurang 14 dihubungkan dengan jasa Paul. Meskipun ilmuwan modern berpendapat 4 atau 5 buku dari 14 itu ditulis oleh orang lain, namun tak diragukan lagi bahwa Paullah orang terpenting secara pribadi menulis Perjanjian Baru.
Pengaruh Paul di bidang teologi Kristen betul-betul tak terperikan besarnya. Ide-idenya termasuk hal-hal sebagai berikut: Isa tidak cuma nabi yang mengesankan tapi juga suci. Isa wafat demi dosa-dosa kita dan penderitaannya dapat membebaskan kita. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari dosa-dosa hanya dengan mencoba melaksanakan perintah-perintah yang tertera dalam Injil, tapi hanya bisa dengan jalan menerima Isa sepenuh jiwa. Sebaliknya, apabila manusia menerima dan percaya Isa, segala dosa-dosanya akan dimaafkan. Paul juga menjelaskan doktrin-doktrinnya mengenai ihwal dosa (lihat Romans 5: 12:19).
Karena kepatuhan kepada hukum semata tidak cukup untuk menjamin kebebasan, Paul menegaskan bahwa tak ada gunanya memeluk Agama Nasrani seraya tetap bersiteguh di soal batasan-batasan Yahudi apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak, serta percuma saja jika masih mengamalkan aturan-aturan Musa atau masih disunat. Seberapa pemuka-pemuka Kristen saat itu menentang keras pendapat Paul dalam segi ini. Dan andaikata sikap mereka ini menyebar luas, sangatlah disangsikan Agama Nasrani bisa berkembang begitu cepat di seluruh Kekaisaran Romawi.
Paul tak pernah kawin, walaupun tak ada cara membuktikannya, jelas Paul tak pernah adakan hubungan kelamin dengan wanita. Pandangannya mengenai seks dan wanita sudah terikat dengan kitab suci, karena itu membawa pengaruh besar pada sikap-sikapnya di belakang hari. Dalilnya yang masyhur dalam kaitan ini tercantum dalam (I Corinthians 7:8-9) yang bunyinya: "Kuserukan kepada para lelaki yang tak kawin dan para janda adalah baik bagi mereka jika mereka mematuhi petuahku dan menyontoh ihwal diriku. Tapi jika mereka tak bisa bertahan, biarkanlah mereka kawin karena bagaimanapun kawin itu masih lebih baik daripada dibakar."

Paul juga punya pendirian yang tegas mengenai status wanita yang layak: "Biarkanlah wanita-wanita itu belajar apa saja secara diam-diam dan saya tidak merasa risau apabila mereka juga mengajar ataupun oleh sebab satu dan lain hal menguasai kaum pria, asal saja secara diam-diam. Soalnya karena Adamlah yang menyebabkan adanya Hawa." (I Timothy 2: 11-13). Sikap yang lebih tegas dikemukakan pula dalam I Corinthias 11:7-9. Memang, kalimat-kalimat Paul sudah pernah jadi pendapat banyak tokoh sejamannya. Yang perlu dicatat adalah Isa sendiri tak pernah tampil dengan pernyataan-pernyataan serupa itu.
Paul, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan Agama Nasrani dari sekte Yahudi menjadi agama besar dunia. Ide sentralnya tentang kesucian Isa dan pengakuan berdasar kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristen sepanjang abad-abad berikutnya.
Belakangan semua teolog Kristen, termasuk Augustine, Aquinas, Luther dan Calvin, semuanya terpengaruh oleh tulisan-tulisan Paul. Begitu mendalamnya pengaruh Paul sampai-sampai banyak sarjana beranggapan Paul-lah yang jadi pendiri Agama Nasrani, dan bukannya Isa. Tentunya anggapan ini keliwat berlebihan. Biar bagaimana, taruhlah pengaruh Paul tidak bisa disejajarkan dengan Isa, yang sudah pasti dia jauh lebih hebat dari pemikir Nasrani yang mana pun juga.