LENYAPNYA IMAN TAUHID DALAM KRISTEN
Dr. Muhammad Ataur Rahim, menyatakan bahwa pada abad pertama
sepeninggal Yesus, murid-murid Yesus masih tetap mempertahankan
ketauhidan secara murni. “Hal ini dapat dibuktikan dalam naskah The
Shepherd (Gembala) karya Hermas, yang ditulis sekitar tahun 90 Masehi.
Menurut Gereja, naskah itu termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci).
Di antara isi dari naskah tersebut berbunyi, ‘Pertama, percayalah bahwa
Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Dia
menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada. Dia meliputi segala
sesuatu, tetapi dia ti-dak diliputi oleh apa pun…’” Bahkan menurut
Theodore Zahn, sebagaiman dikutip EJ. Goodspeed di dalam Apostolic
Fathers, sampai dengan sekitar 250 Masehi, kalimat ke-imanan umat
Kristen masih berbunyi, “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa.”
[1]
Agama Kristen pada awalnya menganut ajaran monoteisme, kepercayaan
kepada satu Allah yang benar, seperti yang diajarkan oleh agama Yahudi.
Sebab Yesus tidak membawa syariat baru. Dia datang ke dunia untuk
menegakkan hukum Taurat.
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum
Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya. Sesungguhnya selama belum lenyap langit
dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
” Matius 4:17-18
E. F. Scott dalam
Encyclopedia of Religion (Frem, 1964:170)
mengungkapkan bahwa Gereja Kristen purba meniru tradisi Yudaisme dalam
hampir semua segi. Mereka menganggap diri mereka sebagai “Israel baru”
dan mengenakan nama
ecclesia, salah satu nama yang dipakai
dalam kitab-kitab Perjanjian Lama untuk menyebut himpunan orang Israel.
Angota-anggota gereja Kristen purba mayoritas, bahkan mungkin
seluruhnya, orang Yahudi.
Yesus sendiri menyatakan dirinya diutus Allah hanya kepada bangsa Israel, bukan kepada seluruh umat manusia.
“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Matius 15 : 24
Bahkan ketika mengutus dua belas muridnya untuk mewartakan Injil di tanah Palestina, Yesus bersabda:
”Janganlah kamu
menyimpang ke jalan bangsa lain atau
masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada
domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Matius 10 : 5-6
Yesus secara khusus memerintahkan murid-muridnya untuk tidak
mewartakan injilnya kepada orang-orang non-Yahudi, tetapi membatasi
ajarannya untuk ”domba-domba yang tersesat dari tanah Israel”. Lebih
jauh, Yesus juga memerintahkan murid-murid itu untuk tidak memasuki
kota-kota kaum Samaritan, yaitu, orang-orang campuran Assiria dan
keturunan Israel, yang melaksanakan jenis agama Yahudi mereka sendiri,
lengkap dengan versi Taurat mereka. Dengan pembatasan ini, Yesus konon
membatasi misinya dan misi murid-muridnya, bukan hanya untuk
”domba-domba yang tersesat dari tanah Israel”, tetapi juga hanya untuk
salah satu segmen dari ”domba-domba yang tersesat itu”, yaitu mereka
yang nenek-moyangnya tidak ”tercemar” dengan darah Assiria.
[2]
Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena ketika abad ke-2 M
pekabaran Injil semakin meluas dan menjangkau bangsa non-Yahudi, yakni
bangsa Yunani yang ber-kebudayaan Hellenistik. Tokoh kuncinya adalah
Paulus. Paulus menganggap bahwa arti Yesus tidak hanya diperuntukkan
bagi bangsa Yahudi, tetapi bersifat universal, sehingga dengan giat ia
membawa risalah Yesus kepada bangsa non-Yahudi. Keputusan ini mungkin
sebab utama keretakan yang pertama di kalangan pengikut Yesus.
Apakah keputusan Paulus itu benar atau tidak? telah diputuskan oleh
para pendeta Kristen pada konsili di Jerusalem, di mana mereka setuju
bahwa keputusan Paulus adalah benar. Pertimbangan dari keputusan itu
tercatat dalam Kisah Rasul 15. Maka, gerakan Kristen berubah dari
sekelompok kecil yang berakar pada agama Yahudi menjadi sekelompok besar
dengan risalah yang bersifat universal.
[3]
Konsili Yerusalem 49 M juga membebaskan umat Kristen non-Yahudi dari
ritual sunat (khitan) dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang
Yudeo-Christian yang menentang perlakuan khusus ini. Kelompok ini
memisahkan diri dari Paulus karena menganggap Paulus telah berkhianat
dan menyimpang dari ajaran Yesus.
Hingga 70 M, kelompok Yudeo-Christian merupakan mayoritas dalam
gereja. Ketua kelompok Yudeo-Christian adalah Jacques seorang kerabat
Yesus. Ia didampingi oleh Pe-trus dan Yohanes. Keluarga Yesus memegang
peranan penting dalam kelompok Yudeo-Christian. Namun sejak
pemberontakan Yahudi terhadap Romawi dan jatuhnya Yerusalem pada 70 M,
keadaan menjadi terbalik. Aliran Yudeo-Christian dimusuhi dan dijauhi di
seluruh wilayah kekuasaan Romawi. Sebaliknya, ajaran Paulus makin
populer. Ajaran ini makin lama makin jauh dari sumber aslinya dan
cenderung merupakan agama baru. Bahkan bentuk pemberitaan Injil pun
mengalami pergeseran dari alam pikir Yahudi ke Yunani.
Ketika
dalam abad ke-2 M titik berat gereja dan
begitu juga teologinya bergeser secara definitif dari lingkungan
Palestina ke dunia pemikiran Yunani, maka gereja menghadapi keperluan
mendesak untuk mengungkapkan imannya dalam suatu bentuk yang dapat
dipahami secara atau mengikuti cara berpikir Yunani.
Akibatnya adalah masuknya cara berpikir metafisik menggantikan bentuk-bentuk berbicara AlKitab yang bersifat konkret.
Sebagaimana kita ketahui, pemikiran Yunani berbeda dari pemikiran
AlKitab terutama dalam hal ini yaitu, bahwa bagi AlKitab Allah
menyatakan diri-Nya dalam sejarah, sedangkan bagi pemikiran Yunani Allah
dilihat sebagai yang didasarkan atas keberadaan yang metafisika.
(Lohse, 1994:51)
AlKitab mengajarkan bahwa Allah itu adalah suatu Roh, kekal, tidak
terikat, tidak terbatas dan tidak berubah. Allah itu transenden, sangat
jauh, tetapi Dia imanen, hadir. Dia sangat berkuasa dan hadir di
mana-mana, yang melihat segala sesuatu dan memerintah alam semesta.
Karena Ia adalah suatu intelegensia yang mahatinggi, yang tidak memiliki
tubuh, atau bentuk, atau warna, dan yang tidak dapat ditangkap panca
indera. Hanya ada satu Allah yang hidup dan benar, kekal, tanpa tubuh
atau anggota badan, dengan kekuatan, kebijaksanaan dan kebaikan yang tak
terbatas, pencipta dan pelindung segala sesuatu. Karena itu, bangsa
Yahudi yang taat pada hukum Taurat Musa menyakini bahwa keberadaan Allah
sudah tidak perlu dipertanyakan, apalagi dibuktikan, sebab Ia sudah
nyata-nyata berkarya menciptakan alam semesta.
Yahweh selalu merupakan allah yang transenden, yang mengarahkan umat
manusia dari atas dan dari luar… Doktrin resmi apa pun akan membatasi
misteri terdalam Allah. Para Rabi menunjukkan bahwa Dia sama sekali tak
terpahami. Bahkan Musa pun tidak mampu menembus misteri Allah. Setelah
pencarian panjang, Raja Daud telah mengaku bahwa sia-sia belaka mencoba
untuk memahami-Nya, karena Dia terlalu tinggi untuk pikiran manusia.
Orang-orang Yahudi bahkan dilarang untuk menyebut nama-Nya, sebuah
amaran yang keras bahwa setiap upaya untuk mengungkapkan Dia tidaklah
memadai: nama ilahi itu dituliskan YHWH dan tidak diujarkan dalam
pembacaan kitab suci yang manapun. (Armstrong, 1993:73-74)
Dzat Allah SWT lebih besar dari apa yang dikuasai oleh akal manusia,
dari apa yang terjangkau oleh pikiran-pikiran manusia atau yang mungkin
diduga oleh akal dan pikiran manusia. Akal dan pikiran manusia terbatas;
Allah SWT menguasai segala batas yang membatasi akal pikiran manusia.
Karena itu, akal pikiran manusia tidak akan pernah mampu mengetahui Dzat
Allah SWT.
Ajaran agama melarang manusia untuk memikirkan Dzat Allah, tetapi
lebih baik memikirkan ciptaan-Nya. Sikap tersebut sama sekali bukan
pengekangan terhadap kebebasan berpikir atau dukungan bagi kebekuan
wawasan, melainkan sikap yang menyadari keterbatasan diri manusia, yang
akan menolong manusia agar tidak terperosok dan tersesat oleh pemaksaan
di luar batas kemampuannya. Akal pikiran dilindungi dari usaha
mencoba-coba yang tidak mempunyai kelengkapan sarana. Mengenai hal ini,
Allah berfirman:
“Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Qs. An-Nahl (16) ayat 60
Sikap seperti itu sama sekali tidak mengurangi wujud-Nya. Wujud-Nya
nyata bersemayam di dalam setiap jiwa, tercermin dengan jelas pada
keajaiban dan keindahan segenap ciptaan serta keagungan tanda-tanda-Nya.
Bahkan, orang-orang kafir pun bila ditanya siapa yang menciptakan
langit dan bumi, mereka tentu akan menjawab: “Allah.”
Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan
menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari
kebenaran). Dan jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang
menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi yang
sudah mati?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala
puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti.
Qs. Al Ankabut (29) : 61, 63
Pencipta alam tidak berwujud fisikal, karena wujud fisikal, dapat
disentuh dan dirasa, dan memerlukan tempat dan ruang. Seperti matahari,
bulan, planet-planet, pohon, laut, manusia, hewan, tumbuhan, dan
sebagainya. Dzat Tuhan tidak terbatas. Dia bukan fisik, tidak berbentuk
dan tidak akan memerlukan tempat dan ruang. Dia menguasai dan memerintah
di semua tempat.
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu
pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak
pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan
jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Milik-Nya-lah perbendaharaan langit
dan bumi; Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia
kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Qs. Asy Syuura (42) : 11-12
Tapi alam pikir Yunani jelas tidak puas dengan keimanan bangsa Yahudi
yang menyakini bahwa keberadaan Allah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Yunani sudah terkenal sebagai tempat lahirnya para filsuf purba: Thales,
Socrates, Heraklitos, Parmenides, juga dua filsuf besar Plato dan
Aristoteles. Metafisika adalah jantung dari filsafat karena metafisika
menyediakan dasar yang terakhir dan prinsip-prinsip yang tertinggi bagi
masing-masing bidang tertentu dari penelitian filosofis (Bagus,
2000:630). Pendek kata, alam pikir Yunani senang berpikir abstrak dan
berspekulasi, membuat teori tentang hakikat (yang tak terlihat) dari
kenyataan yang terlihat (Kristi, 2009:77).
Ketika orang-orang Yunani menjadi Kristen, mereka mencerna AlKitab
dalam alam pikir mereka. Mereka mencoba untuk menciptakan gagasannya
sendiri tentang keberadaan Allah sehingga banyak bermunculan berbagai
aliran teologis. Zaman itu dikenal sebagai zaman patristik (abad pertama
hingga abad keempat Masehi). Disebut zaman patristik karena pada zaman
ini, umat kristiani terbelah dalam berbagai aliran teologis yang dianut
oleh para patris (imam atau pendeta tinggi).
Basilides (90-150 M) menjelaskan bahwa Tuhan Perjanjian Baru yang
digambarkan Paulus adalah Tuhan Bapak Yang Tertinggi yang menjadi sumber
cinta kasih. Kristus adalah Anak dari Tuhan Bapak. Kristus dikirim oleh
Tuhan Bapak untuk menolong manusia dari cengkeraman hukum keadilan
Tuhan versi Perjanjian Lama.
Markion (100-160 M), sepaham dengan Basilides tentang adanya dua
macam Tuhan. Markion berpendapat Yesus bertubuh maya bukan sebagai
manusia kongkret. Namun, aliran ini hanya mengakui injil Lukas dan 10
surat kiriman Paulus. Aliran ini juga sangat membenci Tuhan versi
Perjanjian Lama, yang dianggap berperan dalam penyaliban Yesus.
Ireneus (150-202 M). Patris ini tidak menerima konsep dua Tuhan.
Menurutnya, Tuhan Perjanjian Baru dan Tuhan Perjanjian Lama adalah satu.
Ireneus juga menolak konsep Yesus bertubuh maya. Menurutnya, Yesus
adalah benar-benar jelmaan Tuhan.
Tertullianus (155-220 M). Aliran ini sejalan dengan ajar-an Paulus,
terutama tentang dosa warisan. Ia mencoba menyempurnakan konsep dosa
warisan secara filosofis menurut hukum sebab akibat. Tentang ketuhanan
Yesus, Tertullianus menganggap Yesus sebagai Tuhan yang lebih rendah
daripada Tuhan Yang Tertinggi.
Arius (270-350 M) adalah seorang pendeta dari Alexandria yang teguh
memegang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Konsep Arius tentang
Ketuhanan menimbulkan kontroversi besar. Karena berbeda dengan
kebanyakan patris, Arius menolak konsep ketuhanan Yesus.
Menurut Arius, Yesus itu makhluk, tak sehakikat dengan Allah.
Sifat-sifat ketuhanan pada Yesus bukan sifat yang hakiki, melainkan
anugerah dari Allah. Ketika pertama kali melontarkan konsepnya, Arius
adalah seorang prebister (imam kecil). Karena ajarannya, Arius diusir
dari Alexandria. Namun pendapatnya mendapat dukungan dari uskup-uskup
Nicomedia, Maradonia, Palestina, Assiut, dan bahkan Konstantinopel.
Faham Arius itu dengan cepat mendapat pengaruh di Mesir, Palestina, dan
Konstantinopel.
Arius ingin menekankan perbedaan esensial antara Allah yang unik
dengan semua ciptaan-Nya. Pengakuan iman Arius berbunyi: “Kami mengaku
satu Allah yang satu-satunya tidak diperanakkan, yang satu-satunya
kekal, yang satu-satunya tanpa awal, yang satu-satunya benar, yang
satu-satunya tidak dapat mati, yang satu-satunya bijaksana, yang
satu-satunya baik, yang satu-satunya Tuhan, yang satu-satunya hakim bagi
semua”. (Armstrong, 1993:109)
Ajaran Arius sesuai dengan sabda Yesus, “…mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Yohanes 17:3
Athanasius (uskup Alexandria) adalah patris yang paling keras menentang Arius. Athanasius
[4] (298-373 M) sangat teguh berpendapat bahwa Yesus itu satu hakikat (
homo ousius)
dengan Allah. Ia mengajarkan bahwa Anak (Yesus) bukan makhluk dan
setengah Tuhan atau Tuhan yang kedua. Dia satu zat dengan Tuhan Bapak
dalam segala-galanya. Ketika Anak itu datang ke dunia, itu berarti Tuhan
sendiri yang datang menyelamatkan manusia.
Menurut Athanasius, Anak mempunyai hakikat, sifat, dan kekekalan
esensi yang sama dengan Bapa. Di antara keduanya tak ada pemisahan
yang esensial. Hal ini tak berarti bahwa Anak satu pribadi dengan Bapa,
karena mereka itu benar-benar “dua”.
[Athanasius] secara teguh berpegang pada pendapat bahwa Bapa dan Anak
adalah “dua”. Ia menulis, “Kalau dikatakan bahwa Bapa dan Anak adalah
satu, tidak dalam arti sebagai satu hal yang dibagi atas dua bagian,
dan kedua-duanya ini tidak lain hanya satu, juga bukan sebagai sesuatu
yang disebut dua kali, sehingga Yang Sama itu pada satu saat jadi Bapa,
dan pada saat yang lain jadi Anak-Nya sendiri. Justru karena
berpegang pada pandangan inilah maka Sabelius dipersalahkan sebagai
bidat. Tetapi Mereka adalah dua, oleh karena Bapa adalah Bapa, dan
sebagai Bapa Ia juga bukan Anak; dan Anak adalah Anak, dan sebagai Anak
Ia tidak juga dapat dilihat sebagai Bapa; tetapi hakikat adalah satu…”
(Lohse, 1994:73)
Konflik antara Arius dan Athanasius seakan tiada akhir. Banyak orang
di wilayah Yunani Timur menerima ajaran Arius, banyak juga yang
menolaknya. Sebagian setuju dengan Athanasius, tetapi banyak juga yang
tidak setuju. Gereja sendiri juga masih bingung, belum menentukan sikap,
apakah menentang atau membela ajaran Arius?
Hari ini Arius adalah pemeo untuk bidat, tetapi ketika konflik ini
pecah, belum ada posisi ortodoks yang resmi, dan sama sekali tidak ada
kepastian mengapa atau bah-kan apakah Arius itu salah. Tidak ada hal
yang baru dalam ajarannya: Origen, yang kedua belah pihak sangat
hormati, telah mengajarkan doktrin yang serupa. Namun iklim intelektual
di Aleksandria sudah berubah sejak masa Origen, dan masyarakat kini
tidak lagi yakin bahwa Allahnya Plato dapat dikawinkan secara berhasil
dengan Allahnya AlKitab. (Armstrong, 1993 : 108)
Agama Tauhid Yang Diubah Menjadi Agama Pagan
Perselisihan antara Arius dan Athanasius membuat kaisar Konstantin
khawatir. Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus adalah kaisar
Romawi yang memerintah dari tanggal 27 Februari 272 hingga 22 Mei 337 M.
Ia sangat ambisius. Ia mampu membunuh anak kandungnya, Cisprus, hanya
karena sang putra mahkota lebih termashyur di mata bangsa Romawi
dibandingkan dengan dirinya. Kejadian ini ke-mudian menjadi salah satu
sebab mengapa ibukota kerajaan Romawi dipindahkan ke Byzantium
(Konstantinopel), Turki.
Kaisar Konstantin juga dikenal dengan Dekrit Milannya (tahun 313 M),
yang meresmikan secara penuh kristianitas di dalam kerajaan untuk
pertama kalinya. Tercatat di dalam sejarah, bahwa ia sendiri sebelum
meninggal telah menjadi pemeluk agama Kristen Unitarian. Ia dibaptis
oleh Eusibius dari Nicomedia. Kaisar Konstantin meninggal dalam keimanan
bahwa Yesus bukanlah Tuhan, seperti keimanan orang-orang yang pernah
dimusuhi dan dibunuhinya.
[5]
Di masa kaisar Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan
matahari – kelompok pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak
Tertandingi – dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Celaka baginya,
sebuah guncangan religius tumbuh dan men-cengkeram Roma. Dia dapat
melihat bahwa agama Kristen sedang bangkit, dan tiga abad setelah
‘penyaliban Yesus Kristus’, para pengikut Kristus tumbuh berlipat-lipat.
Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh
sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua.
Di sisi lain, Konstantin khawatir percekcokan tiada akhir dalam agama
Kristen antara pengikut Arius dan Athanasius akan menjadi potensi
perpecahan kerajaannya. Konstantin memutuskan bahwa sesuatu harus
dilakukan, maka dikumpulkannya para Patriarch dan Uskup di seluruh
negeri sebanyak 2.018 orang untuk bersidang di Nicea pada tahun 325 M.
Ini adalah konsili Oikumenis pertama dalam sejarah kekristenan, untuk
membicarakan Yesus itu Tuhan atau bukan.
Apa yang akan terjadi ketika penguasa memutuskan turun tangan untuk
menyelesaikan konflik teologis? Lohse (1994:64) mengungkapkan:
“Agar dapat mengikuti arah diskusi pada Konsili Nicea itu, maka
perlulah diingat situasi yang sama sekali baru, di mana gereja hidup
pada titik ini dalam sejarahnya. Sesudah dihambat selama 300 tahun, maka
gereja sekarang tatap muka dengan seorang Kaisar yang mengakui iman
Kristen.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Kekristenan di Kerajaan Romawi
tidak lagi menjadi agama yang dihambat, tetapi secara resmi ditolerir
dan diakui, bahkan dalam hal-hal tertentu perkembangannya dibantu oleh
kekaisaran. Dari titik pandangan yang murni lahiriah, perubahan dalam
situasi ini juga jelas pada uskup-uskup, yaitu bahwa mereka sejak itu
tidak perlu lagi bergerak ke sana ke mari secara rahasia. Sekarang
mereka mempunyai hak istimewa untuk datang ke konsili dengan menggunakan
fasilitas-fasilitas yang disediakan negara, yang juga biasa dipakai
oleh pejabat-pejabat tinggi negara.
Di Nicea, Kaisar menyediakan tempat penginapan bagi para uskup dalam
istananya. Di sanalah diskusi-diskusi berlangsung, dan dihadiri pula
oleh Kaisar. Sebagai orang yang baru saja ditobatkan, pengetahuan
teologis Kaisar Konstantin tidak mendalam, tapi ia tetap berminat dalam
pembahasan konsili. Perubahan situasi itu telah menyebabkan para uskup
berlomba-lomba memperlihatkan ketaatan mereka kepada Kaisar.”
Ketika uskup berkumpul di Nicea pada tanggal 20 Mei 325 untuk
menuntaskan krisis itu, sangat sedikit yang berpandangan sama dengan
Athanasius soal Yesus. Kebanyakan berposisi di antara Athanasius dan
Arius.
Dalam konsili Nicea, perdebatan berlangsung sengit, tanpa ada
keputusan. 1.700 uskup sepaham dengan Arius. Sisanya sejalan dengan
Athanasius. Namun Kaisar mengumpulkan para uskup yang dianggap sepaham
dengan Athanasius. Melalui pemungutan suara, Kaisar Konstantin
menyatakan ajaran Athanasius yang benar dan menjadi ajaran resmi di
kekaisaran Romawi. Kemudian Konsili Nicea merumuskan bahwa Yesus Kristus
itu satu hakikat (
homo ousius) dengan Allah Bapa (Dwinitas).
Bahkan Kaisar Konstantin mengusul-kan kata penting yang nantinya
diabadikan dalam pengakuan iman Nicea. Isi pengakuan iman Nicea secara
lengkap:
“Kami percaya dalam satu Allah, Bapa yang Maha-kuasa, Pencipta segala
sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; dan di dalam satu
Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, dilahirkan dari Bapa, hanya
diperanakkan, yaitu, dari substansi Bapa, Allah dari Allah, terang dari
terang,
Allah yang sejati dari Allah yang sejati, dila-hirkan bukan diciptakan,
berasal dari satu substansi dengan Bapa,
melalui Siapa segala sesuatu ada, segala sesuatu baik yang di surga
maupun yang di bumi, yang oleh sebab kita menjadi manusia dan demi
keselamatan kita, turun dan menjelma menjadi manusia, menderita, dan
bangkit lagi pada hari yang ketiga, naik ke surga, dan akan datang lagi
untuk meng-hakimi yang hidup dan yang mati; dan di dalam Roh Kudus.”
(Lohse, 1994:65)
Dalam Konsili Nicea itulah Yesus diangkat dan ditetapkan sebagai
‘Putra Tuhan’ secara resmi melalui voting. Dalam voting itu, kelompok
Athanasius unggul dengan perbandingan 315 lawan 3. Sedangkan Arius dan
dua sahabatnya yang menolak menandatangi Kredo Nicea dikucilkan. Sejak
saat itu ajaran-ajaran yang bertentangan dengan iman Nicea, khususnya
ajaran Arianisme yang dipelopori oleh Arius, dianggap sebagai
ajaran-ajaran sesat. Tidak cukup sampai di situ, untuk menguatkan Kredo
Nicea, maka dirumuskan kutukan-kutukan terhadap ajaran-ajaran yang
dianggap sesat. Bunyi kutukan tersebut adalah:
“…Mereka yang berkata bahwa ada saatnya [Kristus] tidak ada, dan
sebelum Ia dilahirkan Ia tidak ada, dan bahwa Ia ada (sebagai yang
berasal dari tidak ada), atau yang berkata bahwa Anak Allah berasal dari
hypostasis atau substansi yang berbeda, atau diciptakan, atau tunduk
kepada perubahan (semuanya) ini.
Gereja Katolik mengutuknya.” (Lohse, 1994:66)
Namun konsili Nicea tidak mengakhiri kontroversi Arius. Malah dengan
Konsili Nicea itu kontroversi mulai mencapai keseriusannya. Memang
kebanyakan uskup yang hadir dalam Konsili Nicea itu menandatangi
pengakuan iman yang dihasilkan. Tetapi terdapat perbedaan yang meluas di
antara mereka mengenai cara memahaminya. (Lohse, 1994:70) Dari segi
doktrin pun, persoalannya belum selesai. Umat Kristen masih bingung:
jika hanya ada satu Allah, bagaimana mungkin Logos juga Allah?
Tahun 381 diselenggarakan konsili Konstantinopel. Sebagian besar isi
pengakuan iman Nicea dirumuskan kembali dalam pengakuan iman
Konstantinopel. Bunyinya mengakui Roh Kudus sebagai Allah. Karena dirasa
belum cukup, tahun 382 diadakan konsili lagi di Konstantinopel. Di sini
keilahian penuh Roh Kudus diteguhkan dengan rumusan: “Ada satu
Ke-allahan, Kuasa, dan Substansi dari Bapa dan dari Anak dan dari Roh
Kudus; martabat mereka adalah sama, dan kemulia-an mereka sama dalam
tiga esensi yang sempurna (
hypos-tasis) dan tiga pribadi yang sempurna.” (Lohse 1994:82)
Namun perdebatan di antara para teolog masih tetap bermunculan.
Perdebatan paling serius, apakah Yesus itu sepenuhnya manusia atau
sepenuhnya Allah? Perdebatan seputar pribadi Yesus muncul dikarenakan
dogma Trinitas selalu berkaitan dengan dogma Kristologi (ilmu tentang
Kristus).
Perdebatan seputar pribadi Yesus didominasi oleh pertentangan antara
Kubu Antiokhia dengan Kubu Aleksandria. Kubu Antiokhia menekankan
perhatian pada “tabiat (haki-kat) kemanusiaan Yesus yang penuh, yang
tidak dikurangi”. Itu sebabnya, Nestorius – teolog Antiokhia – menolak
me-nyebut Maria sebagai “yang melahirkan Allah” (
Theotokos), karena Maria mestinya juga disebut “yang melahirkan manusia” (
Anthropotokos).
Kubu Aleksandria yang digawangi oleh Cyrillus bertentangan dengan Kristologi Nestorius. Cyrillus berkali-kali menekankan bahwa
Logos ilahi
itu sendiri yang menjadi manusia dalam Yesus. Yesus adalah “campuran”
antara yang ilahi dan yang insani. Jadi, tidak mungkin memisahkan tabiat
keallahan dan tabiat kemanusiaan
Logos yang berinkarnasi itu (Lohse, 1994:112-114).
Perselisihan ini pada akhirnya diputuskan dalam Konsili Khalkedon
tahun 451 M. Sebelum konsili dimulai, Paus Leo sudah menulis surat yang
mendorong ditegaskannya kesatuan dari dua tabiat Yesus. Surat itu
“mempersiapkan jalan ke arah keputusan Chalcedon” (Lohse, 1994:116).
Kredo Khalkedon secara resmi menetapkan doktrin “Yesus Kristus 100%
Allah dan 100% manusia” sebagai ajaran resmi gereja. Bunyi yang lebih
lengkap, sebagai berikut:
“…sesuai dengan (pandangan) bapa-bapa suci, kami sepakat untuk
mengajarkan bahwa kami mengakui Tuhan kita, Yesus Kristus, sebagai
Putera yang satu dan sama, yang sama sempurnanya dalam Keallahan dan
yang sama sempurnanya dalam kemanusiaan,
Allah yang sejati dan manusia yang sejati,
yang mempunyai jiwa dan tubuh rasional yang sama (dengan manusia),
berkonsubstansi dengan Bapa dalam Keilahian, dan ber-konsubstansi dengan
kita dalam kemanusiaan, sama seperti kita dalam segala sesuatu kecuali
dosa; dilahirkan dari Bapa sebelum (ada) segala zaman (apabila itu)
menyangkut Keilahian-Nya, dan pada hari-hari yang terakhir, Ia
dilahirkan dari perawan Maria,
Theotokos, oleh karena kita dan
demi keselamatan kita, (apabila itu dipandang dari) kemanusiaan-Nya;
Kristus yang satu dan yang sama, Putera, Tuhan, yang hanya dilahirkan,
dikenal dalam dua tabiat tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa
pemisahan, tanpa pembagian (di antara kedua tabiat itu), perbedaan di
antara dua tabiat itu sama sekali tidak ditiadakan oleh adanya kesatuan,
tetapi sifat dari masing-masing tabiat itu dipeliharakan dan
digabungkan dalam satu
prosopon dan satu
hyposprosopa,
tetapi Putera yang sama dan satu-satunya, yang hanya dilahirkan, Kalam
ilahi, Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana nabi-nabi Perjanjian Lama dan
Yesus Kristus sendiri mengajarkannya kepada kita mengenai Dia dan
pengakuan iman bapa-bapa (suci) diturunkan (kepada kita). (Lohse,
1994:117)
Tahun 335 M diadakan lagi Konsili di Tyre (sekarang masuk Lebanon).
Di sini terjadi anti-klimaks. Athanasius dikutuk, dan kemudian
disingkirkan ke Gaul. Arius bahkan diangkat menjadi Uskup
Konstantinopel. Dua tahun setelah Konsili Tyre, Konstantin meninggal.
Sepeninggal Konstantin, dua konsili lagi diselenggarakan: Konsili
Antiokia di tahun 351 M dan Konsili Sirmium tahun 359 M. Kedua konsili
ini menetapkan bahwa keesaan Tuhan merupakan dasar kekristenan dan tak
mengakui konsep trinitas. Walau demikian, Gereja Paulus (Katolik Roma)
sudah berkembang dengan cepat di Eropa sehingga rakyatnya tidak
menghiraukan hasil dua konsili ini.
[6]
Kaisar Konstantin berhasil menyelamatkan kerajaannya dari jurang
kehancuran. Dia telah berhasil mengakhiri konflik tiada akhir di antara
umat Kristen tentang pribadi Yesus. Tetapi Konstantin merasa
keberhasilannya dalam ‘memprakarsai’ penetapan Yesus sebagai Putra Tuhan
dan perumusan doktrin Tritunggal belumlah cukup. Dia melangkah lebih
jauh lagi. Konstantin memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah
agama tunggal, Kristen. Caranya, mengalihkan para penganut pagan pemuja
matahari menjadi Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol,
tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam tradisi Kristen yang
sedang tumbuh. Melalui Konsili Nicaea, Konstantin berhasil menciptakan
agama hybrid yang dapat diterima kedua belah pihak, yakni agama Kristen
yang berbudaya paganisme, bukan agama Kristen yang mewarisi monoteisme
dari tradisi Yudaisme – seperti yang diajarkan dan dijalani oleh Yesus
dan murid-muridnya.
Kaisar Konstantin dalam Konsili Nicea mengeluarkan empat keputusan resmi. Keputusan itu adalah:
1. Menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.
Sebenarnya hari kelahiran Yesus sampai sekarang tidak diketahui dengan
pasti. Yesus dilahirkan antara tahun 7-2 SM di Betlehem dan dibesarkan
di Nazareth. Namun, oleh kalangan di Barat, Yesus dinyatakan dilahir-kan
pada tahun 1 Masehi. Oleh karena itu, tahun sebelum kelahiran Yesus pun
kemudian dikatakan sebagai tahun Sebelum Masehi (
Before Christ).
Padahal dia tidak dilahirkan pada tahun 1 Masehi! Tanggal 25 Desember
itu sendiri sebenarnya adalah tanggal untuk memperingati hari kelahiran
anak dewa matahari bangsa Yunani (Romawi) yang bernama Apollo, Dionysus,
atau dewa Mithra. Dewa-dewa tersebut meskipun mempuyai nama-nama
yang berbeda, tetapi sebenarnya sama saja. Dewa tersebut merupakan dewa
yang dipercayai juga sebagai dewa penebus dosa (juru selamat) umat
manusia.
2. Hari Matahari Roma menjadi hari Sabbath bagi umat Kristen, dengan nama
Sun-Day, Hari Matahari (Sunday).
3. Mengadopsi lambang silang cahaya yang kebetulan berbentuk salib menjadi lambang kekristenan, dan
4. Mengambil semua ritual ajaran paganisme Roma ke dalam ritual atau upacara-upacara kekristenan.
Dan Brown mengungkapkan proses transmogrifikasi dari Kristen ke agama pagan tersebut, dalam novelnya
The Da Vinci Code, melalui percakapan tokoh-tokohnya:
“Transmogrifikasi,” ujar Langdon. “Jejak-jejak agama pagan
dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir
kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis
yang sedang menyusui putranya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi
cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria
yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus
Katolik – mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan “makan
Tuhan”- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal.”
Teabing mengerang. “Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara
tentang ikon-ikon Kristen. Tak ada yang asli dalam Kristen. Mithra,
Tuhan pra-Kristen-disebut Putra
Tuhan dan
Cahaya Dunia-lahir dan
mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian
dibangkitkan dalam tiga hari. Omong-omong, 25 Desember juga hari lahir
Osiris, Adonis, dan Dionysus. Krishna yang baru lahir dihadiahi emas,
dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan orang Kristen dicuri dari
kaum pagan.”
“Aslinya,” kata Langdon, “Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari
Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan
me-muliakan matahari.” Dia mengambil jeda, menyeringai. “Hingga hari
ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi
tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan
mingguan pada dewa matahari kaum pagan –
Sun-day, hari matahari.” (Dan Brown
The Da Vinci Code, 2003)
Uraian di atas bukanlah suatu tuduhan yang tak berdasar. Gereja
Katolik sendiri secara terus terang telah mengaku ‘mengubah waktu’
peribadatan agama Kristen dari Sabtu (Sabat) ke Minggu di konsili
Laodekia (336 M). James Cardinal Gibbons, pendidik dan uskup Katolik di
Baltimore pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, mengaku pada dasarnya
penyucian hari Minggu tidak punya dasar Alkitabiah yang memadai, dia
bersaksi:
“Anda bisa membaca AlKitab dari Kejadian sampai Wahyu, dan Anda tidak
akan menemukan satu baris pun yang memerintahkan penyucian hari Minggu.
AlKitab menyuruh peribadatan agama di hari Sabtu, hari yang tidak
pernah kita kuduskan.” Tetapi bagi Gibbons kurangnya dasar AlKitabiah
ini bukan masalah besar karena memang Gereja Katolik Roma tidak
bergantung semata-mata kepada pendapat AlKitab. Lanjutnya, “Gereja
Katolik dengan tepat mengajarkan bahwa Tuhan kita dan para rasulnya
berulang-ulang mengajarkan kewajiban-kewajiban agama tertentu yang
penting yang tidak tercatat oleh para penulis (AlKitab) terilham… dengan
demikian, kita harus menyimpulkan bahwa AlKitab saja tidak bisa menjadi
petunjuk dan aturan iman yang memadai.” (
The Faith of Our Father, John Murphy Company, Baltimore, 1917, p. 89).
Gereja Katolik Roma menganggap wewenang tertinggi tidak terletak pada
AlKitab, melainkan pada paus dan gereja sebagai wakil Allah di bumi
[7].
Dalam kedudukan itu, gereja dianggap punya kekuasaan untuk memindahkan
kekudusan Sabat dari hari Sabtu ke Minggu, meskipun pemindahan hari
kudus tersebut melanggar hukum Taurat dan Injil (AlKitab).
[1] Rizki Ridyasmara,
Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005;
hlm. 340.
[2] Jerald F. Dirks.
Salib Di Bulan Sabit: Dialog Antariman Islam – Kristen. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, cet. 2, Maret 2004. hlm.156.
[3] Hugh Goddard.
Menepis Standar Ganda: Membangun Saling Pengertian Muslim-Kristen. Yogyakarta: ADIPURA. Cet. 1, Nopember 2000. hlm. 32.
[4]
Kisah yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa Athanasius sendiri
sebenarnya juga meragukan konsep Trinitas. Ia dengan tegas menyatakan,
“Setiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep
ketuhanan Yesus, saya merasa keberatan dan sia-sia. Hingga makin banyak
menulis untuk mengungkapkan hal itu, ternyata hal ini tidak mampu
dilakukan. Saya sampai pada kata akhir, Tuhan itu bukanlah tiga oknum
melainkan satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukan
suatu keyakinan, tetapi hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan
penyesuaian keadaan di waktu itu.” Rizki Ridyasmara,
Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005;
hlm. 342.
[5] Alexander Edbert C.
Show Us The Straight Path: Menemukan Kebenaran Iman Yang Sejati. Jakarta: Pustaka Intermasa. Cet.1, Oktober 2008. hlm. 39
[6] Rizki Ridyasmara,
Knights Templar Knights Of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armageddon, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar; cet. 1, Oktober 2005;
hlm. 342-343.
[7]
Dalam ajaran Katolik Roma dikenal istilah infallibilitas, yaitu suatu
ajaran yang menyatakan bahwa pemimpin gereja Roma (Paus) apabila sedang
berpendapat mengenai iman dan moral Kristen Katolik, ia tidak mungkin
salah karena mendapat perlindungan Tuhan. Itu sebabnya, pendapatnya
tersebut harus dipercayai dan diikuti oleh seluruh gereja. Ajaran ini
mulai ditetapkan saat Konsili Vatikan I pada tahun 1870. Alexander
Edbert C.
Show Us The Straight Path: Menemukan Kebenaran Iman Yang Sejati. Jakarta: Pustaka Intermasa. Cet.1, Oktober 2008. hlm. 124.