Selasa, 13 Maret 2012

MENGIKUTI SUNNAH RASUL






قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
  “ ( QS. Ali Imran: 31 )



Dalam kitab “ As-Syifa bi ta’rifil huquuqil Mustafa “ telah dijelaskan tentang kewajiban seorang muslim terhadap baginda Rasulullah saw. Kitab yang dikarang oleh Al Qadhi Iyadh bin Musa al Andalusi tersebut menjelaskan bahwa ada lima perkara yang menjadi kewajiban bagi kaum  muslimin terhadap Nabi Muhammad saw . Kelima kewajiban tersebut adalah :
1. Percaya  dan membenarkan segala yang datang dari rasul saw. Kewajiban tersebut berlandaskan firman Allah : “ Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya , Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat Nya dan ikutilah dia agar kamu mendapat petumjuk “ ( QS. Al A’raf : 158 ) . Dengan demikian, berarti iman kepada rasul adalah suatu kewajiban muslim dan mengikuti beliau menjadi persyaratan utama untuk mendapat petunjuk. Tidak beriman kepada Rasul dan tidak mengikuti perintahnya adalah merupakan indikasi kekafiran dan kemunafiqan . “ Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan neraka yang bernyala-nyala untuk orang-orang yang kafir” ( QS. Al fath : 13 ) Iman kepada rasul harus dibuktikan dengan perbuatan dan sikap mengikuti perintah dan larangannya. Jika hanya mengaku beriman tetapi sikap dan perbuatannya menyimpang dari nilai-nilai keimanan itu merupakan tanda-tanda kemunafiqan ( QS. Al Munafiqun : 1 )



2. Mentaati segala petunjuk, perintah dan larangannya.

 Setiap muslim berkewajiban untuk mengikuti segala petunjuk, perintah danlarangan rasul jika mereka benar-benar mengaku beriman kepada Allah. Hal ini berlandaskan firman Allah dalam Al Qur’an : “ Hai orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya sedang kamu mendengar “ ( QS. Al Anfal : 20 ) .  Para ahli tafsir mengatakan bahwa taat kepada Rasul berarti mengikuti sunnah-sunnah beliau dan menerima segala apa yang dibawanya. Mengikuti sunnah berarti mengikuti segala ucapan, tindakan dan perbuatan beliau.



3. Mengikuti Rasul dan mencontoh segala perbuatannya dan bersikap sesuai engan petunjuknya. Iman dan taat kepada rasul harus dibuktikan dengan mengikuti segala ucapan, perbuatan dan sunnah-sunnah beliau. Hal tersebut dilandaskan oleh firman Allah dalam Al Qur an : “ katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah , ikutilah aku ( Muhammad )  niscaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu “ ( QS. Ali Imran: 31 ) . “ Sesungguhnya  pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagi kamu sekalian yaitu jika kamu benar-benar mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari akhirat serta banyak berzikir kepada Allah “ ( QS. Al Ahzab : 21 ).



4. Ttakut melanggar perintahnya.

Melanggar perintah Rasul akan mendatangkan bencana dan siksa. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya  : “ Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya takut akan ditimpa bencana atau ditimpa azab yang pedih “ ( QS. Annur : 63 ). “ dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin; maka kami biarkan dia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dibuatnya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam “ ( QS. Annisa : 115 ).



5. Cinta rasul.

 Iman dan taat kepada rasul berarti juga kewajiban untuk mencintai belia. “ Katakanlah : jika kamu  mencintai bapakmu, anakmu , sanak saudaramu, isterimu, harta kekayaan yang kamu cari, bisnismu yang kamu selalu khawatirkan akan merugi, dan rumah kediamanmu uang kamu banggakan;  lebih daripada cintamu daripada Allah dan rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya “ ( QS. At taubah : 24 ). Kita berkewajiban  untuk mencintai Allah dan rasul-Nya ; jika tidak maka kita akan mendapat bencana. Dari ayat di atas boleh jadi krisis yang selama ini kita rasakan karena kita lebih mencintai bisnis, lebih mencintai harta kekayaan, lebih mencintai karier, lebih mencintai keluarga kita daripada mengikuti Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, dan daripada berjuang di jalan Allah.



Itulah lima kewajiban seorang muslim terhadap rasulullah saw. Mari kita telusuri hidup kita selama ini, sudahkan kelima hal tersebut kita laksanakan dengan baik..?   Allah menyuruh kita untuk mengikuti Rasul dan sejarah telah membuktikan bahwa sejarah rasul adalah sejarah yang paling lengkap dan rinci . Sejarah juga telah membuktikan bahwa rasul adalah contoh teladan dalam semua hal dan segala profesi. Beliau adalah pribadi yang sukses dalam semua profesi baik sebagai bapak, sebagai pemimpin masyarakat, sebagai pedagang, sebagai manajer perusahaan, sebagai pendidik, sebagai sahabat , sebagai warga masyarakat, sebagai pemimpin negara, sebagai panglima perang, sebagai teknokrat, dan lain sebagainya. Dengan mengikuti beliau berarti jaminan kesuksesan berada di tangan kita; karena beliau sudah membuktikannya sehingga masyarakat beliau merupakan masyarakat terbaik bagi sejarah kemanusiaan. ” Khairul quruuni, qarnii ”, sebaik-baik kurun adalah kurun masyarakat pada masaku, demikian sabda nabi tentang kondisi masyarakat beliau.



Mengikuti sunnah beliau berarti mengikuti sunnah beliau dalam totalitas, bukan sebagian-sebagian. Sangat kita sayangkan masih banyak di antara ummat Islam hanya melihat sunnah beliau dari satu pihak atau sebagian penampilan lahiriyah saja;  sedangkan sunnah yang lebih utama yaitu akhlaq, sikap dan kepribadian beliau masih belum mendapat perhatian yang serius. Sebagaimana kita lihat di dalam masyarakat ada yang sangat rajin puasa senin kamis, tetapi kurang harmonis dalam bermasyarakat ; ada lagi yang mengikuti sunnah pakaian beliau tetapi tidak mengikuti sunnah beliau sebagai seorang yang rajin, disiplin, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Ada pula yang rajin bekerja, disiplin , dan mempunyai kepribadian yang baik, sayangnya hal tersebut tidak diikuti dengan sunnah ritual seperti ibadah dan lain sebagainya.



Mengikuti sunnah berarti mengikuti Rasul dalam segala hal, baik dalam ibadah, dalam bekerja, dalam berumah tangga, dalam bermasyarakat, dalam bergaul dan dalam berkarya. Rasul adalah seorang yang rajin ibadah sampai kakinya bengkak karena tahajjud di malam hari. Beliau juga adalah seorang pedagang dan manajer perusahaan yang sukses. Beliau seorang pendidik, pemimpin dan negarawan. Beliau juga penglima perang dan teknokrat , dimana beliau mencipta alat pelempar batu api yang bernama “ al Manjanik “. Beliau seorang dokter dan tabib terbukti dari hadis beliau tentang kedokteran lebih dari tigaratus buah.  Oleh karena itu jika kita berprofesi sebagai pedagang, ikutilah tatacara Nabi dalam berdagang. Jika kita berprofesi sebagai pemimpin, ikutilah tatacara Nabi dalam memimpin. Jika kita seorang manajer, ikutilah nabi dalam tatacara manajemen.



Kalau kita perhatikanmasyarakat muslim sekarang, ternyata masih ada diantara ummat islam yang hanya mengikuti Rasul dalam ibadah saja; sedangkan dalam berdagang memakai cara kapitalis, dalam  memimpin memakai teori yahudi,  dalam bermasyarakat memakai teori ini dan itu yang kadang-kadang bertentangan dengan sunnah rasulullah saw. Seakan-akan sunnah rasul hanya berlaku dalam ibadah dan untuk penampilan lahiriyah saja. Kita bersyukur jika masyarakat telah mengikuti sunnah Rasul dalam   ibadah seperti puasa sunat di hari senin kamis, atau mengikuti sunnah dalam penampilan lahiriyah seperti memakai serban, jenggot dan lain sebagainya tetapi yang lebih penting lagi adalah mengikuti sunnah beliau dalam segala hal baik dalam ibadah, dalam keluarga, dalam berbisnis, dalam perprofesi, dalam bermasyarakat, dalam bernegara dan lain sebagainya. Apalagi di saat dunia dikuasai oleh kemungkaran, maka mengikuti sunnah beliau merupakan sikap yang sangat terpuji sehingga beliau bersabda : “ Mereka yang berpegang dengan sunnahku diwaktu ummatku sedang rusak maka baginya pahala seratus syahid “. Mengikuti sistem dagang rasul di saat semua orang mengikuti sistem kapitalis, mengikuti akhlak Rasul disaat masyarakat dilanda krisis moral;  membedakan antara halal dan haram di saat masyarakat sudah berbudaya permissive ( seba boleh ) ;  bersikap jujur sebagai sunnah nabi di saat semua orang terbiasa dengan kolusi dan korupsi; ini merupakan perjuangan yang dijanjikan akan mendapat pahala seratus syahid.. Semoga dengan bulan maulid ini kita benar-benar dapat mengikuti sunnah rasul sesuai dengan profesi kita masing-masing. Fa’tabiru

Senin, 05 Maret 2012

Kata-kata Orang Bijak | Kata-kata Bijak Cinta

Orang besar menempuh jalan kearah tujuan melalui rintangan dan kesukaran yang hebat.

Belajar tanpa berpikir tidak ada gunanya, sedangkan berpikir tanpa belajar adalah berbahaya.

Orang paling baik adalah orang yang kita harapkan kebaikannya dan kita terlindung dari keburukannya.

Semua ilmu ada pokok bahasannya. Pokok bahasan ilmu para Nabi adalah manusia. Mereka datang untuk mendidik manusia.

Tertipulah yang melakukan tiga perkara : Membenarkan apa yang tak terjadi, mengandalkan orang yang tidak dipercaya dan menghasratkan apa yang tak dimiliki.

Sahabat yang sejati adalah orang yang dapat berkata benar kepada anda, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata anda.

Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya cinta adalah cinta kepada sesama.

Ulurkan cintamu karena Tuhanmu dan tariklah cintamu karena Tuhanmu, anda tentu tak akan kecewa.
Cinta indah seperti bertepuk dua tangan, tak akan indah jika hanya sebelah saja.

Cinta akan menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan cinta, hidup tiada terasa indah.

Naluri berbicara kita akan mencintai yang memuja kita, tetapi tidak selalu mencintai yang kita puja.

Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya.

Jika rasa cinta itu tak terbalas maka bersukurlah, karena anda akan dipilihkan Allah yang lebih baik.
Ingatlah, boleh jadi manusia itu mencintai sesuatu yang membahayakan dirinya atau membenci sesuatu yang bermanfaat baginya. Mohonlah petunjuk-Nya.

Melihatlah ke atas untuk urusan akhiratmu dan melihatlah ke bawah untuk urusan duniamu maka hidup akan tenteram.

Seseorang yang optimis akan melihat adanya kesempatan dalam setiap malapetaka, sedangkan orang pesimis melihat malapetaka dalam setiap kesempatan.

Orang besar bukan orang yang otaknya sempurna tetapi orang yang mengambil sebaik-baiknya dari otak yang tidak sempurna.

Bukan kecerdasan anda, melainkan sikap andalah yang yang akan mengangkat anda dalam kehidupan.
Perjuangan seseorang akan banyak berarti jika mulai dari diri sendiri.

Tegas berbeda jauh dengan kejam. Tegas itu mantap dalam kebijaksana sedangkan kejam itu keras dalam kesewenang-wenangan.Watak keras belum tentu bisa tegas, tetapi lemah lembut tak jarang bisa tegas.

Berbagi rezeki dengan tulus, berbakti pada orang tua, berbuat baik pada sesama, akan mengubah duka menjadi bahagia dan menambah usia.

TENTANG ILMU-ILMU YANG TERPUJI MENURUT ORANG-ORANG UMUM PADAHAL TIDAK TERMASUK LMU YANG TERPUJI.


Penjelasan tentang sebab tercelanya ilmu yang tercela.

Mudah-mudahan kamu mengatakan : "Ilmu adalah mengetahui sesuatu menurut apa adanya", dan ilmu itu adalah sebagian dari sifat-sifat Allah Ta'ala. Maka bagaimanakah sesuatu itu menjadi ilmu dan bagaimanakah dalam keadaannya sebagai ilmu menjadi ilmu yang ter­cela ?
Ketahuilah bahwa ilmu itu sendiri tidaklah tercela. Namun ilmu itu tercela dalam hak hamba karena salah satu dari tiga buah sebab, yaitu :

a. IImu.itu menyampaikan kepada kemadharata . 
( seprti ilmu sihir dan tenung )

Adakalanya bagi pemiliknya (ilmu) atau orang-orang lain seperti tercelanya ilmu sihir dan tenung. Itu adalah benar karena AI Qur'an telah menyaksikannya, dan itu adalah sebab yang menyampaikan kepada perceraian antara suami isteri.

 Rasulullah SAW juga disihir dan sakit sebab sihir itu sehingga Jibril memberitahukan hal itu kepadanya, dan mengeluarkan sihir itu dari bawah batu di dalam dasar sumur.

Sihir adalah satu macam yang diketahui dari ilmu (pengetahuan) mengenai kekhususan-kekhususan benda-benda dan dengan urusan-urusan perhitungan mengenai mathla' (tempat terbit) bintang-bintang. Dari benda-benda itu diambil bentuk menurut gambar diri orang yang disihir, dan diamatinya pada waktu ter­tentu dari mathla' bintang-bintang disertai dengan melafalkan kata-kata kekafiran dan keji yang bertentangan dengan syara'.

Dengan sebab itu ia dapat berhubungan untuk minta tolong kepada syaithan-syaithan. Dan dari kumpulan itu dengan hukum adat yang dijalankan oleh Allah Ta'ala tercapailah keadaan-keadaan yang asing pada diri orang yang disihir.
Mengetahui sebab-sebab ini dari segi bahwasanya itu adalah suatu pengetahuan maka tidaklah tercela. Tetapi karena ilmu itu tidak layak kecuali untuk membuat madharat terhadap manusia pada hal perantaraan kepada kejahatan adalah jahat. Maka itulah sebab yang menjadikannya (sihir) itu ilmu yang tercela dan diharamkan Allah dlm Alqur'an menuntutnya,

Bahkan barang siapa yang mengikuti seorang wali dari wali-wali Allah untuk membunuhnya sedangkan wali itu telah bersembunyi dari pada­nya di tempat yang terjaga, apabila orang yang zhalim bertanya tentang tempatnya maka tidak boleh menunjukkan atasnya namun wajib berdusta. Menuturkan tempat wali itu adalah petunjuk dan memberi pengetahuan tentang sesuatu menurut apa adanya, tetapi itu adalah tercela karena hal itu menyampaikan kepada kemadharat­an.

b. Ilmu itu adalah memadharatkan pemiliknya pada umumnya seperti ilmu nujum.
Sesungguhnya ilmu itu sendiri tidak tercela pada dzat­nya karena ilmu nujum itu dua bagian :

1). Satu bagian adalah perhitungan, pada hal Al Qur'an telah menyatakan bahwa perjalanan matahari dan bulan itu dihitung, karena Allah 'Azza Wa Jalla berfirman :

Artinya : "Matahari dan bulan itu dengan perhitungan ". (Ar Rahman : 5).

Dan Allah 'Azza Wa Jalla berfirman
Artinya "Dan bulan, kami tentukan manzilah-manzilahnya (tempat-tempat peredarannya) sehingga  ia kembali seperti mayang tua" (Yaasiin : 39).
89
2). Hukum-hukum, dan hasilnya kembali kepada mengambil dalil atas peristiwa-peristiwa dengan sebab-sebab. Dan itu menye­rupai seorang dokter/tabib mengambil dalil dengan denyut jan­tung dan urat nadi terhadap sakit yang akan terjadi.

 Itu ada­lah mengetahui jalannya sunnatullah Ta'ala dan. adat kebia­saanNya pada makhlukNya.
Tetapi Syara' telah mencelanya.

Dan beliau SAW bersabda
"Saya takut atas ummatku setelahku terhadap tiga segi, yaitu kezaliman Para imam, percaya kepada bintang-bintang dan mendustakan takdir" H.R. Ibnu 'Abdil Barr dari Abu Mihjam dengan sanad yang lemah.

Dan Umar bin Al Khaththab ra berkata : "Belajarlah mengenai bintang-bintang akan sesuatu yang dengannya kamu memperoleh petunjuk di darat dan di laut kemudian tahanlah.

Tercegahnya ilmu itu karena tiga segi, yaitu

1. Ilmu nujum (ilmu perbintangan) itu memadharatkan sebagian besar makhluk. Sesungguhnya apabila disampaikan kepada mereka bahwa pengaruh-pengaruh ini terjadi setelah perjalanan bintang-bintang maka di dalam jiwa mereka terdapat kepercayaan bahwa bintang-­bintang itulah yang memberi pengaruh, dan bintang-bintang itu sebagai Tuhan yang merencanakan karena bintang-bintang itu benda-benda langit yang mulia. Dan besar melekatnya di dalam hati maka hati menoleh kepadanya dan ia memandang kebaikan dan keburukan itu terhalang atau diharapkan dari arahnya dan ter­hapuslah ingat kepada Allah Yang Maha Suci dari hatinya

karena orang yang lemah itu pandangannya terbatas pada perantara-­perantara. Dan orang 'alim (pandai) lah yang memandang bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang itu tunduk di bawah perin­tahNya SWT.

Contoh pandangan orang yang lemah kepada kejadian cahaya matahari setelah terbit matahari adalah seperti semut seandainya dijadikan akal dan semut itu berada di atas kertas dan melihat hitamnya tulisan yang membaru. Lalu semut itu menduga bahwa tulisan itu perbuatan pena dan semut itu tidak melihat ke atas dalam memandangnya untuk menyaksikan jari-jari. Dari padanya kemu­dian ke tangan, kemudian dari tangan ke kemauan yang mengge­rakkan tangan. Kemudian dari padanya kepada penulis yang mampu dan berkemauan.

Kemudian kepada Dzat Pencipta tangan, kemampuan dan kemauan. Sebagian besar pandangan makhluk itu terbatas pada sebab-sebab yang dekat dan rendah, ter­putus untuk naik kepada Pembuat sebab-sebab. Maka inilah salah .,satu sebab-sebab dilarangnya ilmu nujum (ilmu perbintangan).

2. Bahwasanya hukum-hukum ilmu perbintangan itu adalah dugaan semata-mata, tidak mengetahui mengenai hak orang perseorang baik yakin maupun dugaan. Maka hukumnya itu adalah hukum kebodohan. Maka ketercelaannya itu atas dasar ini dari sisi bahwasa­nya ilmu perbintangan itu adalah kebodohan bukan dari sisi bah­wasanya ilmu tersebut adalah ilmu.

Hal itu telah menjadi mu'jizat bagi Nabi Idris as menurut apa yang dihikayatkan. Ilmu tersebut telah punah, terhapus dan lenyap. Dan sesuatu yang kebetulan benar dari ahli nujum secara jarang adalah kebetulan karena kadang-kadang ia melihat sebagian sebab-­sebab pada hal akibatnya itu tidak dapat dicapai kecuali setelah dipenuhinya syarat-syarat yang banyak, yang ticlak di dalam kemampuan manusia untuk melihat hakikat-hakikatnya.

 Jika sesuai di mana Allah Ta'ala mentakdirkan sebab-sebab itu maka kebe­tulan itu terjadi. Namun jika Dia tidak mentakdirkan maka ahli nujum itu salah.
Itu seperti manusia menebak bahwa hari ini hujan pada saat ia melihat awan berkumpul clan beiringan dari gunung-gunung. Lalu akan  demikian tenggelam dalam ilmu perbintangan dan yang mirip dengannya adalah melempar diri ke dalam bahaya dan tenggelam dalam kebodohan tanpa guna. Karena apa yang telah ditakdirkan itu tetap dan berjaga dari padanya adalah tidak mungkin.

 Beda dengan ilmu kedokteran karena kebutuhan kepadanya itu mende­sak. Sebagian besar dalil-dalilnya adalah sesuatu yang dapat diti­lik. Dan berbeda dengan ilmu ta'bir mimpi meskipun tebakan karena mimpi adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian, dan tidak membahayakan.

4. Tenggelam dalam suatu ilmu di mana orang yang tenggelam pada­nya itu tidak dapat mengambil faidah ilmu maka ia tercela dalam haknya, seperti mempelajari ilmu secara mendetail sebelum ilmu besar (garis besar)nya, ilmu yang tersembunyi sebelum ilmu yang terang-terangan.

Dan seperti membahas tentang rahasia-rahasia Ketuhanan karena para filosof dan mutakallimun meniliknya dan mereka tidak merdeka dengannya. Tidak dapat merdeka dengan­nya dan tidak mengetahui sebagian jalap-jalannya kecuali para Nabi dan para wali.

Maka wajib menghalangi manusia untuk memba­hasnya dan mengembalikan mereka kepada apa yang diucapkan oleh syara'. Maka dalam hal inilah terdapat sesuatu yang memuas­kan untuk mendapat taufik.

Berapa banyak orang yang tenggelam dalam beberapa ilmu namun ia mendapat madharat karenanya. Dan seandainya ia tidak tengge­lam padanya niscaya ia lebih baik dalam beragama dari pada apa yang terjadi padanya.

Tidaklah diingkari keadaan ilmu itu membahaya­kan sebagian manusia sebagaimana daging burung dan macam-macam manisan yang lunak itu membahayakan bagi anak kecil yang masih disusui.

Telah dihikayatkan bahwa sebagian manusia mengadu kepada dokter akan kemandulan isterinya, ia tidak beranak. Lalu dokter/tabib itu memeriksa denyut jantung dan urat nadinya, kemudian berkata : "Kamu tidak membutuhkan obat karena kamu akan mati empat puluh hari mendatang di mana denyutan jantung dan urat nadi atas yang demikian". Maka wanita itu merasakan ketakutan yang amat sangat dan ia susah hidupnya. la keluarkan harta bendanya lalu dibagi-bagikan dan ia membuat wasiat. Tinggallah ia tidak makan dan tidak minum sehingga mana itu habis, namun ia tidak mati. Lalu suaminya datang kepada dokter/tabib itu, sambil berkata kepadanya : "la (isterinya) tidak mati". Lalu dokter/tabib itu menjawab : "Saya telah mengetahui hal itu. Setubuhilah ia maka ia akan beranak". Lalu laki-laki itu bertanya : "Bagaimanakah itu ? ". la menjawab : "Saya melihat­nya gemuk dan lemak telah menutup mulut rahimnya dan saya tahu bahwa ia tidak kurus kecuali dengan takut mati maka saya menakut-­nakutinya dengan yang demikian itu, sehingga ia kurus dan hilanglah penghalang untuk beranak".

Ini memberikan perhatian kepadamu atas dirasakannya bahaya sebagian ilmu, dan membuat kamu faham ter­hadap ma'na sabda beliau SAW :
"Kami berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak ber­guna ".
 H.R. Ibnu Abdil Barr dari hadits Jabir dengan sanad yang baik. Dan pada Ibnu
Majah dengan lafal:(mohonlah perlindungan).

Maka ambillah pelajaran dari hikayat ini dan janganlah kamu menjadi pembahas ilmu-ilmu yang dicela oleh Syara' dan dilarangnya. Tetaplah kamu mengikuti para shahabatnya ra dan cukupkanlah pada as Sunnah.

Keselamatan itu dalam mengikuti sedangkan bahaya itu dalam membahas tentang sesuatu dan merdeka (lepas dari ikatan). Dan janganlah kamu memperbanyak debatan dengan pendapatmu, akalmu, dalilmu, buktimu dan dugaanmu bahwasanya saya membahas tentang sesuatu agar saya mengetahuinya menurut apa adanya".

Maka ke­madharatan manapun dalam memikirkan tentang ilmu maka kema­dharatan yang kembali kepadamu itu adalah lebih banyak. Berapa banyak sesuatu yang kamu tilik lalu penilikanmu atasnya itu mem­bahayakan kamu dengan kemadharatan yang hampir membinasakan kamu dalam akhirat jika Allah Tidak menyusulkan rahmatNya kepadamu.

Ketahuilah bahwasanya sebagaimana dokter yang pandai mengeta­hui rahasia pengobatan yang dipandang jauh oleh orang yang tidak mengetahuinya. Maka demikian juga para Nabi adalah dokter hati dan orang-orang yang mengetahui sebab-sebab kehidupan akhirat maka janganlah kamu menghukumi sunnah-sunnah jalan) mereka dengan apa yang masuk di akalmu maka itu menyebabkan kamu binasa.

Maka demikian juga urusan mengenai jalan akhirat, detail-detail sunnah syara', adab kesopanannya. Dan mengenai akidahnya yang mana manusia beribadah dengannya terdapat rahasia­-rahasia dan hal-hal yang lembut yang tidak di dalam kemampuan dan kekuatannya untuk meliputinya. Sebagaimana dalam kekhususan­-kekhususan batu terdapat hal-hal yang mengagumkan yang mana tukang batu ilmunya tidak menjangkaunya sehingga seseorang tidak mampu untuk mengetahui sebab yang menjadikan magnit itu mena­rik besi.

Maka terdapat keajaiban-keajaiban dan hal-hal yang asing yang terdapat di dalam akidah-akidah, amal-amal dan mempergunakan­nya untuk kejernihan hati, kebersihan dan kesuciannya, dan mem­perbaikinya agar meningkat di samping Allah Ta'ala, dan menawar­kannya untuk memperoleh taburan karuniaNya adalah lebih banyak dan lebih besar dari pada obat-obat dan bibit obat-obatan.

Dan seba­gaimana akal terbatas untuk mengetahui kemanfa'atan obat-obat, sedangkan percobaan adalah jalan. Dan akal terbatas untuk menge­tahui apa yang berguna dalam kehidupan akhirat sedangkan perco­baan tidaklah menyampaikan kepadanya. Percobaan itu akan sam­pai kepadanya seandainya sebagian orang yang meninggal itu kem­bali kepada kita lalu ia memberitakan kepada kita  mengenai amal- amal yang diterima, berguna dan dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan sedekat-dekatnya, dan amal-amal yang menjauhkan dari padaNya.

Demikian juga mengenai akidah-akidah. Hal itu adalah terma­suk sesuatu yang tidak diinginkan. Maka cukup bagimu dari keman­faatan akal bahwa akal itu menunjukkan kamu untuk membenarkan Nabi SAW, dan memberi pemahaman kepadamu akan materi-materi petunjuknya. Setelah itu pencilkanlah akal dari penggunaannya dan tetaplah mengikuti di mana kamu tidak selamat kecuali dengannya (mengikuti) itu, tetaplah berserah diri.

Dan Isa as bersabda : "Alangkah banyaknya pohon-pohon itu namun tidaklah seluruhnya membuahkan. Alangkah banyaknya buah-buahan itu namun tidaklah seluruhnya baik. Dan alangkah banyaknya ilmu namun tidaklah seluruhnya itu bermanfa'at".

Budi pekerti Imam Abu Hanifah


Imam Abu Hanifah rahimahullah Ta'ala adalah seorang yang 'abid (ahli ibadah) yang zuhud dan ma'rifat kepada Allah Ta'ala karena takut kepadaNya dan dengan ilmunya ia berkemauan memperoleh ridha Allah Ta'ala.

Adapun keadaannya sebagai seorang yang ahli beribadah maka dapat diketahui dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abdil Muba­rak bahwasanya ia berkata bahwasanya Abu Hanifah rahimahullah Ta'ala itu seorang yang muru'ah (menjaga nilai kemanusiaannya untuk tetap pada akhlak yang mulia) dan banyak shalat.

Hammad bin Abi Salman meriwayatkan bahwasanya ia (Abu Hanifah) menghidupkan seluruh malamnya.Pada suatu hari ia lewat di jalan lalu ada seseorang menunjuk kepadanya sambil berjalan dan berkata kepada orang lain : "Inilah orang yang menghidupkan selu­ruh malamnya".

Setelah itu ia menghidupkan seluruh malamnya dan ia berkata! "Saya malu kepada Allah Yang Maha Suci untuk disifati dengan ibadah yang tidak ada padaku".

Adapun zuhudnya maka telah diriwayatkan dari Rabi' bin Ashim berkata : "Yazid bin Umar bin Hubairah mengutusku lalu saya menghadap, kepada Abu Hanifah, karena Yazid menghendaki agar Abu Hanifah menjabat penguasa baitul mal. Namun Abu Hanifah meno­lak maka ia dipukul dua puluh kali dengan cambuk.

Lihatlah bagai­mana ia lari dari kekuasaan dan mau menanggung siksaan.

Hakam bin Hisyam Ats Tsaqafi berkata : "Saya di Syam dice­ritai sebuah ceritera tentang Abu Hanifah bahwasanya ia tergolong manusia yang paling besar amanatnya dan Sultan menghendaki agar ia memegang kunci perbendaharaannya atau memukul punggungnya. Lalu ia memilih siksaan mereka (Sultan dan petugas) kepadanya dari pada siksaan Allah Ta'ala.

Dan diriwayatkan: bahwasanya disebutkan Abu Hanifah di sisi Ibnul Mubarak lalu Ibnul Mubarak berkata : "Apakah kamu seka­lian ingat seorang laki-laki yang ditawarkan kepadanya dunia dengan keseluruhannya lalu ia lari dari padanya".

Dan diriwayatkan dari Muhammad bin Syuja' dari sebagian teman-temannya bahwasanya dikatakan kepada Abu Hanifah : "Amirul mu'minin Abu Ja'far Al Manshur telah memerintahkan kepa­damu dengan sepuluh ribu dirham". Ia berkata : "Abu Hanifah tidak rela". Maka pada hari yang diperkirakan harta itu akan diberikan kepadanya, ia shalat Shubuh kemudian menutup badannya dengan kainnya dan tidak berkata. Lalu utusan Hasan bin Quhthubah mem­bawa harta, dan masuk kepadanya namun ia tidak berkata kepada­nya. Berkatalah sebagian orang yang Nadir : "Ia tidak berkata kepada kita kecuali kata demi kata" yakni itulah kebiasaannya. la (Abu Hani­fah) berkata : "Letakkanlah uang itu di gerebag di sudut rumah ! ". Kemudian setelah itu Abu Hanifah berwasiat mengenai harta benda rumahnya. la berkata kepada anak laki-lakinya : "Apabila saya mati dan kalian telah menguburku maka ambillah uang puluhan ribu dirham ini dan bawalah kepada Hasan bin Quhthubah lalu katakan­lah kepadanya : "Ambillah titipanmu yang telah engkau titipkan kepada Abu Hanifah". Anak laki-lakinya berkata : "Lalu saya melaksanakan hal itu". Hasan berkata : "Semoga rahmat Allah atas ayahmu. la sungguh ketat terhadap agamanya".

Dan diriwayatkan bahwasanya ia dipanggil untuk menjabat hakim. Lalu ia berkata : "Saya tidak pantas untuk jabatan ini". Maka dita­nyakan kepadanya : "Mengapakah ?" Lalu ia menjawab: "Jika saya benar maka saya tidak pantas untuknya. Dan jika saya dusta maka orang yang dusta itu tidak pantas untuk menjabat hakim".

Adapun ilmunya mengenai jalan akhirat, jalan urusan agama dan ma'rifatnya kepada Allah 'Azza Wa Jalla maka ditunjukkan oleh sangat takutnya kepada Allah Ta'ala dan zuhudnya terhadap dunia.

Ibnu Juraij berkata : "Telah sampai kepadaku tentang orang Kufahmu, bahwasanya Nu'man bin Tsabit ini adalah orang yang sangat takut kepada Allah Ta'ala.

Syarik An Nakha'i berkata : "Abu Hanifah itu lama diamnya, terus menerus berfikir dan sedikit berbicara kepada manusia". Ini ada­lah tanda-tanda yang paling jelas atas ilmu batin dan sibuk dengan urusan-urusan agama yang penting.

Barang siapa yang dikarunia diam dan zuhud maka ia telah dikaruniai seluruh ilmu. Inilah sekelumit dari imam Abu Hanifah

Adapun pengikut Imam Ahmad bin Hambal dan Sufyan At Tsauri rahimahullah Ta'ala adalah lebih sedikit dari pada mereka. Sedangkan pengikut Sufyan adalah lebih sedikit dari pada pengikut Ahmad. Akan tetapi kemasyhuan tentang wara' dan zuhud keduanya itu lebih nyata.

Dikutib dari Ihya Ulumuddin jilid 1.