Sabtu, 15 Desember 2012

BIOGRAFI PROF.DR.H. MAHMUD YUNUS

Berkas:Prof. Dr. H. Mahmud Yunus.jpg

A. Latar Belakang Keluarga
Mahmud Yunus dilahirkan pada tanggal 10 Februari 1899 Masehi. Bertepatan dengan tanggal 30 Ramadhan 1316 Hijriyah di desa Sungayang Batu Sangkar Sumatera Barat. Tahun kelahirannya bersamaan dengan dicetuskannya politik etis, assositie politic, atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan zaman poli balas jasa dari pemerintah kolonial Belanda. Upaya balas budi terhadap masyarakat Indonesia dilakukan melalui jalur pendidikan. Meskipun secara yuridis formal sudah ditetapkan pada tahun 1899, namun secara efektif baru terealisir awal abad kedua puluh.[1]
Mamud Yunus dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani biasa, bernama Yunus bin Incek dari suku Mandailing dan ibunya bernama Hafsah dari suku Chaniago. Walaupun dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Namun keluarga ini mempunyai nuansa keagamaan yang kuat. Ayah Mahmud Yunus adalah bekas pelajar surau dan mempunyai ilmu keagamaan yang cukup memadai. Sehingga dia diangkat menjadi Imam Nagari (masjid). pada waktu itu diberikan secara adat oleh Anak Nagari kepada salah seorang warganya yang pantas untuk menduduki jabatan itu atas dasar ilmu agama yang dimilikinya.
Di samping itu Mahmud Yunus bin Incek di masyarakat juga sebagai seorang yang jujur dan lurus. Ibunya seorang yang buta huruf, karena itu ia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, apalagi pada waktu itu di desanya belum ada sekolah desa. Tetapi ia dibesarkan dalam lingkungan yang Islami. Kakek Hafsah adalah seorang ulama yang cukup dikenal, bernama Syekh Muhammad Ali yang banyak dikenal masyarakat waktu itu. Ayahnya bernama Doyan Muhammad Ali, bergelar Angku Kolok.
Pekerjaan Hafsah sehari-hari adalah bertenun, ia mempunyai keahlian menenun kain yang dihiasi benang emas, yaitu kain tradisional Minangkabau yang dipakai pada upacara-upacara adat. Saudara Hafsah bernama Ibrahim, seorang kaya di Batu Sangkar. Kekayaan Ibrahim ini sangat menopang kelanjutan pendidikan Mahmud Yunus, terutama pada waktu ia belajar ke Mesir. Ibrahim sangat memperhatikan bekat serta kecerdasan yang dimiliki oleh kemenakannya ini. Dialah yang mendorong Mahmud Yunus untuk melanjutkan pelajarannya ke luar negeri dengan disertai dukungan dana untuk keperluan itu. Hal ini memberikan gambaran tentang bagaimana tanggung jawab seorang mamak terhadap kemenakannya yang berlaku di Minangkabau pada waktu itu. Sebagai pepatah yang berbunyi: “Anak di pangku, kemenakan dibimbing”. Suatu kelaziman yang berlaku sepenuhnya pada waktu itu. Bahwa tanggung jawab mamak terhadap keponakan bukanlah di dasarkan atas ketidakmampuan dari ayah keponakan itu sendiri.
Ibrahim mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Mahmud Yunus, ia bergelar Datuk Sati, sangat ahli dalam bidang adat ini diasumsikan menjadi penyebab mengapa Mahmud Yunus kurang menonjol pengetahuannya dalam adat Minangkabau. Ibrahim menginginkan arahan yang berbagi antara anak dan kemenakan, karena anaknya sangat menggemari masalah-masalah adat, maka ia menyalurkan kegemarannya untuk belajar kepada ahli-ahli adat, hingga ia menguasai adat ini dengan baik. Di lain pihak, melihat perkembangan Mahmud Yunus dari kecil, ternyata lebih cenderung mempelajari agama, maka Ibrahim pun menyokong kecenderungan ini. Bahkan ia tak berkeberatan menanggung semua biaya yang diperlukan untuk keperluan itu, hingga Mahmud Yunus dapat melanjutkan pelajarannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Dukungan ekonomi dari sang mamak dengan disertai dorongan dari orang taunya, maka Mahmud Yunus sejak kecil hingga remaja hanya dilibatkan dengan keharusan untuk belajar dengan baik tanpa harus ikut memikirkan ekonomi keluarga dalam membantu orang tuanya mencari nafkah, ke sawah atau ke ladang, meskipun Mahmud Yunus satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, ia dan adiknya Hindun, sedangkan ayahnya telah meninggalkan ibunya selagi Mahmud Yunus masih kecil.
B. Pendidikan Mahmud Yunus
Sejak kecil Mahmud Yunus sudah memperlihatkan minat dan kecenderungannya yang kuat untuk memperdalam ilmu agama Islam. Ketika berumur 7 tahun ia belajar membaca al-Qur’an di bawah bimbingan kakeknya, M. Thahir yang dikenal dengan nama Engku Gadang.[2] Setelah selesai belajar mengaji dan menghafal al-Qur’an Mahmud Yunus langsung membantu kakeknya mengajarkan al-Qur’an sebagai guru bantu, sambil ia mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab dengan kakeknya.
Pada tahun 1908, dengan dibukanya sekolah desa oleh masyarakat Sungayang, Mahmud Yunus pun tertarik untuk memasuki sekolah ini. Ia kemudian meminta restu ibunya untuk belajar ke sekolah desa tersebut. Setelah mendapat restu dari ibunya untuk belajar ke sekolah desa tersebut. Setelah mendapat restu dari ibunya untuk belajar, iapun mengikuti pelajaran di sekolah desa pada siang hari, tanpa meninggalkan tugas-tugasnya mengajar al-Qur’an pada malam harinya. Rutinitas seperti ini dijalani oleh Mahmud Yunus dengan tekun dan penuh prestasi, tahun pertama sekolah desa diselesaikannya hanya dalam masa 4 bulan, karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya.
Di kelas tiga Mahmud Yunus menjadi siswa terbaik bahkan ia dinaikkan ke kelas empat. Mahmud Yunus merasa bosan belajar di sekolah desa, Karena pelajaran sebelumnya sering di ulang-ulang pada saat bosan itu ia mendengar kabar bahwa H.M. Thaib umar membuka Madrasah (sekolah agama) di surau Tanjung penuh Sungayang dengan nama Madras School (Sekolah Surau).[3]
Akhirnya Mahmud Yunus tertarik untuk mengikuti setalah mendapatkan persetujuan ibu dan gurunya di sekolah desa. Pada tahun 1910 Mahmud Yunus dengan diantar ayahnya mendaftar di Madrasah School di sekolah ini ia hanya belajar ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu nahwu dan ilmu sharaf dengan memakai papan tulis saja, tanpa kitab, berhitung menurut system ahli hisab Arab (system faraid), bahasa Arab dengan mengadakan percakapan dan lain-lain. Mahmud Yunus membagi waktu belajarnya dari jam 09.00 pagi hinga 12.00 siang di madrasah school. Sedang malam harinya mengajar disurau kakeknya, sebagai guru bantu kakeknya dalam mengajar al-qur’an. Pad tahun 1911, karena keinginan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Secara lebih mendalam kakeknya untuk kemudian menggunakan waktu sepenuhnya, siang dan malam belajar dengan tekun bersama ulama pembaharu ini, hingga ia menguasai ilmu-ilmu agama dengan baik. Bahkan ia di percaya oleh gurunya ini untuk mengajarkan kitab-kitab yang cukup berat untuk ukuran sakit, karena itu Mahmud Yunus secara langsung di tugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School.
Kepercayaan dan harapan H.M Thaib umar terhadap muridnya yang brilyan ini Mahmud Yunus cukup besar. Pertanyaan ini tidak berlebihan sebab kepercayaan H.M. Thain Umar mengutus Mahmud Yunus mewakili dirinya untuk menghadiri pertemuan akbar yang diikuti oleh alim ulama seluruh Minangkabau. Rapat akbar itu membicarakan tentang keinginan untuk mendirikan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Hal ini merupakan indicator, bahwa Mahmud Yunus dapat duduk bersama membicarakan kepentingan-kepentingan umat Islam di tengah para intelektual Islam senior waktu itu.
Selain kompetensi Mahmud Yunus sebagaimana digambarkan di atas. Tahun 1918 Yunus berusaha menghidupkan kembali Madras School kegiatan ini dilakukan di tengah maraknya perbincangan tentang perlunya pembaharuan system pendidikan. Oleh karena itu sejak tahun 1918-1923 merupakan masa-masa sibuk Mahmud Yunus dalam mentransfer dan menginternalisasikan ilmu pengetahuannya di madras school. Mahmud Yunus mengambarkan sebagai berikut : “Pada saat Mahmud Yunus menjadi guru di Madrasah School ini di Minangkabau sedang tumbuh gerakan pembaharuan Islam yang di bawah oleh alumni Timur Tengah, diantaranya melalui lembaga pendidikan yang berorientasi pembahruan yang dipelopori oleh Syeik Tahir Djalaludin, Abdullah Ahmad, Abd. Karim Amrullah, Zainuddin Labia el Yunusy dan lain-lainnya. Mahmud Yunus nampaknya ikut pula berkecimpung dalam gerakan pembaharuan ini.[4]
Setelah memiliki pengalaman beberapa tahun belajar, kemudian mengajar dan memimpin madras school serta telah menguasai dengan mantap beberapa bidang ilmu agama, Mahmud Yunus kemudian berkeinginan untuk melanjutkan pelajarannya ke tingkat lebih tinggi di al-Azhar Mesir. Keinginan ini muncul setelah ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada tahun 1924 di Mal-Azhar, Mahmud Yunus kembali memperlihatkan prestasi yang istimewa, ia mencoba untuk menguji kemampuannya dalam ilmu-ilmu gama dengan mengikuti ujian akhir. Untuk memperoleh syahadah (ijazah) ‘alimiyyah, yaitu ujian akhir bagi siswa-siswa yang telah belajar sekurang-kurangnya 12 tahun (ibtidaiyyah 4 tahun, tsanawiyah 4 tahun, dan aliyah 4 tahun). Ada 12 mata pelajaran yang diuji untuk mendapatkan syahadah ini, namun semuanya itu telah dikuasai olehMahmud Yunus waktu belajar di tanah air, sebagaimana di catatannya : “Kalau hanya ilmu itu saja yang akan di uji, saya sanggup masuk ujian itu, karena ke 12 macam ilmu itu telah saya pelajari di Indonesia, bahkan telah saya ajarkan beberapa tahun lamanya (1915-1923).
Ujian ini dapat diikutinya dengan baik dan berhasil lulus serta mendapatkan ijazah (syahadah) “alamiyyah” pada tahun yang sama tanpa melalui proses pendidikan. Dengan ijazah ini, Mahmud Yunus lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia kemudian memasuki Darul’ulum ‘Ulya Mesir. Pada tahun 1925 ia berhasil memasuki lembaga pendidikan yang merupakan Madrasah ‘Ulya (setingkat Perguruan Tinggi) agama yang  juga mempelajari pengetahuan umum.
Mahmud Yunus sangat terkesan dengan sistem pendidikan pada Darul Ulum tersebut, ia memilih jurusan tadris (keguruan). Perkuliahan di darul ‘ulum ‘ulya mulai dari tingkat I sampai IV dan semua tingkat itu dilaluinya dengan baik, bahkan pada tingkat terakhir, dia memperoleh nilai tertinggi pada mata kuliah insya (mengarang). Pada waktu itu Mahmud Yunus adalah satu-satunya mahasiswa asing yang berhasil menyelesaikan hingga ke tingkat IV Darul ‘ulum.
Kuliah Mahmud Yunus berakhir dengan lancar tahun 1929. Dia mendapat ijazah diploma guru dengan spesialisasi bidang ilmu pendidikan. Setelah itu ia kembali ke kampung halamannya di Sungayang Batu Sangkar. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. Ini amat mengembirakan Mahmud Yunus yang lantas mendirikan dua lembaga pendidikan Islam, tahun 1931, yakni al-Jami’ah Islamiyah di Sungayang dan Norma Islam di Padang. Di kedua lembaga inilah dia menerpakan pengetahuan dan pengalaman yang didapatnya di Darul ‘ulum.
C. Karir
Setelah kembali ke Indonesia 1930, Mahmud Yunus aktif di organisasi Islam dia juga banyak menjadi pimpinan dalam suatu lembaga diantaranya adalah:
1.      Memimpin al-Jami’ah al-Islamiyyah di Sunga yang Madrasah School yang dulu pernah di pimpin Mahmud Yunus menggantikan gurunya H.M. Thaib Umar, mulai mendapatkan sentuhan perubahan. Mahmud Yunus mengagganti nama Madras School dengan al-Jami’ah al-Isilamiyyah. Sekolah-sekolah pemerintah yaitu jenjang Ibtida’iyyah dengan masa belajar 4 tahun setingkat shakel, jenjang tsanawiyah dengan masa belajar 4 tahun, setingkat AMS al-Jami’ah al-Isilamiyyah dipimpin oleh Muhammad Yunus lebih banyak di padang dalam memimpin normal Islam di Padang.
2.       Memimpin normal Islam di Padang Normal Islam (kuliyatul mu’allimin al-islamiyyah) didirikan di padang oleh Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) pada bulan april 1931. Sekolah ini setingkat aliyah dan bertujuan untuk mendidik calon guru. Oleh karena itu murid yang ditreima di sekolah ini dalah lulusan madrasah 7 tahun. Kepemimpinan normal Islam dipercayakan kepada Mahmud Yunus. Normal Islam adalah madrasah yang terbilang modern untuk waktu itu. Sekolah ini disamping telah memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulum pengajarannya, juga sudah memiliki laboratorium kimia dan fisika, juga alat-alat praktikum lainnya. Selama memimpin norma Islam, Mahmud Yunus telah melakukan pembaharuan sistem pengajaran, terutama metode pengajaran bahasa Arab.
3.      Memimpin sekolah Islam tinggi (SIT) di Padang Sekolah tinggi Islam ini merupakan Perguruan Tinggi Islam pertama di Minangkabau bahkan di Indonesia. SIT didirikan oleh PGAI di Padang pada bulan Desember 1940 dan sebagai pemimpin pertama dan dipercayakan kepada Mahmud Yunus. Sekolah tinggi ini terdiri dari dua fakultas, yaitu : Fakultas syari’ah dan fakultas pendidikan / bahas Arab, akan tetapi sekolah tinggi ini hanya berjalan kurang dari tiga tahun, karena pada tahun 1942, saat jepang telah menguasai kota padang, ada ketentuan pemerintahan baru yang tidak membolehkan adanya sekolah tinggi di daerah penduduknya.
4.      Mendirikan dan memimpin Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bukit Tinggi. Pada saat tentara sekutu menduduki kota padang, secara beruntun terjadi pertempuran hebat antara pemuda-pemuda dengan tentara sekutu. Suasana ini mengakiabtkan terancamnya sekolah-sekolah agama Islam yang ada di padang. Banyak guru-guru dan murid-murid yang mengungsi ke bukit tinggi. Di bukit tinggi atas prakarsa Mahmud Yunus dan dengan kesepakatan guru-guru yang ada, untuk menjaga kelangsungan pendidikan gama Islam didirikan sekolah di pimpin langsung oleh Mahmud Yunus, namun tidak lama, pada bulan Desember Mahmud Yunus dipindahtugaskan ke Pematang Siantar, dan kepemimpinan smi di pegang oleh H. Bustani Abdul Gani.
5.      Memimpin IAIN Imam Bonjol di Padang Menjadi Rektor pertama pada perguruan tinggi agama Islam negeri pertama di sumatera barat adalah jabatan terakhir yang diemban oleh Mahmud Yunus selama menjadi pegawai departemen agama. Banyak aktivitas keagamaan dan kependidikan agama yang telah dijalaninya pada waktu sebelumnya, baik sebagai Dekan pada Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta sebagai kepala lembaga pendidikan agama dan sebagai dosen pada beberapa perguruan tinggi. Pengalamn-pengalaman itu tentu menjadi pertimbangan bagimateri agama untuk mempercayakan jabatan rector IAIN Imam Bonjol di Padang. Jabatan ini di peganganya dari tahun 1967 hingga memasuki masa pensiun pada akhir tahun 1970 dan pada tahun 1982 Mahmud Yunus meninggal dunia.
D. Karya Tulis Mahmud Yunus
Mahmud Yunus di masa hidupnya dikenal sebagai seorang pengarang yang produktif. Aktifitasnya dalam melahirkan karya tulis tak kalah penting dari aktivitasnya dalam lapangan pendidikan. Popularitas Mahmud Yunus lebih banyak di kenal lewat karangan-karangan, karena buku-bukunya tersebar di setiap jenjang pendidikan khususnya di Indonesia.
Buku-buku Mahmud Yunus menjangkau hampir setiap tingkat kecerdasan. Karangan-karangannya bervariasi mulai dari buku-buku untuk konsumsi anak-anak dan masayarakat awam dengan bahasa yang ringan, hingga merupakan literature pada perguruan tinggi. Pada perjalanan hidupnya, ia telah mengahasilkan buku-buku karangannya sebanyak 82 buku. Dari jumlah itu Mahmud Yunus membahas berbagai bidang ilmu, yang sebagian besar dalah bidang-bidang ilmu agama Islam. Berikut ini di antara buku-buku karya Mahmud Yunus. :
1. Bidang pendidikan : 6 karya
- Pengetahuan umum dan ilmu mendidik
- Metodik khusus pendidikan agama
- Pengembangan pendidkan Islam di Indonesia
- Pokok-pokok pendidkan dan pengajaran
- At-Tarbiyyah wa at-Ta’lim
- Pendidikan di Negara Islam dan initsari pendidikan barat.
2. Bidang bahasa Arab : 15 karya
- Pelajaran bahasa Arab I
- Pelajaran bahasa Arab II
- Pelajaran bahasa Arab III
- Pelajaran bahasa Arab IV
- Durusu al-Lughah al-arabiyyah ‘ala Thariqati al-Haditsah I
- Durusu al-Lughah al-arabiyyah ‘ala Thariqati al-Haditsah II
- Metodik khusus bahasa Arab
- Kamus Arab Indonesia
- Contoh tulisan Arab
- Muthala’ah wa al-Mahfuzhaat
- Durusu al-Lughah al’Arabiyyah I
- Durusu al-Lughah al’Arabiyyah II
- Durusu al-Lughah al’Arabiyyah III
- Mukhadatsah al-‘Arabiyyah
- Al-Mukhtaraat li al-Muthala’ah wa al-Mahfuzhhat
3. Bidang fiqh : 17 karya
- Marilah sembahyang I
- Marilah sembahyang II
- Marilah sembahyang III
- Marilah sembahyang IV
- Puasa dan zakat
- Haji ke Mekkah
- Hukum waris dalam Islam
- Hukum perkawinan dalam Islam
- Pelajaran sembahyang untuk orang dewasa
- Soal jawab Hukum Islam
- Al-Fiqhu al-Wadhih
- Fiqhu al-Wadhih an-Nawawy
- Al-Masailu al-Fiqhiyyah ‘ala Mazahibu al-Arba’ah
4. Bidang tafsir : 15 karya
- Tafsir al-Qur'anul qarim (30 Juz)
- Tafsir al-Fatihah
- Tafsir ayat akhlak
- Juz ‘amma dan terjemahannya
- Tafsir al-Qur'an juz 1-10
- Pelajaran huruf al-Qur'an 1973
- Kesimpulan isi al-Qur'an
- Alif ba ta wa juz ‘amma
- Muhadharaat al-israiliyyaat fi at-tafsir wa al-Hadits
- Tafsir al-Qur'anul Karim juz 11-20
- Tafsir al-Qur'anul Karim juz 21-30
- Kamus al-Qur'an I
- Kamus al-Qur'an II
- Kamus al-Qur'an (juz 1-30)
- Surat yaasin dan terjemahannya
5. Bidang akhlak : 9 karya
- Keimanan dan akhlak I
- Keimanan dan akhlak II
- Keimanan dan akhlak III
- Keimanan dan akhlak IV
- Beriman dan berbudi pekerti
- Lagu-lagu baru pendidikan agama/akhlak
- Akhlak bahasa Indonesia
- Moral pembangunan dalam Islam
- Akhlak
6. Bidang sejarah : 5 karya
- Sejarah pendidikan Islam
- Sejarah pendidikan Islam di Indonesia
- Tarikh al-fiqhu al-Islamy
- Sejarah Islam di Minangkabau
- Tarikh al-Islam
7. Bidang perbandingan agama : 2 karya
- Ilmu perbandingan agama
- Al-Adyaan
8. Bidang Dakwah : 1 karya
- Pedoman dakwah Islamiyyah
9. Bidang ushul fiqh : 1 karya
- Muzakaraat Ushulu al-Fiqh
10. Bidang Tauhid : 1 karya
- Durusu at-Tauhid
11. Bidang ilmu jiwa : 1 karya
- Ilmu an-Nafsu
12. Lain-lain: 9 karya
- Beberapa kisah Nabi dan khalifahnya
- Do'a-do'a Rasulullah
- Pemimpin pelajaran agama I
- Pemimpin pelajaran agama II
- Pemimpin pelajaran agama III
- Kumpulan do'a
- Marilah ke al-Qur'an
- Asy-Syuhuru al-‘Arabiyyah fi Biladi al-Islamiyyah
- Khulashah Tarikh al-Ustadz Mahmud Yunus.26
Dari banyaknya karya tulis yang telah dihasilkannya telah menunjukan bahwa Mahmud Yunus adalah seorang cendekiawan yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas terhadap Islam. Maka wajar saja jika pemikiran dan ide-idenya menembus ruang dan waktu.


[1] Ramayulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Pendidikan Islam (Ciputat : Quantum Teaching, 2005), 336
[2] Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 57
[3] Ramayulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching,
2005), 337

[4] Ramayulis, Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching,  2005), 339

Biografi Syekh Ibrahim Musa Parabek


ibrahim musa
Pada awal abad ke-20 M., Minangkabau merupakan daerah yang penuh dengan dinamika pergolakan sosial seperti pembaharuan pendidikan dan pemumian agama. Sejak pertengahan abad ke-19 M., interaksi Minangkabau dengan pusat-pusat dunia Islam makin bertambah lancar, sehingga pesantren yang mempertahankan tarikat dan sulukpun mulai mengalami perobahan pula. ini merupakan implikasi dari dinamika pemikiran agama Islam di Timur Tengah kala itu. Para pembaharu yang umumnya belajar di Mekkah, ketika pulang ke ranah Minangkabau, mereka secara kolektif melancarkan terobosan atas ketidakmurnian ajaran Islam yang dianut masyarakat Minangkabau. Ketika inilah muncul dikotomi Kaum Muda atau dikenal dengan kelompok pembaharuan dan Kaum Tua. Kaum muda terkesan progresif, sedangkan Kaum Tua terkesan konvensional dan konservatif. Geliat Kaum Muda ketika itu menimbulkan berbagai kesan dan pertentangan. Salah satu bukti eksistensi Kaum Muda cukup signifikan di Minangkabau masa ini adalah tulisan Dt. St. Marajo dalam Majalah Utusan Melayoe tahun 1907 yang menulis artikel tentang pembaharuan agama di Minangkabau. Tulisan tersebut menyorot kiprah utama-ulama yang berada dalam "kubu" Kaum Muda. Dt. Marajo memberi julukan kepada mereka "Harimau Nan Salapan", sebagaimana julukan ini juga pernah diberikan kepada ulama-ulama par-excellent penyebar agama Islam awal di Minangkabau.
Ulama-ulama Harimau Nan Salapan versi Dt. Sutan Marajo ini adalah : DR.Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), DR.H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, dan Syekh Mustafa Abdullah Padang Japang. Dalam konteks inilah, maka figur Syekh Ibrahim Musa Parabek dijadikan fokus tulisan penelitian. Dalam masa awal abad ke 20, kedelapan ulama diatas dianggap sebagai ulama yang paling berpengaruh. Setidaknya, julukan Harimau Nan Salapan memberikan bukti bahwa pengaruh mereka sangat signifikan dalam proses pembaharuan Islam di Minangkabau. Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek pada hari Ahad 12 Syawal 1301 H., yang bertepatan dengan tahun Miladiah 1882 M. Di masa kecil diberi nama oleh orang tuanya dengan "LUTHAN". Beliau merupakan keturunan hartawan dan dikenal sebagai keluarga yang taat menjalankan syari'at agama Islam. Ayahnya, Musa bin Abdul Malik Al­-Qasthawi seorang ulama yang cukup dikenal dan sangat dihormati masyarakat di Parabek. Ayahnya berasal dari suku Jambak sedangkan ibunya, Ureh, berasal dari suku Pisang. Ibrahim Musa memiliki satu orang adik perempuan bernama Kamariah dan seorang kakak bernama Abdul Malik. Ibrahim Musa Parabek atau "Luthan Kecil" mempunyai karakter yang lemah lembut, konsisten dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun, penuh pertimbangan dan tidak mau memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Drs.H. Sidi Ibrahim Bukhari, SH mengatakan : "Kelebihan Syekh Ibrahim Musa Parabek yang sangat menonjol adalah ketenangannya dalam segala hal. Tenang daiam menjawab soal, memberi pertanyaan, dan menegur segala yang salah dan janggal dalam mengajar dan berpidato. Ketenangan inilah yang membuat beliau selalu berfikir dan berhati-hati dalam mengeluarkan segala buah pikirannya. Bukti ketenangan ini dapat dilihat dari wajah beliau sendiri seperti terlihat dikulit luar Gema Islam (nama majalah yang cukup berpengaruh waktu itu: ed.) No. 38-39 yang diterbitkan tanggal 11 September 1963, tidak lama setelah beliau meninggal dunia". Ibrahim Musa memperoleh pendidikan dasar secara tradisional di beberapa tempat di Minangkabau. Mula-mula belajar membaca Al-Qur'an dengan orang tuanya sendiri sampai berumur 13 tahun, Karena melihat ketekunan dan kepribadian anaknya, maka dengan penuh semangat, orang tuanya kemudian menyerahkan Ibrahim Musa untuk menuntut ilmu ke beberapa ulama lain di Minangkabau. Ulama-ulama Minangkabau yang dikunjunginya untuk menuntut ilmu adalah Syekh Mata Air di Pakandangan. Dengan Syekh Mata Air ini, Ibrahim Musa Parabek belajar ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf (Matan Bina) selama tebih kurang satu tahun. Kemudian ia belajar juga kepada Tuanku Angin di Batipuh mengenai Ilmu Fiqh dan Matan Bina selama satu tahun. Setelah itu, belajar kepada Syekh Abdul Shamad di IV Angkat Candung (Biaro). Bersama Syekh Abdul Shamad ini, Ibrahim Musa belajar mengenai Tafsir Al-Qur'an. Selanjutnya, ia belajar pada Syekh Jalaluddin Al-Kusai di Sungai Landai selama satu tahun dan kemudian pindah ke Talago untuk belajar pada Syekh Abdul Hamid selama dua tahun. Sebuah perjalanan keiimuan dengan segala dinamika perspektif dalam melihat "tubuh ajaran Islam itu sendiri", kelak membuat Ibrahim Musa menjadi ulama dengan memiliki kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dalam melihat perbedaan. Sehingga tidaklah mengherankan kelak Ibrahim Musa dikenal sebagai ulama yang ahli dalam ilmu Fiqh, ilmu Alat (Bahasa Arab), Tafsir Hadits, Tajwid, Qiraat dan yang paling menonjol adalah kemampuan beliau dalam bidang kajian Ushul Fiqh dan Ilmu Nahwu Sharaf. Kepulangan Ibrahim Musa disambut dengan antusias dan penuh harapan oleh masyarakat Parabek. Masyarakat Parabek menginginkan kepulangannya memberikan perubahan yang berarti bagi kondisi keagamaan di nagari ini. Sebagai langkah awal, Ibrahim Musa mengadakan pengajian secara berhalaqah. Pengajian yang diadakannya ini makin lama makin berkembang. Banyak murid-murid yang berdatangan dari luar daerah Parabek untuk belajar seluk beluk agama Islam kepada ulama berpenampilan tenang ini. Ibrahim Musa masih merasakan kekurangan ilmu pada dirinya. Untuk itu, pada tahun 1914 beliau berangkat kembali ke Mekkah bersama istrinya Syarifah Gani dan anaknya Thaher Ibrahim. Mereka bermukim di Mekkah selama dua tahun. Setelah mereka pulang, Ibrahim Musa kembali menata pengajian yang telah dirintisnya sebelum berangkat ke Mekkah untuk kedua kalinya. Sejak kepulangan dari Mekkah yang kedua kalinya inilah gelar Syekh dilekatkan pada Ibrahim Musa atau dengan panggilan yang lebih populer ketika itu dengan panggilan Syekh Ibrahim Musa Parabek atau Inyiak Parabek. Hampir 20 tahun, Ibrahim Musa menuntut ilmu kepada beberapa orang ulama di Minangkabau kala itu. Akan tetapi hal ini tidak membuatnya puas. Akhimya beliau melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekkah pada tahun 1901 (1320 H) bersama kakaknya Abdul Malik. Disana ia bersama kakaknya belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, seorang ulama kharismatik asal Minangkabau yang kemampuan keilmuannya dibidang agama Islam diakui di Jazirah Arabia terutama di Mekkah. Melalui ulama yang tidak pernah mau pulang ke daerah asalnya di Minangkabau inilah Ibrahim Musa belajar tentang Ilmu Fiqh mazhab Syafii. Setelah belajar Fiqh dengan "mahaguru pembaharu Islam modemis Minangkabau awal abad ke-20" ini Ibrahim Musa kemudian melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu. Ulama yang ditemuinya adalah Syekh Muhammad Djamil Djambek. Dengan Syekh Muhammad Djamil Djambek ini, ia belajar tentang seluk beluk Ilmu Falaq. Selanjutnya belajar kepada Syekh Mukhtar AI-Jawi dan Syekh Yusuf Al-Hayat. Setelah berada di Mekkah selama 7 tahun, Ibrahim Musa kembali ke kampung halamannya. Syekh Ibrahim Musa Parabek memiliki beberapa orang istri, salah satu diantaranya adalah H. Syarifah Gani yang mendampinginya hingga ia wafat pada tahun 1963. Dari perkawinannya dengan beberapa orang istrinya, Syekh Ibrahim Musa Parabek dikarunia beberapa orang anak, diantaranya : Thaher Ibrahim (Pensiunan Departemen Perdagangan RI), Muhammad Thaib Ibrahim, Maryam Ibrahim dan lainnya. Dalam mengarungi bahtera kehidupan, para istrinya tidak menuntut begitu banyak secara ekonomi kepada Syekh Ibrahim Musa Parabek, karena Syekh Ibrahim Musa Parabek hampir seluruh waktunya berkutat pada dakwah dan gerakan pendidikan Islam yang secara ekonomis sangat tidak menjanjikan. Biasanya, keluarga para istrinya membantu dengan modal agar kesulitan ekonomi tidak begitu dirasakan. Diskusi mengenai Syekh Ibrahim Musa Parabek, kita tidak bisa melepaskan dari lembaga yang bernama Sumatera Thawalib Parabek. Lembaga ini sangat identik dengan Syekh Ibrahim Musa Parabek sebagaimana identiknya HAKA dengan Sumatera Thawalib Padang Panjang atau Rahmah el-Yunusiy dengan Diniyah Putri Padang Panjang-nya. Syekh Ibrahim Musa Parabek merupakan ulama yang tidak terfokus kepada dakwah semata, akan tetapi beliau memiliki kesadaran bahwa melahirkan pilar-pilar penyelamat Islam hanya bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan. Secara historis, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek berasal dari perkumpulan beberapa orang murid di Surau Parabek. Perkumpulan ini diberi nama Muzakaratul Ikhwan. Sebuah nama yang timbul dari pertemuan rutin dan berkala diantara para murid dibawah bimbingan Syekh Ibrahim Musa Parabek sekali seminggu. Karena kegiatan murid-murid ini makin hari makin bertambah intens dan diikuti oleh banyak murid, maka perkumpulan ini berobah menjadi Sumatera Thawalib setelah terinspirasi dengan berdirinya Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Maka pada tanggal 21 September 1921, surau Parabek yang memakai sistem belajar secara konvensional dan konservatif (sistem halaqah) dirubah menjadi sistem berkelas atau klasikal. Berdirinya lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas pelajar. Untuk itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek membuka sistem muzakarah atau diskusi secara sistematis agar murid kelak mampu hidup mandiri dan mampu untuk secara dinamis mengeluarkan pendapat dengan disertai argumen yang argumentatif. Sistem ini merupakan sistem "yang mendahului zaman" ketika itu. Sistem konvensional atau konservatif yang menekankan belajar satu arah, oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek diberi improvisasi dengan sistem muzakarah diatas. Disamping itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga mentradisikan latihan olah raga, mengajar murid-murid dalam manajemen dan kewiraswastaan melalui koperasi dan membuat perpustakaan untuk mengkondisikan agar murid-murid rajin membaca. Untuk memperkuat kemampuan argumentasi murid lembaga Sumatera Thawalib Parabek ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga membuka debating club, sebagai wahana murid-murid memberikan apresiasi terhadap perbedaan-perbedaan pendapat. Kemudian Syekh Ibrahim Musa Parabek juga meningkatkan pengembangan potensi para murid Sumatera Thawalib Parabek dibidang estetika dengan membentuk grup fonil atau sandiwara. Syekh Ibrahim Musa Parabek juga menanamkan kepada murid-­muridnya untuk tidak taqlid pada satu mazhab saja. Tidak menganggap sebuah perspektif sebagai perspektif yang paling benar. Syekh Ibrahim Musa Parabek mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak memakai "kaca mata kuda". Dalam setiap kesempatan, Syekh Ibrahim Musa Parabek selalu mengatakan "ambillah yang lain sebagai studi perbandingan". Ini tersirat sebuah anjuran bahwa pendapat yang kita miliki harus kita pertahankan secara argumentatif, sedangkan pendapat lain tidak harus kita mentahkan, akan tetapi harus kita jadikan sebagai perbandingan karena dari pendapat tersebut kita bisa belajar tentang kelebihan dan kekuranagan pendapat kita, demikian kata Syekh Ibrahim Musa Parabek. Dalam proses pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek, Syekh Ibrahim Musa Parabek langsung mengontrol perkembangan lembaga pendidikan ini. Ia berkeinginan agar para murid-muridnya serius dalam mengikuti pelajaran, oleh karena itu secara kelembagaan, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib harus "serius" pula dalam mengelola lembaga ini. Secara kuantitas, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib tidak disangsikan lagi. Banyak murid-murid yang berdatangan ke Parabek untuk menuntut ilmu. Ketenangan dan keterkenalan ilmu dan pribadi Syekh Ibrahim Musa Parabek menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menarik para murid-murid untuk belajar di lembaga ini. Secara kualitas, Sumatera Thawalib Parabekpun cukup baik. Hal ini terlihat dari output lembaga pendidikan ini yang mampu melahirkan ulama-ulama besar seperti Prof.DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Mantan Ketua MUI dan ulama besar Indonesia, Mansoer Daud Dt. Palimo Kayo (Mantan Ketua MUI Sumatera Barat), Tamar Jaya (Pengarang religius terkenal), HM. Yunan Nasution (Tokoh Muhammadiyah, Muballigh Nasional clan mantan Ketua Majelis Dakwah Islamiyah), Adam Malik (Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia) dan banyak lagi tamatan dari Sumatera Thawalib Parabek yang "menjadi orang", minimal dikampung halaman mereka. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, Sumatera Thawalib Parabek berusaha untuk cenderung beradaptasi dengan perkembangan zaman selagi tidak mencabut substansi dan filosofi lembaga tersebut. Dalam perjalanannya, lembaga Sumatera Thawalib Parabek telah mengalami berbagai perubahan dan adaptasi sistem pendidikan. Tujuan dari adaptasi dan perubahan sistem pendidikan ini adalah agar output lembaga ini mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan tantangan dari lingkungan dan zamannya. Sebagaimana yang telah dipaparkan secara ringkas diatas, pada awalnya sistem pendidikan di Sumatera Thawalib pada awalnya berbentuk sistem halaqah (duduk berapak dalam istilah Minangkabau) yaitu duduk bersila melingkari guru. Sistem ini berlangsung sampai tahun 1921. Pada tanggal 21 September 1921, sistem ini dirobah menjadi sistem klasikal, sekaligus menetapkan secara resmi surau Parabek menjadi Sumatera Thawalib Parabek. Rentang waktu belajar­pun tidak ditetapkan secara konvensional (tamat apabila guru yang mengajar menganggap murid sudah pandai) akan tetapi ditetapkan berdasarkan rentang waktu dan tingkat kelas. Pada awalnya, lama belajar di Sumatera Thawalib Parabek ditetapkan selama 8 tahun, kemudian dirobah menjadi 7 tahun. Pendidikan terdiri atas dua jenjang pendidikan, yaitu tingkat Tsanawiyah dengan tahun ajaran selama 4 tahun dan tingkat 'Aliyah selama 3 tahun. Pada tanggal 16 Oktober 1940 sebagai lanjutan dan pengembangan dari Sumatera Thawalib, didirikan Kulliyah Ad-Diniyah yang bertahun ajaran selama 4 tahun. Hal ini hanya berlangsung sampai tahun 1943. Kemudian secara berangsur-angsur, Kulliyah Ad-Diniyah menciut dan menghilang, akan tetapi namanya tetap melekat yang kemudian dipakai kembali. Pada tahun 1950 hingga 1979, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dirobah menjadi 4 tahun pertama disebut tingkat Tsanawiyah dan 3 tahun kedua disebut Kulliyah A-Diniyah. Sejak tahun 1979, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek mulai berintegrasi secara terbatas dengan Madrasah Negeri. Syekh Ibrahim Musa Parabek dalam "posisi"nya sebagai salah seorang yang dianggap sebagai ulama pembaharu di Minangkabau dan salah seorang yang diletakkan dalam kubu "Kaum Muda" lebih menitikberatkan pembaharuan Islam melalui media pendidikan dan oposisi terhadap tarikat. Beliau beranggapan bahwa pembaharuan Islam akan bisa dilaksanakan apabila pemikiran harus diperbaharui terlebih dahulu. Memperbaharui pemikiran bukan berarti merubah pola pikir secara keseluruhan, akan tetapi bagaimana umat Islam Minangkabau mampu menyerap semangat dan api Islam, bukan hanya terfokus kepada simbol-simbol. Maka jalan yang paling efektif untuk memperbaharui pemikiran tersebut adalah memperbanyak kalangan terdidik. Untuk itu, untuk mewujudkan hal ini menurut Syekh Ibrahim Musa Parabek, media pendidikan memegang posisi penting. Untuk mensosialisasikan pemikiran-pemikirannya, Syekh Ibrahim Musa Parabek menggunakan media tulis berupa majalah Al-Munir. Dalam majalah ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek mengasuh rubrik tentang tanya jawab. Disamping menggunakan media tulis, beliau juga melaksanakan dakwah keliling. Mengenai substansi pembaharuan Islam, walaupun secara eksplisit Syekh Ibrahim Musa Parabek menyatakan tidak setuju bila gerakan pembaharuan dikaitkan atau diidentikkan dengan pemikiran­-pemikiran Muhammad Abduh, namun secara implisit bila dilihat dari sistem pengajaran di Sumatera Thawalib Parabek terutama buku-buku yang dipakai dan yang diajarkan kepada para murid, jelaslah beliau cenderung memberikan apresiasi yang cukup besar terhadap pemikiran ulama Timur Tengah tersebut. Buku-buku karangan Muhammad Abduh seperti Risalah Tauhid dan Tafsir AI-Manar menjadi bacaan favorit dan bahkan menjadi bacaan yang dianjurkan di lembaga yang beliau pimpin. Agaknya yang tidak disetujui oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek terhadap pemikiran Muhammad Abduh terletak pada radikalisasi gerakan atau aksi yang dijalankan di Mesir sebagai pengejawantahan pemikiran Muhammad Abduh ini. Syekh Ibrahim Musa Parabek, sebagaimana yang telah disinggung diatas, merupakan ulama yang cukup kompromis mengenai prinsipnya dalam beragama selagi tidak menggerogoti pondasi kunci agama atau dalam istilah lain, tidak menggoyahkan tauhid umat Islam. Syekh Musa Ibrahim Parabek pada prinsipnya tidak menginginkan adanya pertentangan tajam antara Kaum Muda dengan Kaum Tua. la selalu mengatakan bahwa pendapat orang lain belum tentu salah, seandainya pendapat orang lain tersebut salah, maka kita bisa mengambilnya sebagai bahan perbandingan untuk melihat dan memperkuat keyakinan kita bahwa pendapat kita adalah benar. Atau sebaliknya, mengambil pendapat orang lain untuk melihat kesalahan-­kesalahan yang terdapat da1am pendapat kita. la berusaha mampu berdiri "netral" diantara dua kubu ini, walaupun sebenarnya beliau berada dalam kubu Kaum Muda. Dalam wadah organisasl Kaum Muda, Syekh Ibrahim Musa Parabek punya peranan yang cukup signifikan sebagai inti wadah organisasi Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) yang bercita-cita untuk memajukan pendidikan Islam dan mengangkat derajat guru agama. Disamping itu, beliau dikenal sebagai ulama yang oposisi terhadap tarikat. Dalam perspektifnya, tarikat potensial mengkondisi­kan timbulnya kemandegan dalam ajaran Islam. Tariqat dianggap mampu melahirkan sifat syirik dalam ritual ibadat. Dalam konteks ini, ia memformulasikan gerakan pembaharuan Islamnya kedalam tiga formulasi, yaitu : Mengadakan pengajian dengan cara pemecahan persoalan-­persoalan agama, dalam hal ini juga mencakup soal ibadah dan muamalah. Somber utama untuk melakukan pemecahan persoalan-persoalan agama tersebut adalah AI-Qur"an. Mengadakan diskusi-diskusi atau muzakarah sekali seminggu dan acara ini dihadiri oleh masyarakat Parabek. Mengadakan musyawarah antara alim ulama dan cerdik pandai se-Banuhampu untuk menetapkan beberapa hukum tentang perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada syiri'. Sebagai seorang ulama pembaharu, Syekh Ibrahim Musa Parabek dikenal sebagai ulama yang rajin menulis terutama tentang gerakan pembaharuan Islam khususnya "jawaban" Islam terhadap perkembangan dan praktek Islam di Minangkabau. Tulisan-tulisan beliau berserakan di Majalah Al­-Munir.

Minggu, 28 Oktober 2012

Biografi Syekh Batu Hampar

Dalam sejarah pendidikan Islam di Minangkabau, Surau merupakan institusi yang tidak bisa dikesampingkan. Surau memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menyebarkan keilmuan Islam jauh sebelum pendidikan modern yang berbasis Madrasah muncul. Dalam sejarah tercatat, tokoh-tokoh besar yang mempunyai pengaruh luas banyak lahir dari Surau. Mereka dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Surau. Sebutlah beberapa nama seumpama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) yang pernah menjadi Mufti mazhab Syafi’i dan Imam di Mesjid al-Haram Mekah; Syekh Thahir Jalaluddin yang menjadi Mufti di Pulau Penang Malaysia; Syekh Janan Thaib yang menjadi guru besar pula di Mekah al-Mukarramah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula tokoh-tokoh nasional yang berjasa dalam masa awal pembentukan Indonesia, semisal Agus Salim, Hamka, Hatta dan lainnya. Ketokohan mereka tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari Surau, atau boleh dikata pernah beroleh pendidikan di Surau.

Untuk memperoleh gambaran sebuah komplek pendidikan surau di abad-abad yang lalu di Minangkabau, kita akan melihat aktifitas surau besar yang didirikan oleh Syekh Abdurrahman (1777-1899), yaitu surau Batu Hampar, Payakumbuh.

Syekh Batu Hampar dan Jejak Biografis Tokoh abad XIX

Syekh Batu Hampar ialah salah seorang ulama terkemuka di pedalaman Minangkabau di abad XIX. Ulama besar nan shaleh itu ialah Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar, kakek dari poklamator RI, Muhammad Hatta. Tuan Syekh Batu Hampar ini disebut oleh orang banyak dengan panggilan “Beliau”, sebagai ta’zhim dan hormat akan ulama kharismatik ini, sebab bila disebut nama Beliau secara langsung terasa akan kurang adab. Menurut Tarikh-nya Beliau dilahirkan pada tahun 1783. Ayah Beliau Abdullah gelar Rajo Baintan, sedang ibu beliau dikenal dengan panggilan Tuo Tungga. Beliau dilahirkan dilingkungan yang taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan, kondisi inilah yang secara langsung membentuk kepribadian beliau yang shaleh dan cinta dengan ilmu, watak ini pula yang diwarisi oleh keturunan Tuan Syekh Batu Hampar dikemudian hari, tercatat anak cucu beliau merupakan Syekh belaka.

Pengembaraan Beliau menuntut ilmu di mulai pada usia yang masih beliau. Tepat di umur 15 tahun, Beliau meminta izin kepada ayahnya untuk pergi merantau menuntut ilmu ke Gologandang di daerah Batu Sangkar. Beliau-pun berangkat ke Batusangkar untuk menemui seorang ulama yang terkemuka masa itu, “Beliau Gologandang”. Syekh Abdurrahman menghabiskan beberapa tahun menuntut ilmu kepada ulama besar ini. Konon kabarnya, Syekh Abdurrahman pergi ke Gologandang dengan membawa tas rotan yang berisi pakaian, sebuah buntil berisi beras, satu leha (untuk mengaji) dan uang 6 sen yang diberikan orang tuanya untuk bekal selama berjalan.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Gologandang, kemudian Beliau berangkat ke tempat yang lebih jauh lagi. Dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan yang memang sulit, Syekh Abdurrahman pergi ke Tapak Tuan – Aceh Barat untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Di sini Syekh Abdurrahman menghabiskan waktu selama 8 tahun, menuntut ilmu agama. Dari Tapak Tuan, Beliau berlayar ke Mekkah untuk mengerjakan Haji dan menambah ilmu yang lebih tinggi lagi. Di Mekkah, Beliau sempat bermukim menuntut ilmu selama 7 tahun. Di sini pula beliau belajar Tarikat Naqsyabandiyah, dan mendapat ijazah di Jabal Abi Qubais. Syekh Abdurrahman pula kembali ke Aceh, kemudian pergi lagi ke Mekkah. Pada akhirnya beliau kembali pulang ke Minangkabau.


Foto: salah satu "Ijazah Qira'at Imam Ashim" yang diterima oleh seorang Siak (Penuntut) yang bernama Usman bin Abdullah at-Taifuri, diterimanya dari Syekh Arsyad Batu Hampar, diterima dari Syekh Abdurrahman Batu Hampari, beliau terima dari Syekh Muhammad As'ad bin Abdullah Aceh

Lama sudah Syekh Abdurrahman meninggalkan kampung halaman, terhitung sudah 48 tahun semenjak beliau berangkat menuntut ilmu pertama kalinya di usia 15 tahun. Selama masa 48 tahun itu pulalah beliau menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkemuka saat itu, sampai ke negeri yang jauh-jauh, Mekkah al-Mukarramah. Di usia-nya yang ke-63 tahun beliau teringat kampung halamannya, Batu Hampar, negeri yang telah lama ditinggalkannya. Sedang beliau telah lama mengaji, dada beliau-pun telah berisi penuh dengan ilmu pengetahuan. Beliau kemudian pulang ke kampung halamannya melewati jalur Galogandang tempat beliau mengaji dulu. Di sebuah perkampungan, di negeri Barulak Tanah Datar, Beliau bertemu dengan seorang sosok perempuan tua yang sedang mengambil upah menuai padi di sawah-sawah sekitar itu. Ternyata Syekh Abdurrahman tak ingat lagi jalan ke Batu Hampar, karena sudah sangat lama ditinggalkannya, lalu bertanya kepada perempuan tua itu. Setelah bertanya dan bercakap-cakap sebentar dengan perempuan itu, keduanya saling berpandangan lama. Tiba-tiba mereka saling berpelukan dengan berlinang air mata, menangis tersedan-sedan, karena ternyata mereka adalah anak dan ibu. Kala itu si ibu sedang mencari nafkah hidup dengan pergi menuai padi ke negeri yang jauh dari Batu Hampar. Si anak, karena sudah lama sekali merantau, tak tahu lagi jalan ke rumah orang tuanya, begitupun beliau tidak dapat mengenal ibunya dengan segera. Si ibu sudah mengira selama ini anaknya telah tiada dan tak diharapkan lagi pula. Tiba-tiba kini mereka telah berjumpa, begitu mengharukan. Akhirnya beliau ajak ibunya untuk pulang bersama ke Batu Hampar. Kabarnya Beliau sendiri yang menjujung beban-beban padi ibunya itu dari Barulak terus hingga sampai di kampungnya Batu Hampar.

Mula-mula Beliau bersama ibunya tinggal menetap di kampungnya yang terletak di lereng bukit antara bukit Pauh dan bukit Sulah di Batu Hampar. Kerja Beliau pertama kali di kampungnya ialah membuat ladang tebu dimana sering anak-anak gembala datang ke tempat Beliau. Sesuai dengan sifat pribadi Beliau yang ramah tamah, maka anak-anak gembala itu Beliau pergauli secara baik. Mereka sering kali datang untuk meminta atau membeli tebu obat haus dahaga mereka setelah mengembala. Mereka Beliau beri tebu dan sering berucap: “tebu-tebu itu semakin manis rasanya jika lebih dahuli membaca Basmallah sebelum memakannya”. Dengan keramah tamahan itulah Beliau meresapkan rasa beragama kepada anak-anak gembala itu. Dengan sikap dan cara beliau itulah, tak heran jika dibelakang hari beliau didatangi oleh ribuan orang-orang siak dari berbagai daerah.

Pekerjaan berat yang mula-mula beliau lakukan ialah membina masyarakat banyak, dan menyadarkan mereka untuk mengerjakan perintah syara’ dengan sebaik-baiknya. Walaupun masyarakat waktu itu telah beragama Islam, namun yang namanya berbuat maksiat masih juga dikerjakan. Menyabung ayam dan berjudi menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging, bahkan kalangan adat-pun ikut menyokong perbuatan-perbuatan seperti itu. Dengan rasa simpati, wibawa serta cara beliau yang persuasif, beliau berhasil menjalankan pekerjaan menegakkan agama dengan sukses. Beliau mampu menyadarkan tetua adat di kampung itu, Datuak Malano. Melihat Dt. Malano yang telah pergi ke Mesjid untuk shalat jum’at, maka berbondong-bondonglah anak kemenakannya dan masyarakat banyak mengikuti beliau pergi ke Mesjid. Begitupula dengan acara adu ayam dan berjudi yang telah populer itu, secara beransur-ansur mulai di tinggalkan, sampai tidak dikerjakan lagi. Kesuksesan Syekh Abdurrahman melaksanakan dakwahnya terletak pada kelembutan beliau, himbauan yang persuasif, tidak melalui kekerasan sama sekali dan dakwah beliau menyinap ke hati yang paling dalam. Apatah lagi beliau selaku ulama besar, keilmuan dan keshalehan beliau tentu menjadi modal dasar arah dakwah beliau.

Syekh Abdurrahman semakin terkenal oleh masyarakat banyak dan mendapat tempat di hati mereka. Beliau-pun semakin dihormati selaku orang alim, namanya semakin harum hingga daerah-daerah di luar Batu Hampar. Beliau yang berperawakan tinggi dan tegap, kulit kuning bersih. Jubah dan sorban beliau yang selalu terpasang rapi menandakan keulamaan.
Syekh Abdurrahman wafat pada tanggal 23 oktober 1899, dalam usia 122 tahun. Beliau ulama yang berjasa besar terhadap Islam, hingga ke daerah-daerah jauh di Minangkabau. Dedikasinya untuk mendidik orang siak memang tak ternilai. Posisi beliau dalam mengajar ilmu al-Qur’an, Syari’at dan Tarikat Naqsyabandiyah sangat istimewa. Beliau telah meninggalkan kompleks penguruan Islam yang besar di masanya, orang-orang siak yang menjadi muridnya yang selalu menjadi perpanjangan tangan beliau setelah wafatnya dan beliaupun telah meninggal anak-anak cucu yang telah berhasil dididik menjadi orang-orang shaleh dan taat untuk menggantikan Beliau nantinya. Dan nama Beliau akan tetap abadi, sebagai tertera pada cap stempel besi dan ijazah Beliau, tersuratlah nama besar “Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al Khalidi an-Naqsyabandi al-Jawi Batu Hampari”.
 
 Surau Batu Hampar dan Model Ideal Pendidikan Surau Minangkabau

Pada mulanya Syekh Abdurrahman membangun sebuah surau untuk mengajarkan ilmu agama yang telah puluhan tahun beliau tuntut. Pelajaran yang mula beliau berikan ialah Tilawah al-Qur’an, sebab Beliau sangat mahir Qira’at dengan bermacam-macam iramanya, maka banyaklah masyarakat berdatangan ke surau Beliau, dari semua kalangan tua muda belajar membaca al-Qur’an dengan berbagai model pelafalan dan alunan irama yang syahdu. Selain itu, pelajaran yang Beliau beri juga diawali dengan dasar-dasar pengetahuan agama, dimulai dengan mengkaji rukun tiga belas (rukun-rukun shalat) dan segala hal yang berhubungan dengan ibadah, kemudian dikaji pula tauhid dengan mendalami sifat dua puluh.

Nama Syekh Abdurrahman semakin masyhur kemana-mana, sehingga makin banyaklah jumlah orang siak yang datang ke Batu Hampar, buat mengaji kepada Tuan Syekh. Orang siak ini datang dari seluruh wilayah Minangkabau, sampai ke negeri yang jauh-jauh, seperti Jambi, Bengkulu dan Bangka Hulu. Sedangkan rumah-rumah penduduk telah penuh sesak dihuni oleh oleh orang-orang siak sebelumnya. Maka muncullah inisiatif Syekh Abdurrahman buat membangun sebuah kompleks yang khusus dihuni oleh orang-orang siak, kompleks tersebut dikenal dengan “Kampung Dagang”. Beberapa bangunan induk dan berpuluh-puluh surau di bangun mengelilinginya.

Bangunan induk yang terpenting ialah mesjid besar dengan gaya arsitektur Minangkabau, terbuat dari kayu yang ada pula berukir-ukir, gonjongnya bertingkat-tingkat. Di sini Syekh Abdurrahman mengajar al-Qur’an dan mengajar perkara-perkara agama kepada murid-muridnya yang silih berganti. Mesjid ini dikenal dengan nama “Mesjid Dagang”. Bersebelahan dengan Mesjid, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar, bertingkat dua, itulah bangunan tempat melaksanakan Suluk, kabarnya sewaktu itu peserta suluknya pernah mencapai jumlah 400 orang dalam setahun. Persis di sebelah timur Mesjid ini dibangun sebuah bangunan permanen dengan sebuah menara yang cukup menarik, dengan gaya menara khas timur tengah. Menara ini dibangun di masa Syekh Arsyad, anak Beliau, yang dipergunakan untuk mengumandangkan azan. Di sebelah timur menara itu terdapat bangunan permanen lain, di sinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan. Sebuah bangunan lagi yang menjadi daya tarik dan simbol kejayaan Batu Hampar kala itu ialah sebuah rumah gadang yang cukup besar, didirikan diatas kolam. Rumah gadang ini menjadi tempat penginapan para penziarah, pejalan kaki yang kemalaman atau masyarakat yang hendak beribadah selama berbulan-bulan di Batu Hampar.
Foto: Salah satu sudut Kampung Dagang (Surau Batu Hampar), khas dengan gaya ornament Timur Tengah, yang dibangun di era 1920-an oleh Syekh Arsyad Batu Hampar setelah kepulangannya dari berpetualang di Timur Tengah.

Lebih kurang 200 meter ke arah timur, diseberang jalan raya yang membatasi perkampungan itu, terdapat satu bangunan induk lainnya yaitu “surau Baru”. Disekitar bangunan-bangunan induk inilah berdiri lebih kurang 30 surau yang rata-rata berukuran 7x8 meter, umumnya bertingkat dua. Di surau-surau inilah para orang-orang siak yang ramai itu bertempat tinggal dan mengualang pelajarannya dengan guru-guru tuo (guru-guru bantu Syekh Abdurrahman). Surau-surau ini diberi nama sesuai dengan asal daerah orang siak yang menghuninya. Untuk daerah Limapuluh Kota ada surau Mungka, surau Tiakar, surau Payobasuang, surau Suayan, surau Sarik Laweh, surau Taeh, surau Koto nan IV, surau Sungai Beringin, surau Suliki, surau Sungai Rimbang, surau Pauh Sangik, surau Tiakar Guguk, surau Lundang dan surau Pangkalan; untuk daerah Agam ada surau Canduang, surau Sungai Angek, surau Tilatang Kamang, surau Banuhampu, surau Magek, surau Padang Tarab dan surau Lasi; untuk daerah Solok ada surau Saniangbakar, surau Kacang dan surau Solok; untuk daerah Tanah Datar ada surau Simabur dan surau Batipuah; untuk daerah Pesisir Selatan ada surau Bayang, surau surau Painan, surau Batang Kapas dan surau Siguntur; untuk daerah Pariaman ada surau Pariaman; untuk daerah Padang ada surau Padang; untuk daerah Riau dan Jambi ada surau Limo koto; dan untuk daerah Palembang dan Bengkulu ada surau Palembang dan surau Krui.

Untuk mengurus administrasi dan kebutuhan orang-orang siak yang sangat banyak tersebut, maka Syekh menunjuk petugas-petugas khusus untuk membidangi segala sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang siak. Hal ini bertujuan agar pesuluk dan orang-orang siak tidak terbebani dengan urusan-urusan yang dapat mengganggu kosentrasi beribadah dan belajarnya. Diantara hal-hal yang kelola oleh petugas-petugas itu ialah untuk membangunkan orang-orang siak di waktu Subuh, tukang sapu dan menjaga kebersihan, tukang kelola air bersih, tukang masak untuk orang-orang siak, tukang masa bagi pesuluk, tukang kelola alat-alat dapur dan tukang simpan bahan-bahan makanan. Dengan adanya petugas-petugas khusus ini membuat orang-orang siak menjadi semakin betah belajar dan melaksanakan ibadah suluk, sebab makan telah tersedia begitupula kebersihan surau masing-masih telah pula terjaga, sehingga hati penghuni surau besar Batu Hampa ini benar-benar bulat tertuju untuk belajar agama dan ibadah.

Sedang keperluan air bersih telah diusahakan oleh Syekh sendiri, yaitu dengan mengalirkan air dari sebuah mata air yang tidak jauh dari kompleks surau. Air itu dialirkan dengan pipa-pipa besi dan melewati 4 bak penyaring, kemudian disalurkan ke surau-surau tempat orang-orang siak bermukim. Air-air itu membuat sarana surau Baru Hampar semakin lengkap. Dengan air itu orang-orang siak dapat mencukupi kebutuhan mandi dan mencuci. Disamping itu, tak ketinggalan dikompleks surau sendiri dilengkapi dengan sebuah pasar kecil dan beberapa kedai kelontong yang menjual segala kebutuhan orang-orang siak.

Kedisiplinan sangat dituntut bagi penghuni-penghuni surau. Tata tertib dan peraturan sangat dipentingkan. Bagi mereka yang melanggar akan dikenai sangki berupa hukum rendam. Seorang santri yang melanggar direndam di dalam kolam yang telah disediakan dengan disaksikan oleh orang-orang siak lainnya. Hal ini kontan saja secara praktis membuat penghuni kompleks surau Batu Hampar menjadi aman, sebab hampir-hampir tak ada yang melanggar kedisiplinan. Semua sistem diatur dengan sebaik-baiknya, maka dapat dipastikan model surau Batu Hampar ialah salah satu contoh tipikal pendidikan Islam yang bermutu tinggi dan paling baik.

Cara pengajaran yang dikenal dengan itu sesuai dengan cara surau ialah berhalaqah, murid-murid hadir mengelilingi guru. Menyimak serta mendengarkan penjelasan Syekh. Untuk membantu mengulang pelajaran, maka orang-orang siak akan dibimbing oleh “guru-guru tuo”, yaitu sejumlah orang-orang siak yang senior yang telah cakap dalam pelajaran dan sudah beberapa lama mengaji kepada Syekh. Para orang siak-pun tak dipungut bayaran sepeserpun. Namun mereka secara berkala, dan dengan sukarela memberikan shadaqah kepada sang Syekh. Ada pula dari penziarah dan pesuluk yang datang cukup banyak dari negeri yang jauh-jauh, mereka telah menyediakan sadakah untuk syekh jauh-jauh hari, dengan ikhlasnya. dari pemberian sukarela orang-orang siak dan para penziarah telah mebuat kehidupan sanga Syekh menjadi mapan, lebih dari cukup. Bahkan sang syekh dapat pula dengan hasil sadaqah itu mengantar anak-anaknya pergi ke Mekkah untuk berhaji dan belajar agama, sehingga tercatat anak cucunya dikemudian hari merupakan ulama terkemuka yang belajar ke Mekkah. Dengan hasil sadaqah itu pulalah kehidupan kompleks surau Batu Hampar menjadi semakin makmur, para petugas komplek dibiayai dengan itu, juga makan orang siak dan kebutuhan hidup mereka dapat di tanggung pihak surau dengan baik. Selain itu, sang Syekh juga mempunyai beberapa piring sawah dan beberapa kebun kelapa, yang itu semua digunakan untuk kemakmuran surau Besar Batu Hampar dan para penghuninya.
Orang-orang siak seluruhnya laki-laki, jumlah mereka diperkirakan 1000 sampai 2000 orang, termasuluk para pesuluk yang terdiri dari ratusan orang. Jumlah tertinggi di masa kepemimpinan Syekh Arsyad, anak Beliau, dan di masa Syekh Arifin, cucu Beliau. Sebuah jumlah yang cukup fantastis. Maka dapat dibayangkan betapa meriahnya suasana surau Syekh Abdurrahman kala itu, di mana ribuan orang-orang belajar agama, tampak betapa pendidikan Islam ala surau terasa sangat hidup di Luak nan Bungsu. Jika malam hari, suasana semakin asyik dan semarak. Berpuluh-puluh damar menyala di surau-surau dan tiang-tiang penerang di kompleks surau Batu Hampar. Sekali-kali, sewaktu acara-acara penting jumlah-jumlah damar (lampu penerang) bertambah hingga ratusan banyaknya. Jika dilihat dari jauh tampak seperti kerumunan bintang-bintang, sangat indah dan menyenangkan. Apatah lagi setiap malamnya, alunan suara-suara merdu dan bacaan ayat-ayat al-Qur’an begemuruh di kerumunan cahaya-cahaya damar itu. Bunyinya ibarat dengungan lebah terbang, itulah suara orang-orang siak mendaras kaji dan membaca al-Qur’an, sakin banyaknya. Sangat ramai dan sangat semarak.

Di surau Besar Batu Hampar yang terkemuka itu, Syekh Abdurrahman dan anak cucunya mengabdikan diri untuk mendidik dan mengajar orang-orang siak dari berbagai daerah. Pelajaran pertama dan dasar diberikan kepada orang-orang siak itu ialah kecapakan tilawah al-Qur’an, terutama dalam Qira’at Imam ‘Ashim. Syekh Abdurrahman sendiri beberapa lama di Mekkah telah belajar Qira’at kepada Qari-qari terkemuka di tanah suci. Kemahiran beliau dalam soal Qira’at tidak dapat disangsikan lagi. Pelajaran al-Qur’an dengan segala macam Qira’at-nya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang siak untuk ramai mengaji di Batu Hampar. Setelah menamatkan al-Qur’an dan melakukan khatam al-Qur’an dengan acara yang cukup meriah, orang-orang siak akan diajarkan pelajaran-pelajaran agama yang lebih mendalam lagi, sesuai dengan peringkatnya masing-masing. Pelajaran selanjutnya mengenai ilmu-ilmu alat dan hukum syari’at, yang mencakup kajian bahasa Arab (Nahwu, Sharaf dan Balaghah), Tafsir, Hadist dan Fiqih Syafi’iyyah. Sedang untuk orang-orang siak yang telah mantap dalam ilmu-ilmu tersebut, dapat melanjutkan untuk mengaji ilmu Tarikat kepada Syekh, yang untuk selanjutnya mengikuti suluk dalam Tarikat Naqsyabandiyah selama beberapa hari. Bagi mereka yang telah sampai maqam suluknya, maka akan diberi sang Syekh ijazah sebagai tanda pengakuan akan ilmunya, dan orang siak diizinkan untuk pulang mengembangkan ilmu yang telah didapat atau tinggal bersama syekh untuk menjadi “guru tuo” sekaligus “khalifah” beliau.

Sebagai seorang ulama tua, Beliau Syekh Abdurrahman terbilang tipe ulama shaleh yang sangat dihormati dan disegani. Apatah lagi Beliau ialah Qari, alim pula dalam syari’at dan dalam pula fahamnya dalam bidang Tasawwuf dan Tarikat, maka Beliau jelas merupakan tipe ulama besar yang berpengaruh luas. Ini terlihat dari banyaknya orang-orang siak yang menyauk ilmu dari Batu Hampar, Beliau mampu menjadikan surau Batu Hampar menjadi pemukiman orang siak besar dari berbagai penjuru Minangkabau, ditambah pula dengan sistem administrasi yang sangat baik untuk masa itu.

Mengenai keshalehan Beliau yang masyhur itu, diusia yang lebih 100 tahun bilangannya, berbulan-bulan Beliau sakit tua terlentang berbaring diatas kasur disebuah kamar di belakang Mesjid beliau, sehingga dengan cara demikian beliau selalu shalat berjama’ah sambil berbaring menekurkan kepala, akhirnya dengan mengerdipkan mata saja tanpa tinggal waktu shalat satu waktupun sampai datang ajal Beliau. 11 tahun sebelum Beliau wafat, Beliau telah lumpuh total karena faktor usia sudah sangat tua, 111 tahun. Namun Beliau telah terlihat taat beribadah, tak terhalangi oleh fisik yang sudah lemah dan usia yang sudah renta. Jika waktu shalat telah tiba, maka murid-muridnya yang banyak itu menggotong beliau dengan tandu ke Mesjid untuk shalat. Begitu lah Beliau Batu Hampar.

Selaku ulama besar yang shaleh, beliau terkemuka pula dalam Tasawwuf, sebagai pengamal sekaligus Syekh Tarikat Naqsyabandiyah. Pada musim-musim suluk, disamping aktifitas mengaji yang terus dijalankan, surau Batu Hampar berubah menjadi pemukiman pesuluk yang jumlahnya ratusan orang. Dapat dikatakan bahwa surau Batu Hampar kala itu merupakan salah satu pusat Tarikat Naqsyabandiyah yang terbesar, terkemuka dan tertua di Luak nan Bungsu yang masih tercatat rapi oleh para ahli Biografi. Sampai saat sekarang, setelah usia surau yang kini menjadi Pesantren itu mendekati 2 abad lamanya, aktifitas suluk tetap menjadi daya tarik sendiri, dan ratusan orang masih mengerjakan khalwat di Batu Hampar setiap tahunnya.

Menurut cacatan Belanda yang ditulis J. C. Boyle, yang merupakan catatan Syekh-syekh Naqsyabandiyah di dataran tinggi Minangkabau abad-19, digambarkan sosok Syekh Abdurrahman sebagai seorang ulama besar yang sangat dihormati oleh masyarakat Banyak dan murid-muridnya ramai berdatangan dari berbagai penjuru.

Ribuan orang siak belajar kepada Syekh Batu Hampar, hingga menjadi alim semuanya. Merekalah yang pulang ke kampung masing-masing membuka surau pengajian yang tak kalah penting kedudukannya dalam transmisi keilmuan islam selanjutnya. Diantara murid-murid beliau yang terkemuka yang masih ditemui catatannya ialah :

1. Syekh Salim Batu Bara, dimasyhurkan orang dengan “Beliau Andalas”, termasuk murid Beliau periode pertama.
2. Syekh Abdus Shamad
3. Syekh Ibrahim Kubang Suliki.
4. Syekh Muhammad Arsyad, anak Beliau sendiri dan pengganti Beliau setelah wafatnya. Syekh Arsyad ialah alim terkemuka dan dapat dikatakan mewarisi keilmuan Syekh Abdurrahman. Pada mulanya Beliau ialah guru tuo di surau Ayahnya, kemudian pergi ke Mekkah untuk naik haji dan belajar. Pernah pula berkeliling timut tengah antara lain Mesir, Baitul Maqdis dan Istanbul.
5. Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (wafat 1927) Kumango – Batu Sangkar. Sangat masyhur dikalangan ahli Tarikat, digelari dengan “Beliau Kumango”. Beliau syekh Tasawwuf yang terkemuka, sampai pula belajar ke Mekkah dan Madinah. Termasuk salah satu pembawa dan penyebar Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Ulama perumus silat Tradisional yang kental akan Tasawwuf “Silek Kumango”. Masyhur keramat Beliau ditengah-tengah masyarakat.
6. Syekh Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1970), dimasa belianya beliau belajar al-Qur’an di surau Syekh Batu Hampar.
7. Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus Payakumbuh (wafat 1957), dimasyhurkan orang “Beliau Belubus”, ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah yang sangat berpengaruh di Luak nan Bungsu. Terkenal pula sebagai syekh yang keramat. Menurut catatan sejarah Beliau, gelar “Syekh Mudo” diberikan langsung oleh Syekh Abdurrahman Batu Hampar kepada Syekh Abdul Qadim, sebab dimasa muda belajar ke Batu Hampat telah dapat mencapai maqam yang tinggi dalam mengamalkan Tarikat Naqsyabandiyah.
8. dan banyak lagi lainnya. Kabarnya Syekh Abdullah “Beliau Halaban” pernah pula menyauk ilmu di Batu Hampar ini.

Setelah Tuan Syekh tersebut wafat, maka kepemimpinan surau Batu Hampar dipimpin kemudian oleh anak-anak cucu Beliau yang tak pula kurang alim-nya. Periode-periode kepemimpinan setelah Syekh Abdurrahman ialah :
1. Syekh Muhammad Arsyad (wafat 1924), anak Syekh Abdurrahman. Memimpin dari tahun 1899 hingga 1924. di masa Beliau ini perkembangan surau Syekh Abdurrahman semakin pesat, para orang siak makin berdatangan ke Batu Hampar.
2. Syekh Muhammad Arifin Arsyadi (wafat 1938), cucu Syekh Abdurrahman, anak dari Syekh Arsyad. Terkemuka sebagai salah seorang ulama besar Perti. Beliau memimpin surau Batu Hampar dari tahun 1924 hingga 1938. selain itu beliau juga mendirikan MTI Batu Hampar, yang juga ramai dikunjungi orang-orang siak.
3. Syekh Ahmad (wafat 1949), anak Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin surau dari tahun 1938 hingga 1949.
4. Syekh Darwisy Arsyadi (wafat 1964), cucu Syekh Abdurrahman, adik dari Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1952 hingga tahun 1964.
5. Syekh Dhamrah Arsyadi (wafat 1992), cucu Syekh Abdurrahman, adik Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1964 hingga 1992. di masa Beliau ini surau Batu Hampar di kembangkannya menjadi lebih modern dengan nama “Madrasah al-Manar”. Namun materi pelajaran tidak diobah-obah, dan Aktifitas Tarikat Naqsyabandiyah tidak pudar sama sekali.
6. Buya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), biasa dipanggil dengan gelar “Datuak Oyah”, cucu Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin Perguruan al-Manar dari tahun 1992 hingga sekarang. Disamping mengasuh perguruan, beliau juga memimpin suluk di Batu Hampar yang masih digemari hingga ratusan orang jumlahnya setiap tahun.